Sabtu, 04 April 2015

Buku Mengenal Demam dan Perawatannya pada Anak

Penulis        : dr.Lusia
Penerbit       : Airlangga University Press
ISBN           : 978-602-7924-86-4
Tahun terbit   : 2015
Bahasa         : Indonesia
Sampul         : Soft cover
Ukuran         : 15,8 x 23 cm
Jumlah Halaman : x, 123  hlm
 
Demam merupakan keadaan yang sering ditemui dalam kehidupan, terutama pada anak yang masih
rentan terhadap serangan berbagai penyakit.
Demam dapat berlangsung singkat atau berkepanjangan jika tidak ditangani secara cepat dan tepat yang dapat menimbulkan rasa tidak enak dan tidak nyaman bagi penderita bahkan kematian pada penyakit serius.
Orang tua dituntut memiliki ketenangan yang diperlukan dalam menghadapi dan menyikapi berbagai persoalan atau kejadian yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak dan kesehatan anak. Namun orang tua tidak bisa menganggap remeh setiap masalah yang ada tetapi, peduli, tenang dan tetap cermat.
Buku ini hadir untuk membantu orang tua untuk lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi keadaan demam pada anak sehingga dapat melakukan langkah-langkah penanganan yang terarah, cepat dan tepat.
Buku ini berisi tentang:
  • Suhu normal dan perubahan-perubahan harian suhu tubuh normal. 
  • Demam dan keadaan-keadaan yang sering dikaitkan dengan demam seperti: hipertermi, kejang demam , demam pascaimunisasi, dan demam pada waktu tumbuh gigi. 
  •  Pengukuran suhu dimana dijelaskan jenis-jenis termometer dan langkah-langkah secara sistematis menggunakan termometer. 
  • Bagaimana langkah penanganan demam di rumah dan kapan harus membawa anak ke dokter. 
  • Bagaimana mencegah anak menjadi sakit. 
  • Informasi seputar obat. 
  • Trik mudah memberikan obat kepada bayi dan anak yang lebih besar. 
  • Langkah-langkah pemberian berbagai macam sediaan obat. 
  • Cara mencuci tangan dengan baik dan benar menurut WHO.
Buku ini merupakan pegangan yang praktis dan sistematis yang perlu dibaca oleh para  orang tua terutama para ibu, mahasiswa kesehatan, petugas kesehatan (dokter, perawat dan bidan)  dan semua pembaca yang ingin meningkatkan pengetahuan di dalam masalah kesehatan anak terutama mengenai demam dan perawatannya pada anak.  

Dengan kehadiran buku ini semoga dapat membantu orang tua untuk lebih mempersiapkan diri jika menghadapi anak dengan demam. Selamat membaca!



  Belanja online 

beli buku di bukalapak.com/klik di sini 


Di Makassar, buku ini dapat diperoleh di:


Toko Buku Dunia Ilmu
Jl. Bulukunyi No. 8 (Baru 12)

Toko Buku Siswa
Jl. Mongisidi No.75

Toko Buku Arena Ilmu
Jl. Mongisidi  
 

Paria




Paria

Peria
Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
M. charantia
Momordica charantia

Tanaman ini berasal dari kawasan Asia Tropis, terutama daerah India bagian barat, yaitu Assam dan Burma.  namun belum dipastikan sejak kapan tanaman ini masuk ke wilayah Indonesia. Saat ini tanaman pare sudah dibudidayakan di berbagai daerah di wilayah Nusantara.
Nama Latin (istilah ilmiah): Momordica charantia, anggota suku labu-labuan atau Cucurbitaceae ini biasa dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai sayuran maupun bahan pengobatan. Nama Momordica yang melekat pada nama binomialnya berarti “ gigitan” yang menunjukkan pemerian tepi daunnya yang bergerigi menyerupai bekas gigitan.
Penyebutan nama tanaman di daerah-daerah atau nama lokal: Paria memiliki banyak nama lokal, di daerah Jawa disebut sebagai paria, pare, pare pahit, pepareh. Di Sumatera, paria dikenal dengan nama prieu, fori, pepare, kambeh, paria. Orang Nusa Tenggara menyebutnya paya, truwuk, paitap, paliak, pariak, pania, dan pepule, sedangkan di Sulawesi, orang menyebutnya dengan poya, pudu, paria, belenggede, serta palia.Ini menunjukkan tanaman ini sudah tersebar di pelosok daerah.
Inggris: bitter gourd atau bitter melon
Nama lain: African Cucumber, Ampalaya (Filipina), Karela (India), Balsam Pear, Balsam-Apple, Balsambirne, Balsamine, Balsamo, Bitter Apple, Bitter Cucumber, Bittergurke, Carilla Fruit, Carilla Gourd, Cerasee, Chinli-Chih, Concombre Africain, Courge Amere, Cundeamor.
Pemerian dan ekologi
Umumnya, pembudidayaan dilakukan sebagai usaha sampingan. Paria tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan, dibudidayakan atau ditanam di sawah atau pekarangan dengan dirambatakan di pagar. Pare ditanam sebagai penyelang pada musim kemarau. Tanaman ini tidak perlu cahaya matahari yang terlalu banyak sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindung. Pare tergolong tanaman semak semusim, yang hidupnya menjalar atau merambat, dengan sulur berbentuk spiral. Banyak bercabang, berbau tidak enak. Daunnya tunggal,bertangkai dan letaknya berseling,  berbulu, berbentuk lekuk tangan dengan panjang 3,5-8,5 cm, lebar 4 cm, berbagi menjari 5-7, pangkalnya berbentuk jantung serta warna hijau tua. Batangnya massif mempunyai rusuk lima, berbulu agak kasar ketika masih muda, namun setelah tua gundul, warna hijau.Bunga merupakan bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, mahkotanya berwarna  kuning muda. Buahnya buni, bulat memanjang,permukaan bergerigi warna hijau, kuning sampai jingga bila masak yang pecah dengan tiga daun buah, dan rasanya pahit. Biji keras, warna coklat kekuningan. Berbuah tanpa mengenal musim.
Kegunaan
Paria, memang bukan sayuran favorit karena rasanya yang pahit. Namun, tanaman ini sudah sejak lama dipakai oleh nenek moyang kita dan juga di Cina sebagai obat.
Di Negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Korea dan Cina, paria dimanfaatkan untuk pengobatan, antara lain sebagai obat gangguan pencernaan,perangsang nafsu makan, penyembuh sakit kuning,obat malaria, minuman penambah tenaga (tonikum), obat pencahar dan perangsang muntah, bahkan telah diekstrak dan dikemas dalam kapsul sebagai 0bat herbal/jamu.
Buahnya mengandung albuminoid, karbohidrat dan pigmen (zat warna).  Daunnya mengandung momordisina, momordina, karantina, resin, dan minyak lemak. Sementara itu, akarnya mengandung asam momordial dan asam oleanolat, sedangkan bijinya mengandung saponin, alkaloid, triterprenoid, dan asam momordial. Mengandung beta-karoten dua kali lebih besar daripada brokoli sehingga berpotensi mampu mencegah timbulnya penyakit kanker dan mengurangi risiko terkena serangan jantung ataupun infeksi virus. Rasa pahit berasal dari enzim kukurbitasin yang mampu berfungsi sebagai tonikum. Diutemukan pula oleh peneliti di University of New York senyawa sejenis protein alpha momocharin atau protein MAP 30 yang dapat menghambat pembiakan penyebab AIDS. Buah muda dianggap lebih berkhasiat dibandingkan dengan buah paria matang yang berwarna kemerahan.

Khasiat Buah

1. Disentri

2. Kencing Manis

3. Bisul

4. Bronkitis
Khasiat Daun 
1. Bisul dan cacing kremi
2. Sakit pada hati
3. Penyubur rambut
4. Batuk
5. Bekas luka
6. Wasir
7. Kemandulan (impoten)
8. Penyakit kulit
9. Rabun senja
Khasiat Akar
1. Disentri amuba
2. Wasir
Ekstrak biji paria selain digunakan sebagai bahan obat, ternyata juga dapat digunakan sebagai pembasmi larva alami seperti larva Aedes aegypti yang menyebarkan penyakit demam berdarah dengue (DBD)

Sejak zaman purba peria digunakan untuk merawat penderita kencing manis karena terbukti berkhasiat hipoglikemik melalui insulin nabati yang mengurangi kandungan gula dalam darah dan air kencing. Penelitian mengenai khasiat hipoglikemik ini dilakukan oleh William D. Torres pada tahun 2004 baik secara in vitro maupun in vivo. Efek peria dalam menurunkan gula darah pada hewan percobaan bekerja dengan mencegah usus menyerap gula yang dimakan. Selain itu diduga peria memiliki komponen yang menyerupai sulfonylurea, yakni obat antidiabeter paling tua. Obat jenis ini menstimulasi sel beta kelenjar pancreas tubuh memproduksi insulin lebih banyak, selain meningkatkan deposit cadangan gula glikogen di hati. Momordisin, sejenis glukosida yang terkandung dalam peria juga mampu menurunkan kadar gula  dalam darah dan membantu pancreas menghasilkan insulin. Efek peria dalam menurunkan gula darah pada kelinci diperkirakan juga serupa dengan mekanisme insulin.
Penemuan peria sebagai anti diabetes ini diperkuat oleh hasil penelitian ahli obat berkebangsaan  Inggris , A. Raman dan C.lau pada tahun 1996 yang menyatakan bahwa sari dan serbuk kering buah peria menyebabkan pengurangan kadar glukusa dalam darah dan meningkatkan toleransi glukosa. 

Juga diperoleh data bahwa buah peria mengandung sedikitnya 3 zat aktif sebagai anti diabetes yaitu charantin yang dikonfirmasi mempunyai efek menurunkan kadar gula darah, vicine dan komponen seperti insulin yang dikenal sebagai polypeptide-p. Zat-zat ini baik sendiri maupun bersama-sama membantu menurunkan kadar glukosa darah. Juga diketahui mengandung Lectin yang menurunkan konsentrasi  glukosa darah oleh aksinya pada jaringan perifer dan penekanan nafsu makan mirip efek insulin pada otak.
Dalam ramuan tradisional, buah peria ditumbuk hingga menghasilkan cairan pahit atau merebus daun serta buahnya sehingga menghasilkan air yang dapat diminum secara langsung. Sebagai obat diabetes, buah peria dapat disajikan sebagai teh karena terbukti tidak memiliki efek samping terhadap system pencernaan sehingga tepat dikonsumsi oleh penderita yang mengalami konstipasi

(Perhatikan ada Efek Samping jika terlalu berlebih: air liur berlebih, muka kemerahan, penglihatan kabur, sakit perut, mual, muntah, diare, kelemahan otot )


Resep/ramuan:

Diabetes Melitus/kencing manis

Sediakan 200g buah pare yang sudah dicuci. Iris tipis-tipis, lalu rebus dengan 3 gelas air hingga bersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring air rebusan. Minumlah air ramuan ini setiap hari.

Ambil 2 buah pare, cuci dan lumatkan. Tambahkan setengah gelas air matang. Aduk dan peras. Minum sebanyak 1 ramuan. Diulang selama 2 minggu.
Perhatikan ada efek samping jika terlalu berlebih:

Diare: konsumsi lebih dari 2 buah dalam sehari mungkin dapat menyebabkan nyeri perut atau diare. Hindari pemakaian dengan lambung kosong.
Hipoglikemia
Kehamilan : Wanita hamil seharusnya menghindari makan terlalu banyak paria atau jus paria karena merangsang uterus yang dapat menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur.
Alkaloid dan toksitas: paria mungkin mengandung zat alkaloid seperti quinine dan morodicine, resin dan saponic glycosides, yang mungkin tidak dapat ditoleransi oleh beberapa orang yang menmyebabkan gejala seperti air liur berlebih, muka kemerahan, penglihatan menurun, diare dan kelemahan otot. 

KULINER
Sedangkan dalam dunia kuliner Asia, paria sebenarnya merupakan salah satu sayuran favorit. Terutama pada masakan Cina, Taiwan, Vietnam, India dan Filipina. Buah paria yang biasa disayur adalah yang masih hijau, belum masak. Boleh dilalap dengan sambal tomat, ditumis atau dibuat siomay, dibuat pecal dan gado gado. Di Cina paria diolah dengan tausi, tauco, daging sapi  dan cabai atau diisi dengan adonan daging dan tofu, sedangkan di Jepang paria jadi primadona makanan sehat karena diolah menjadi sup, tempura atau asinan sayuran. Kalau sudah diolah, rasa pahit paria tidak begitu terasa lagi. Rasa pahitnya dapat dikurangi dengan mencampur buah paria dengan garam. Remas, bilas dan tiriskan. Paria siap diolah.
 Namun, kalau Anda mengharapkan kedatangan si kecil, sedang hamil (dapat menyebabkan abortus pada hewan percobaan), menyusui (tidak ada cukup data tentang keamanan walaupun dapat memperlancar ASI) atau kadar gula darah cenderung rendah sebaiknya jangan makan buah ini. Mengonsumsi bersamaan dengan obat diabetes dapat menyebabkan kadar gula darah yang terlalu rendah.