Rabu, 28 Januari 2015

New Book

 
 

 
Penulis        : dr.Lusia
Penerbit       : Airlangga University Press
ISBN           : 978-602-7924-86-4
Tahun terbit   : 2015
Bahasa         : Indonesia
Sampul         : Soft cover
Ukuran         : 15,8 x 23 cm
Jumlah Halaman : x, 123  hlm
 
     

Demam merupakan keadaan yang sering ditemui dalam kehidupan, terutama pada anak yang masih
rentan terhadap serangan berbagai penyakit.
Demam dapat berlangsung singkat atau berkepanjangan jika tidak ditangani secara cepat dan tepat yang dapat menimbulkan rasa tidak enak dan tidak nyaman bagi penderita bahkan kematian pada penyakit serius.
Orang tua dituntut memiliki ketenangan yang diperlukan dalam menghadapi dan menyikapi berbagai persoalan atau kejadian yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak dan kesehatan anak. Namun orang tua tidak bisa menganggap remeh setiap masalah yang ada tetapi, peduli, tenang dan tetap cermat.
Buku ini hadir untuk membantu orang tua untuk lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi keadaan demam pada anak sehingga dapat melakukan langkah-langkah penanganan yang terarah, cepat dan tepat.
Buku ini berisi tentang:
  • Suhu normal dan perubahan-perubahan harian suhu tubuh normal. 
  • Demam dan keadaan-keadaan yang sering dikaitkan dengan demam seperti: hipertermi, kejang demam , demam pascaimunisasi, dan demam pada waktu tumbuh gigi. 
  •  Pengukuran suhu dimana dijelaskan jenis-jenis termometer dan langkah-langkah secara sistematis menggunakan termometer. 
  • Bagaimana langkah penanganan demam di rumah dan kapan harus membawa anak ke dokter. 
  • Bagaimana mencegah anak menjadi sakit. 
  • Informasi seputar obat. 
  • Trik mudah memberikan obat kepada bayi dan anak yang lebih besar. 
  • Langkah-langkah pemberian berbagai macam sediaan obat. 
  • Cara mencuci tangan dengan baik dan benar.
Dengan kehadiran buku ini semoga dapat membantu orang tua untuk lebih mempersiapkan diri jika menghadapi anak dengan demam. Selamat membaca!





 
 

Selasa, 13 Januari 2015

Obat Herbal




Obat Herba sebagai Obat Alternatif
Racikan obat herba asli Indonesia lebih dikenal dengan nama jamu. Ramuan tradisional tersebut diakui oleh kebanyakan masyarakat Indonesia bermanfaat bagi kesehatan. Namun, meski dipercaya secara turun temurun, tingkat keamanan jamu belum terbukti secara ilmiah. Jamu diharapkan bisa tersaintifikasi. Saintifikasi jamu adalah upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Tujuannya untuk memberikan landasan ilmiah (evidence based) terkait penggunaan jamu secara empiris.
Ikatan Dokter Indonesia semula menolak jamu sebagai obat untuk menyembuhkan pasien, namun kini IDI sudah bisa menerima pemanfaatan jamu sebatas untuk menunjang kesehatan, sejauh sudah tersaintifikasi.
Mengapa pengobatan herba tradisional kini menjadi perhatian pemerintah? Indonesia memiliki lebih dari 9000 tanaman obat dan 30 ribu jenis tanaman di dunia yang diketahui memiliki manfaat kesehatan. Meski belum semua telah diteliti lebih lanjut, banyak diantaranya sudah dipercaya turun temurun memiliki khasiat menyembuhkan penyakit. Hal ini seharusnya menjadi modal bangsa kita untuk melestarikannya, sehingga tidak hanya bergantung pada pengobatan modern.
Obat tradisional terdiri dari jamu, obat herba terstandar dan fitofarmaka. Perbedaan obat herba terstandar dengan fitofarmaka terletak pada pengujian terhadap manusia. Obat herba terstandar baru dalam tahap diujikan kepada hewan percobaan, sedangkan fitofarmaka telah diujikan kepada manusia. Tidak heran bila jumlahnya masih sedikit karena biaya sangat mahal.
Untuk memilih obat tradisional impor, disarankan untuk memerhatikan kemasan produk. Produk herba impor yang sudah terdaftar di BPOM pasti sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia karena itu syarat wajib dari BPOM.
Tidak semua penyakit
Meski berkhasiat menyembuhkan, nyatanya obat herba tidak bisa digunakan untuk semua penyakit.  Penyakit-penyakit yang membutuhkan operasi terutama yang emergency seperti  hernia yang  tidak bisa menggunakan obat herba. Untuk penyakit atau kondisi gawat darurat seperti syok, dehidrasi berat atau hipoglikemia berat, tentu lebih aman menggunakan obat medis yang telah diketahui detail khasiatnya. Hal ini terkait dengan cara kerja herba yang bekerja lebih lambat daripada obat kimia (karena bukan senyawa aktif). Obat herba lebih tepat digunakan untuk penyakit metabolisme seperti diabetes melitus dan kolesterol.
Obat herba untuk anak
Kurangnya penelitian ilmiah pada obat tradisional artinya bahwa beberapa masalah-masalah potensial yang berkaitan dengan terapi alternatif sulit untuk diidentifikasi. Dan lagi, penelitianyang telah dilakukan menggunakan orang dewasa sebagai subyek tes. Hanya sedikit hal yang diketahui tentang efek dari pengobatan alternatif bagi anak-anak. Meskipun pendekatan yang dilakukan seperti doa, pemijatan dan perubahan gaya hidup umumnya merupakan cara pengganti yang relatif aman untuk perawatan medis; beberapa terapi- terutama penyembuhan dengan tumbuh-tumbuhan- dapat menyebabkan risiko kesehatan serius.
Alami tidak berarti sama dengan “bagus” atau “aman”, dan banyak orang tua tidak mempertimbangkan kemungkinan kalau pengobatan herba sebenarnya bisa menyebabkan masalah kesehatan anak-anak mereka. Mengobati anak tanpa konsultasi dengan dokternya akan sangat membahayakan.
Para orang tua mungkin juga memberikan tumbuhan obat kepada anak-anak mereka lebih dari jumlah yang direkomendasikan, karena menurut pemikirannya obat tersebut bersifat “alami”, besarnya jumlah yang diberikan tidak akan memengaruhi kesehatannya. Padahal banyak tanaman yang mengandung bahan kimia kuat, ternyata kira-kira 25% dari resep obat berasal  dari tanaman.
Risiko yang paling besar bisa terjadi jika perawatan medis umum ditunda atau ditolak karena lebih memilih diterapi alternatif. Penyakit seperti diabetes dan kanker membutuhkan perawatan dokter. Mempercayakan pengobatan pada terapi alternatif untuk masalah kronis dan kondisi yang akut akan memperparah kondisi kesehatan anak Anda.
Jika Anda ingin mencoba obat alternatif untuk anak Anda, Anda seharusnya mendiskusikan dulu pengobatan yang diajukan dengan dokter atau membicarakan dengan apoteker untuk memastikan itu aman dan tidak berlawanan dengan pengobatan umum yang diterima anak Anda. Dokter anak Anda juga bisa memberikan informasi mengenai pilihan pengobatan dan mungkin merekomendasikan ke spesialis yang bereputasi. Dengan mengkoordinasikan antara pengobatan alternatif dan umum Anda tidak perlu memilih salah satu darinya. Yang penting Anda bisa menerima yang terbaik dari kedua pengobatan tersebut.
Intinya mengenai jamu, demi keamanan anak, hindari pemanfaatan jamu atau pengobatan yang belum mendapat pengakuan dari lembaga-lembaga pengawasan obat dan tidak diperintahkan oleh dokter.



Rabu, 07 Januari 2015

Melon




Melon
Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
C. melo
Cucumis melo L.

Melon (Cucumis melo
L.) merupakan nama buah sekaligus tanaman yang menghasilkannya, yang termasuk dalam suku labu-labuan atau Cucurbitaceae. Buahnya biasanya dimakan segar sebagai buah meja atau diiris-iris sebagai campuran es buah. Bagian yang dimakan adalah daging buah (mesokarp). Teksturnya lunak, berwarna putih sampai merah, tergantung kultivarnya.
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan semusim, menjalar, tetapi tidak memanjat. Daun berbentuk menjari dengan lekuk moderat sehingga seperti lingkaran bersudut. Batangnya biasanya tidak berkayu.
Tumbuhan ini berumah satu dengan bunga dua tipe: bunga jantan dan hermafrodit. Bunga jantan muncul biasanya pada saat tanaman masih muda atau bila tumbuhnya kurang baik.
Buah bertipe pepo. Bagian mesokarp menebal menjadi daging buah yang berair. pemuliaan diarahkan pada daging buah yang tebal, manis, serta jika mungkin, harum.
Buah yang bernama latin  Cucumis melo ini berasal dari daerah Persia atau kawasan perbatasan antara Eropa dan Asia, kemudian berkembang hingga ke Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Pada awal perkembangannya, melon yang dibudidayakan di Eropa adalah Cucumis melo var.Reticultus (Musk Melon) yang merupakan melon tipe liar dari Asia dan Afrika.
Ada beberapa jenis melon yang popular bagi masyarakat di Indonesia yaitu Melon Hijau, Melon Jingga (Cantaloupe), Melon Mas (Golden Melon/Casaba) dan Melon Madu (Honeydew Melon). Keempat jenis melon tersebut memiliki ciri-ciri yang khas dan keunggulan yang berbeda satu sama lain. Melon Hijau merupakan salah satu melon yang paling popular di Indonesia, maka dari itu biasa juga disebut melon lokal.
Melon memiliki kalori yang rendah, hanya sekitar 64 kalori dalam 1 gelas melon. Namun, memiliki vitamin dan mineral yang sangat tinggi dan baik untuk kesehatan.  
Tips Memilih Melon
1.      Pilih Melon yang sudah matang, berbentuk bulat dan tidak retak. Tangkai buah melon akan terlepas dengan sendirinya bila sudah matang.
2.      Melon utuh bisa disimpan selama 2—4 hari pada suhu kamar dan 5—10 hari dalam lemari es. Bila sudah terpotong, dapat disimpan selama 2—3 hari dalam wadah tertutup di lemari es.
3.      Karena baunya yang cukup tajam, bau melon dapat menyebar ke makanan lain. Karena itu potongan melon harus dibungkus dalam plastik ketika disimpan di lemari es.