Loading...

Kamis, 28 April 2011

Mengenal Suhu Tubuh





Mengenal Suhu Tubuh

dr Lusia

                              I.      Pendahuluan

   Hampir semua orang pernah mengalami demam, ada yang demam ringan adakalanya sampai demam panas sekali atau hampir semua orang pernah merasa kedinginan. Semua itu berhubungan dengan suhu tubuh, dapat merupakan keadaan yang masih normal  dan abnormal. Keadaan demikian merupakan keadaan yang lazim ditemui dalam kehidupan.  Sehingga kita harus membekali pengetahuan untuk menghadapinya. Untuk mengatasi ketidaknyamanan yang diakibatkannya dilakukan berbagai cara mulai cara sederhana sampai harus ke dokter.
    Mengenali suhu tubuh sangat perlu karena merupakan salah satu tanda fungsi vital tubuh kita yang dapat mendeteksi fungsi sistem tubuh kita apakah bekerja normal atau dalam keadaan sedang sakit. Kita perlu mengetahui suhu tubuh normal, suhu tubuh abnormal , pengaturan suhu agar tetap konstan, dan hal-hal lain yang menyangkut suhu sehingga kita dapat mengatasi bila terjadi keadaan yang tidak normal dan mempertahankan suhu yang normal agar tetap sehat.  

 II. Panas Tubuh, Pembentukan dan pengeluaran Panas
 Setiap sel di dalam tubuh memerlukan energi untuk memelihara struktur dan fungsinya. Seluruh energi yang diperlukan oleh sel-sel tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi setiap harinya (sumber energi). Misalnya dari berasal dari karbohidrat, protein dan lemak. Energi tubuh yang dihasilkan yang berasal dari pembakaran 1 gram lemak adalah 9 Kalori dan karbohidrat 4 Kalori serta protein  4 Kalori. Energi dalam makanan ini terdapat sebagai energi kimia yang dapat diubah menjadi energi bentuk lain. Bentuk energi yang berkaitan dengan proses-proses biologi adalah energi kimia, energi mekanis, energi panas dan energi listrik.Dalam kegiatan tubuh sehari-hari, pemakaian energi dapat melalui kegiatan kerja eksternal dan internal. Kerja eksternal berhubungan dengan pemakaian energi akibat kontraksi otot rangka sewaktu tubuh menggerakkan badan atau anggota badan seperti mengangkat atau memindahkan suatu benda, menghindar, memukul, mengelak, dan sebagainya. Kerja internal berhubungan dengan pemakaian energi oleh seluruh proses biologis di dalam tubuh yang tidak termasuk dalam kegiatan kerja eksternal.
Tidak semua energi yang didapat dari nutrien dapat dipergunakan untuk kegiatan kerja. Energi yang tidak dapat dipakai ini akan diubah menjadi energi panas. Selama proses biokimiawi di dalam tubuh, hanya 50% energi dari nutrien yang diubah menjadi ATP selebihnya akan hilang dalam bentuk panas. Selama pemakaian ATP oleh sel-sel tubuh, 25% lainnya energi yang berasal dari makanan inipun akan diubah menjadi panas. Selanjutnya panas yang terbentuk inilah (produksi panas internal) dan ditambah dengan perolehan panas yang didapat dari lingkungan eksternal tubuh (keduanya disebut Sumber panas) yang membentuk kandungan seluruh panas tubuh.

Panas tubuh diperlukan untuk kelancaran aliran darah dan menjaga agar reaksi kimia tubuh dapat berjalan baik (enzim hanya bekerja pada suhu tertentu yang relatif tetap (pada suhu normal)..Sumber utama panas badan adalah pembakaran makanan terutama di dalam hati,otak, jantung dan otot-otot bergaris.
Kemudian panas ini dihantarkan dari organ dan jaringan yang lebih dalam ke kulit, dimana panas tubuh hilang ke udara dan sekitarnya. Oleh karena itu, laju hilangnya panas tubuh ditentukan oleh seberapa cepat panas tubuh dapat dikonduksikan dari tempat panas tubuh dihasilkan dalam inti tubuh ke kulit dan seberapa cepat panas tubuh kemudian dapat dihantarkan dari kulit ke sekitarnya.
Bila kandungan  seluruh panas tubuh ini sudah melebihi batas toleransi, maka tubuh akan berupaya untuk mengeluarkan panas (panas tubuh hilang) melalui kulit (permukaan tubuh) dengan cara  (mekanisme) konveksi, konduksi, radiasi, evaporasi. 

   Panas panas badan yang diperoleh dari lingkungan dipengaruhi oleh :
a) Pengaruh temperatur udara
Bilamana suhu tubuh lebih rendah dari suhu lingkungan maka tubuh akan mendapat panas dengan cara konveksi. Sebaliknya bila suhu tubuh lebih tinggi daripada suhu lingkungan maka panas tubuh akan mengalir ke udara sekitar. Kemudian bila suhu permukaan benda lebih tinggi dari suhu tubuh maka tubuh akan mendapatkan tambahan panas dari benda tersebut dengan cara radiasi atau pancaran.
b) Kelembaban
Mempunyai pengaruh terhadap penguapan keringat , apabila udara lingkungan mempunyai kelembaban yang tinggi, maka penguapan keringat akan terganggu yang berakibat suhu badan menjadi naik.
c) Kecepatan angin
Mempunyai pengaruh terhadap pembuangan atau penambahan panas tubuh melalui penguapan dan konveksi.

 
Cara perpindahan panas 
Proses radiasi
Kehilangan /perolehan panas melalui radiasi adalah kehilangan/perolehan dalam bentuk gelombang panas. 
Proses radiasi tergantung dari perbedaan suhu antara kulit dan obyek sekitarnya. Tubuh manusia menyebarkan gelombang panas ke segala penjuru. Gelombang panas juga dipancarkan dari benda-benda di sekitar ke tubuh . Tetapi bila suhu tubuh lebih besar dari suhu lingkungan, panas tubuh ini akan dipancarkan keluar dari tubuh lebih besar daripada yang dipancarkan ke tubuh.
Kehilangan panas karena radiasi ini dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Makin rendah suhu lingkungan makin besar panas tubuh yang hilang dan bila suhu tubuh makin mendekati suhu lingkungan, kehilangan panas yang terjadi makin kecil. Selain dipengaruhi oleh hal tersebut, radiasi juga dipengaruhi oleh kelembaban udara, makin tinggi kelembaban, kehilangan panas makin berkurang. 

Contohnya:
* Lampu inframerah dan  untuk bayi hipotermi.
* Bayi diletakkan dekat tembok yang dingin dapat menyebabkan hipotermi.

*Radiasi merupakan penyebab kehilangan panas terbesar pada penderita yang menjalani operasi.
Konduksi. Kehilangan/perolehan panas melalui permukaan tubuh ke benda-benda lain yang bersinggungan dengan tubuh, di mana terjadi pemindahan panas secara langsung antara tubuh dengan objek pada suhu yang berbeda(dengan jalan kontak langsung). Dibandingkan dengan posisi berdiri, orang dengan posisi tidur dengan permukaan kontak akan melepas panas lebih banyak melalui konduksi.

 Proses ini pun tergantung dari perbedaan suhu badan dan sekitarnya. Kecepatan pelepasan panas melalui proses konduksi berlangsung amat cepat, yang terjadi melalui mekanisme suplai darah yang alamiah. Bila arteriole membuka lebar maka suhu kulit  kurang lebih sama dengan suhu tubuh, sebaliknya pengurangan aliran darah sampai jumlah yang minimal, yang masih dibutuhkan untuk suplai kebutuhan nutritif, akan menghasilkan suhu kulit yang mendekati suhu sekitar tubuh. Ini adalah kenyataan daripada variasi suplai darah alamiah dalam pengaturan suhu tubuh. Bila dibutuhkan pelepasan panas yang lebih banyak maka darah akan dialirkan ke kulit. Dan sebaliknya bila pelepasan panas ingin ditekan maka aliran darah ke kulit akan dikurangi. 
Perolehan panas melalui metoda konduksi dapat berupa :
* Kantong air panas/botol berisi air panas
* Handuk panas
*Electric pads (Caranya melingkari kawat elemen panas yang dibungkus asbes atau                plastik. Untuk amannya dilengkapi dengan termostat.)
Konveksi

*perpindahan kalor/panas melalui suatu zat yang disertai perpindahan partikel-partikel zat itu*
Pemindahan panas melalui pergerakan udara atau cairan yang meliputi permukaan kulit.
Sejumlah kecil konveksi hampir selalu terjadi sekitar tubuh karena kecenderungan udara yang dekat kulit bergerak ke atas waktu udara tersebut dipanaskan. Oleh karena itu, orang telanjang dada yang duduk dalam ruangan yang sejuk tanpa pergerakan udara yang nyata tetp kehilangan 12% panasnya dengan konduksi ke udara dan kemudian dibawa menjauhi tubuh oleh arus konveksi.

Evaporasi
Evaporasi adalah kehilangan panas tubuh sebagai akibat penguapan air melalui kulit dan paru-paru, dalam bentuk berubahnya cairan menjadi gas.  Bila air menguap dari permukaan tubuh , 0,58 Kalori panas hilang untuk setiap gram(cc) air yang menguap.
Sejumlah kecil air berdifusi melalui kulit sepanjang waktu dan kemudian diuapkan dari permukaan. Evorasi juga secara terus menerus berlangsung melalui sistem respirasi karena udara respirasi dijenuhkan dengan uap air. Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa pelepasan dengan cara ini juga tetap berlangsung pada cuaca dingin. Kehilangan panas yang hebat sekali juga dapat terjadi hanya dengan pengeluaran keringat. Evaporasi yang terjadi melalui kulit , cairan yang hilang sekitar 800 ml (30-50 ml/jam). Sedangkan evaporasi melalui sistem pernapasan terjadi melalui udara yang diekspirasikan, cairan yang hilang sekitar 400 ml/hari.
Penguapan sebagai mekanisme pendingin yang penting pada suhu Tinggi.

Selama suhu tubuh lebih besar daripada suhu lingkungan, panas hilang dengan cara radiasi dan konduksi, tetapi bila suhu lingkungan lebih besar daripada suhu kulit, sebagai ganti dari kehilangan panas, tubuh memperoleh panas dengan cara dan radiasi dan konduksi dari lingkungan. Dalam keadaan ini, cara satu-satunya dimana tubuh dapat membuang panas dengan cara penguapan (evaporasi). Oleh karena itu, setiap faktor yang mencegah penguapan dengan adekuat bila suhu lingkungan lebih tinggi daripada suhu tubuh mengakibatkan suhu tubuh meningkat.  
Berkeringat
Bila tubuh mendapat pemanasan berlebihan, sejumlah besar keringat disekresi ke permukaan kulit oleh kelenjar keringat ekrin untuk memberikan pendinginan evaporatif yang cepat pada tubuh.
Pengeluaran keringat sendiri menyebabkan hilangnya panas dari tubuh. Mekanisme itu hanya efektif untuk menurunkan suhu tubuh bila keringat yang terbentuk diuapkan oleh tubuh, tidak jatuh atau meleleh dari tubuh. Setiap ml keringat yang diuapkan membutuhkan 580 kal yang akan diserap dari tubuh.
III. Suhu Tubuh

* Suhu:
Dalam keadaan sehari-hari kita mengenal panas dan dingin. Misalnya api panas, es dingin, air untuk mandi mungkin sejuk atau hangat. Nah, benda yang terasa panas itu kita katakan mempunyai suhu tinggi dan benda yang dingin mempunyai suhu yang rendah. Dalam hal ini taraf panas-dingin suatu benda kita sebut temperatur atau suhu. Jadi suhu adalah istilah yang dipakai untuk membedakan panas-dinginnya suatu benda dalam suatu ukuran tingkat derajat panas yang dinyatakan dalam satuan derajat suhu. Panas-dingin dapat dirasakan lewat indera peraba, tetapi indera peraba tidak dapat mengukur   derajat panas-dingin suatu benda. Untuk mengetahui derajat panas-dingin suatu benda , maka benda dapat diukur dengan alat yang disebut termometer. 
       Suhu tubuh merupakan ukuran yang menggambarkan keseimbangan antara panas yang diproduksi oleh tubuh dengan panas yang dikeluarkan.
 Suhu tubuh diatur dengan mengimbangi produksi panas terhadap kehilangan panas yang terjadi. Bila laju pembentukan panas dalam tubuh lebih besar daripada laju hilangnya panas, timbul panas dalam tubuh dan suhu tubuh meningkat. Sebaliknya, bila kehilangan panas lebih besar, panas tubuh dan suhu tubuh menurun.
* Suhu Inti Versus Suhu Permukaan
Bila membicarakan suhu tubuh, biasanya yang dimaksud adalah suhu di bagian dalam, yang dinamakan suhu inti (core temperature) dan bukan suhu kulit atau jaringan tepat di bawah kulit. Suhu permukaan dapat meningkat dan turun sesuai dengan suhu sekitarnya.

Suhu tubuh manusia secara kasar dibagi menjadi 2 yaitu : suhu inti (core temperature) dan suhu perifer/suhu kulit.
•    Suhu inti adalah suhu pada jaringan / organ vital yang baik perfusinya (otak dan organ bagian dalam tubuh). Suhu ini relatif sama. Dengan kata lain, distribusi panas pada bagian-bagian tubuh ini cepat, sehingga suhu pada beberapa tempat yang berbeda hampir sama. .
•  Bagian tubuh di mana suhunya tidak homogen dan bervariasi sepanjang waktu merupakan bagian dari suhu perifer. Suhu kulit/ perifer berbeda dengan suhu inti, naik dan turun sesuai dengan suhu lingkungan.Pada gambar di bawah terlihat topografi temperatur kulit pada manusia. daerah tubuh maupun kepala mempunyai temperatur kulit lebih tinggi daripada anggota badan. Untuk mengetahui rata-rata temperatur kulit banyak metoda yang digunakan untuk menghitungnya. Tetapi metoda yang lazim dipakai untuk menghitung temperatur kulit rata-rata ialah :

0,07 T kepala + 0,14 T lengan+ 0,05 T tangan+ 0,07 T kaki + 0,13 T betis + 0,09 T paha + 0,35 T batang tubuh
Dengan mengetahui temperatur kulit rata-rata tersebut temperatur tubuh rata-rata dapat dihitung.
Zona suhu kulit rata-rata yang nyaman adalah 33°C to 34°C. Jika temperatur kulit turun sampai 32°C, orang akan merasa dingin. Seseorang kehilangan seluruh sensasi pada kulitnya bila suhu kulitnya pada suhu 15°C atau kurang. Ketika suhu kulit mencapai batas  35°C sampai 39°C, seseorang akan merasa hangat atau panas. Pada suhu 39°C sampai 41°C, seseorang akan merasa nyeri. Ketika suhu kulit lebih besar dari 41° C,mulai terasa nyeri terbakar. Kematian jaringan kulit segera terjadi apabila suhu kulit  45°C atau lebih.
Temperatur kulit yang rendah dengan bagian dalam tubuh yang normal menunjukkkan banyak panas yang hilang. Pada keadaan demikian diperlukan pemasangan alat pemanas/selimut.
Penderita dengan suhu kulit dan bagian dalam yang rendah menunjukkan terganggunya   mekanisme pengaturan suhu badan.
Penderita dengan temperatur kulit dan bagian dalam yang tinggi menunjukkan tubuh tidak sanggup   melepaskan panas ke sekelilingnya atau adanya produksi panas yang terlampau tinggi, misalnya bila terdapat infeksi.

Suhu Tubuh Rata-rata
 Bila kita ingin menghitung jumlah total panas yang disimpan dalam tubuh, kita menggunakan suhu tubuh rata- rata. Suhu tubuh rata-rata dapat diperkirakan dengan rumus sbb :
                  Suhu rata-rata = 0,7 suhu internal(T core/temp rektal) + 0,3 suhu permukaan( average T skin).
                  
   Pada sebagian besar individu, tanpa peduli iklim ataupun rasnya, semua umur, suhu tubuh normal secara umum bervariasi sekitar 36 sampai 37 derajat Celsius, yang bertambah sekitar 0,5-1 derajat Celsius pada malam hari dan sesudah melakukan kegiatan. Selama tidur suhu turun 1 derajat C. 
   Namun untuk anak dikatakan demam jika suhu tubuh lebih besar dari 38 derajat C melalui  rektum,. Batasannya demam berbeda-beda tergantung usia dan cara pengukuran suhu.Pengambilan suhu sebaiknya dengan termometer di ketiak, mulut atau  di dubur (di dahi juga dapat, intravagina: untuk keperluan khusus, di lipat paha : jarang ) 
Suhu tubuh bervariasi tergantung dari bagian tubuh yang diukur, waktu pengukuran, aktivitas dan umur dan variasi diurnal.  
 Batasan
* Gradasi termal(Gradasi dingin dan panas) :dingin yang membekukan - dingin-sejuk-biasa-hangat-panas-panas yang membakar
* Suhu Tubuh Normal
Kita mengatakan bahwa suhu badan itu normal kalau panas tubuhnya dengan pengukuran aksila berkisar antara  36˚ C /36,5˚ C – "37,2˚/37,5 C."

Beberapa referensi lain menyebutkan" 36˚ C , 36,1˚ C " - " -37˚ C -37,1˚ C , 37,3˚ C -37,6 ˚ C - 37,7˚ C -37,8˚ C " ( Pemeriksaan dengan cara aksila dipengaruhi oleh jenis termometer, lama pengukuran dan suhu lingkungan) 

Pada beberapa individu  mungkin  mempunyai termostat di hipotalamus yang sedikit lebih tinggi (sampai 0,5 derajat di atas-atas rata-rata orang biasa masih merupakan suatu fenomena yang normal) 

Pengukuran yang sistematis pertama suhu tubuh manusia dilakukan oleh dokter Jerman Carl Wunderlich. Pada tahun 1861 ia mengukur suhu satu juta orang yang sehat (ukuran sampel yang tampaknya terlalu besar untuk bisa dipercaya). Nilai rata-rata dilaporkan sebagai 37 derajat celsius. Ketika dikonversi nilai ini menjadi 98,6 derajat fahrenheit. Jadi apa masalahnya? Nilai Wunderlich memiliki hanya dua angka penting sedangkan nilai dikonversi memiliki tiga. Digit terakhir ("titik enam" di akhir) harus dipandang sebagai nilai yang berarti.
Pada tahun 1992 Mackowiak, Wasserman, dan Levine mengukur suhu tubuh 65 pria dan 65 wanita dan diperoleh nilai 36,8 ° C (98,2 ° F). Anda dapat melakukan analisis statistik dari data diri. Angka-angka yang tersedia dari beberapa referensi : 

Contoh-contoh Klasifikasi suhu normal menurut umur/melalui aksila:
 Suhu Tubuh (dalam derajat celsius)
3 bulan 37,5
6 bulan 37,5
1 tahun 37,7
3 tahun 37,2
5 tahun 37,0
7 tahun 36,8
9 tahun 36,7
11 tahun 36,7
13 tahun 36,6
Dewasa 36,4
> 70 tahun 36,0
 Vital Signs. ( Applied Medical Informatics, 1996.)   
Age                      Temperature (°F)     ° C
0–3 month            99.4               37,4
3–6 month            99.5               37,5
6 month–1 year    99.7               37,6
1–3 year               99.0               37,2
3–5 year               98.6               37
5–9 year               98.3               36,8
9–13 year             98.0               36,7
> 13 year              97.8–99.1      36,6-37,3
Hasil standar : 36.6–37.3 °C
Nilai suhu normal menurut jenis kelamin :
 [Shoemaker supplies text files consisting of body temperature and heart rate data for 65 men and 65 women. This appears to be Mackowiak's data from the 1992 paper in JAMA. The values reported to the right are the mean values ± the standard deviation.]
 98.4±0.7 °F/(36.9±0.4 °C)=36,5-37,3°C
women

98.1±0.7 °F/(36.7±0.4 °C)=36,3-37,1°C
men
The findings of Sund-Levander, et al. are summarized in the table below.

                                  men                  women             overall
oral                            35.7–37.7 °C    33.2–38.1 °C    33.2–38.2 °C
rectal                         36.7–37.5 °C    36.8–37.1 °C    34.4–37.8 °C
typanic (ear canal)    35.5–37.5 °C    35.7–37.5 °C    35.4–37.8 °C
axillary (armpit)                                                            35.5–37.0 °C
 Menurut Saskatchewan Ministry of Health June 2012 :
A child has the same body temperature range as an adult:

35°C – 37.5°C (95°F ‐ 99.5°F) when taken orally (by mouth).

34.7°C – 37.3°C (94.5°F ‐ 99°F) when taken under an armpit.

Normal temperature range:Batas Suhu Normal Anak  menurut Canadian Paediatric Society

Rectum 36.6°C to 38°C (97.9°F to 100.4°F)
Mouth 35.5°C to 37.5°C (95.9°F to 99.5°F)
Ear 35.8°C to 38°C (96.4°F to 100.4°F)
Armpit 34.7°C to 37.3°C (94.5°F to 99.1°F)


Ambang batas tertinggi masih dapat ditolerir sepanjang suhu tersebut tidak memiliki kecenderungan untuk meningkat. Ketika suhu badan mencapai ambang batas, sudah selayaknya hal tersebut mendapat perhatian sehingga kemungkinan melampaui ambang batas dapat dihindarkan. 
Penetapan nilai normal berdasarkan ,beberapa studi dari suatu populasi , orang yang diukur dalam keadaan sehat, tidak berpuasa, berpakaian yang nyaman, di dalam ruangan dengan suhu ruangan normal (22,7-24,4 ˚derajat C), saat pagi hari tapi bukan baru saja bangun tidur.   Untuk temperatur mulut, tidak boleh sehabis makan, minum, tidak boleh 15-30 menit sehabis merokok . 

* Demam/Febris /Fever/Pyrexia ( set point hipotalamus meningkat)
Range suhu demam dari beberapa referensi :
 # Fever is generally agreed to be present if the elevated temperature is :
Temperature in the anus (rectum/rectal) is at or over 37.5–38.3 °C (99.5–100.9 °F)
Temperature in the mouth (oral) is at or over 37.7 °C (99.9 °F)
Temperature under the arm (axillary) or in the ear (otic) is at or over 37.2 °C (99.0 °F)
 

# Harrison’s textbook of internal medicine defines a fever as a morning oral temperature of >37.2°C (>98.9°F) or an evening temperature of >37.7°C (>99.9°F) while the normal daily temperature variation is typically 0.5°C (0.9°F).
 

# Suhu tubuh seseorang yang sama atau lebih dari 38˚ C menunjukkan bahwa orang bersangkutan mengalami demam.(per rektal)
Bagian Pediatri di Indonesia :
Pada Neonatus : Teraba demam, suhu aksila >37,5oC  merupakan salah satu tanda bahaya yang harus diperhatikan.  

# A child has a fever when the temperature is at or above one of these levels:
 100.4 °F (38 °C) measured in the bottom (rectally)
99.5 °F (37.5 °C) measured in the mouth (orally)
99 °F (37.2 °C) measured under the arm (axillary)


Salah satu contoh tabel demam :
Bagian TUBUH
Jenis termometer
DEMAM
Dubur
Termometer air raksa atau digital
38,1oC )
Mulut
Termometer air raksa atau digital
37,6oC
Ketiak
Termometer air raksa atau digital
37,4oC
Telinga
Sinar inframerah
37,6oC
Jika suhu dasar anak anda berbeda dari rentang normal, maka disebut demam juga berbeda. Bicarakan ini dengan dokter anak.
Kriteria demam bervariasi menurut umur, metoda pengukuran dan waktu pengukuran dilakukan/perhatikan pula variasi diurnal )

 Demam kadang -kadang digambarkan sebagai demam ringan dan demam tinggi, atau sangat tinggi.

  Dengan cara pengukuran melalui rektal peningkatan suhu/demam berdasarkan derajat peningkatan temperatur dibedakan :  

1. #Sub Febril
Suhu tubuh seseorang antara 37,5˚ C - 38˚ C dikatakan mengalami kenaikan suhu tubuh subfebril. Dapat disebabkan oleh proses-proses metabolisme sebagai kerja otot. Didapatkan pada hipertiroidi, radang kronis.  Juga biasanya menyertai suatu infeksi-infeksi fokal seperti tonsilitis kronik, sinusitis. infeksi saluran kencing dan peradangan adneksa.

2.# Mild 38-39 "°C
3.# Moderate fever 39°-40°C
4. #High Fever 40-41,1 °C 
5. # Very High fever=Hiperpireksia(demam yang sangat tinggi misalnya oleh karena infeksi, perdarahan di dalam otak)
Suatu keadaan kenaikan suhu tubuh sampai setinggi  41,2˚ C atau lebih (≥ 41,2˚ C )(peningkatan set point)
 
Suhu Ketiak
1.      Demam rendah 37,2o-38,3o
2.      Demam sedang 38,3o-39,5o
3.      Demam tinggi >39,5o

Suhu Oral
1.      Demam rendah 37,7o-38,8o
2.      Demam sedang 38,8o-40o
3.      Demam tinggi >40o

Bandingkan dengan Hipertemia :
Hipertermia : 
* Peningkatan suhu tubuh yang tidak disertai peningkatan set-point (hipertermia) disebabkan oleh gangguan hormon, gangguan metabolisme, penggunaan obat-obatan atau peningkatan suhu lingkungan sekitar/sehubungan dengan pemaparan panas dari luar.
*  Istilah umum untuk beberapa keadaan sakit yang berhubungan dengan panas  dimana peningkatan suhu tubuh inti > 38˚ C {(>37,5˚ per aksila)/38,3˚/38,8˚/38,9˚/40˚ C } tergantung referensi  tanpa disertai peningkatan  pengaturan suhu (Set-Point) di otak hipotalamus.  Di golongankan dalam 3 kategori : heat cramps(N,>38˚C), heat exhaustion (39˚-41,1˚)dan heat stroke(>41,1˚C) .Pada Bayi baru Lahir peningkatan suhu di atas 37,5 ˚ Celsius biasanya oleh karena suhu ruangan yang terlalu panas atau pemakaian pakaian yang berlapis-lapis.Hipertermia maligna dapat merupakan suatu komplikasi yang jarang dari anestesi umum. Hipertermi dapat disebabkan oleh obat dan alat medis. Hipertermi untuk terapi misalnya untuk terapi kanker, biasanya di kombinasi dengan radioterapi.

* Suhu Subnormal
Suhu tubuh di bawah 36˚ C ( < 36˚ C )/per aksila/misalnya pada bayi yang mengalami stres dingin
* Hipotermi
- Pada bayi baru lahir : didefinisikan ketika suhu tubuh bayi turun di bawah 36,5 ˚ C/per aksila
- Keadaan suhu tubuh di bawah 35˚  C ( < 35˚ C )/per rektal /pada dewasa

* Suhu Badan Basal
Suhu badan basal maksudnya ialah suhu badan sesudah istirahat penuh, setelah bangun pagi dan sebelum melakukan aktivitas apapun.

 








IV. Pengaturan Suhu Tubuh (Termoregulasi)  

Regulasi suhu tubuh adalah salah satu proses dari usaha menjaga  keseimbangan di dalam tubuh.

Konsep "Set Point" 
Konsep "Set-Point" dalam pengaturan temperatur yaitu semua mekanisme pengaturan temperatur yang terus-menerus berupaya untuk mengembalikan temperatur kembali ke tingkat "Set-Point". Set-point disebut juga tingkat temperatur krisis, yang apabila suhu tubuh seseorang melampaui set point ini, maka kecepatan kehilangan panas lebih cepat dibandingkan dengan produksi panas, begitu sebaliknya. Sehingga suhu tubuh kembali ke tingkat set-point. Jadi suhu tubuh dikendalikan untuk medekati nilai set point.  
Termostat dalam hipotalamus di atur pada set point sekitar suhu 37 ˚ C dengan rentang sekitar 1 ˚ C ( Nilai ambang=interthreshold range) , dan suhu dipertahankan dengan menjaga keseimbangan pembentukan atau pelepasan panas.

Berdasarkan kemampuan mengatur suhu tubuh maka makhluk hidup dikelompokkan dalam 2 golongan. Yakni makhluk berdarah panas (homoetermik) yaitu dapat mempertahankan suatu suhu tubuh yang konstan dan makhluk hidup yang berdarah dingin (heterotermik) yaitu makhluk yang suhu tubuhnya berubah-ubah sesuai suhu sekelilingnya.
Sebagai makhluk yang homotermik manusia selalu berusaha mengatur suhu tubuhnya relatif konstan terhadap perubahan suhu di sekitarnya. Suhu tubuh diatur oleh suatu mekanisme yang menyangkut susunan saraf, biokimia dan hormon. 
Fungsi pengaturan suhu tubuh atau termoregulasi dibedakan menjadi 3 fase, yaitu : termal aferen, regulasi sentral dan respon eferen. 
Termal aferen : deteksi sensasi termal oleh reseptor suhu. Reseptor-reseptor suhu ini terletak di kulit dan membrana mukosa. Reseptor suhu tubuh bagian dalam juga ditemukan pada bagian tertentu dari tubuh, terutama di medulla spinalis, organ dalam abdomen dan torak, hipotalamus dan bagian lain dari otak serta sekitar vena-vena besar. Reseptor dalam ini berbeda fungsinya dengan reseptor kulit karena reseptor tersebut lebih banyak terpapar dengan suhu inti daripada suhu permukaan tubuh.               
Perasaan Thermoreseptif :Diskriminasi termal (pengenalan gradasi panas) dideteksi oleh 3 jenis reseptor yaitu reseptor dingin, reseptor panas dan reseptor nyeri. Reseptor nyeri hanya dirangsang oleh panas/dingin yang sangat hebat, sehingga tidak dimasukkan dalam reseptor termal. Reseptor ini dapat mengadakan proses adaptasi, artinya mula-mula ia terangsang dengan kuat tetapi kemudian menjadi lemah (sensitivitas menurun).
Sinyal termal dihantarkan melalui serabut bermielin yang kecil dari golongan delta (diameter 2-5 mikron) dan juga melalui serabut tipe C.  Dalam memasuki Susunan Saraf Pusat serabut-serabut termal berjalan dalam traktus Spinothalamikus lateralis. Pada talamus ia mengadakan sinaps pada ventrobasal kompleks. Kemudia neuron akan berjalan ke korteks Somestetik.
Regulasi Sentral
Meskipun bagian otak lain juga berperan, pusat integrasi pengendali suhu tubuh  (termostat) terdapat di hipotalamus. Hipotalamus menerima informasi (sinyal) suhu tubuh bagian dalam dari suhu darah yang masuk ke otak dan informasi suhu luar tubuh dari reseptor suhu (termoreseptor) di kulit. 

    Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh adalah hipotalamus anterior dan hipotalamus posterior.

Hipotalamus posterior merupakan pusat pengatur yang bertugas meningkatkan produksi panas dan mengurangi  pengeluaran panas. Bila suhu luar lebih rendah pembentukan panas akan dilakukan dengan meningkatkan metabolisme, dengan mekanisme kontraksi otot/menggigil, pengeluaran panas akan dikurangi dengan vasokonstriksi (memperkecil) pembuluh darah kulit dan perangsangan produksi keringat. 
Hipotalamus anterior merupakan pusat pengatur pengeluaran panas. Bila suhu di luar tubuh lebih tinggi maka pengeluaran panas ditingkatkan dengan cara vasodilatasi (melebarkan), evaporasi(berkeringat), radiasi (dipancarkan), kontak (bersinggungan/kompres), aliran (dari daerah panas ke dingin), dan konveksi.
     Pengaturan suhu tubuh terjadi secara terpadu di hipotalamus berdasarkan sinyal yang diterima dari kulit dan suhu inti tubuh.

Respon Eferen
Respon Terhadap Dingin 

  Bila termoreseptor di kulit menerima rangsang dingin , maka oleh neuron yang sensitif terhadap dingin (cold-sensitive neuron) sinyal ini akan diteruskan ke hipotalamus. Bila akumulasi suhu yang terjadi di hipotalamus sudah melebihi. Batas minimal yang dapat ditoleransi, maka tubuh akan mengadakan adaptasi perilaku seperti memakai selimut, baju hangat, atau sarung tangan. Mekanisme tubuh lainnya untuk mengatasi Batas minimal yang sudah tidak dapat ditoleransi ini juga dapat terjadi melalui aktivasi saraf motorik yang mengakibatkan terjadinya kontraksi otot rangka seperti menggigil dengan akibat produksi panas akan bertambah dan atau aktivasi sistem saraf simpatis yang mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi pembuluh darah kulit. Vasokonstriksi pembuluh darah kulit ini akan mengurangi darah dan panas tubuh yang mengalir ke permukaan tubuh sehingga proses penguapan melalui kulit dan pengeluaran panas melalui radiasi dan konduksi berkurang (konservasi panas).
Respon terhadap panas
Hal ini akan mempertahankan panas di dalam tubuh tetap terjaga sehingga tubuh kembali hangat. Bila termoreseptor di kulit menerima rangsang panas, maka oleh neuron yang sensitif terhadap panas (warm-sensitive neuron) akan diteruskan ke hipotalamus. Bila suhu yang terjadi di hipotalamus sudah melebihi Batas maksimal yang dapat ditoleransi maka tubuh akan melakukan adaptasi perilaku seperti membuka kancing baju, memakai kaus tipis atau membuka baju. Mekanisme lainnya untuk mengatasi Batas maksimal yang sudah tidak dapat ditoleransi ini adalah dengan mengaktivasi sistem saraf simpatik yang selanjutnya akan terjadi vasodilatasi pembuluh darah kulit sehingga banyak darah dan panas tubuh mengalir ke permukaan tubuh, dan hal ini akan menyebabkan pengeluaran panas tubuh melalui penguapan, radiasi, dan konduksi melalui kulit meningkat sehingga suhu tubuh kembali turun (aktivasi sistem saraf simpatis ini juga dapat merangsang kelenjar keringat, sehingga produksi keringat bertambah) 


                       V.      Perubahan-perubahan Harian Suhu Tubuh Normal.

   Suhu tubuh normal setiap orang berbeda-beda di samping itu pada seseorang yang sehat pun dalam satu hari suhu tubuhnya dapat berubah-ubah, tetapi orang yang sehat  dapat menyesuaikan suhu badannya dengan aktivitas fisik dan perubahaan suhu di sekitarnya, sehingga tidak  ada perubahan suhu badan yang berarti. Variasi temperatur normal ini dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air.
   Pada semua orang , maka suhu badannya akan menunjukkan  fluktuasi selama 24 jam . Suhu badan yang tertinggi terdapat pada jam 5-6 sampai jam 7-10 malam(meningkat pada sore hari menjelang malam/meningkat pada sore hari ). Suhu badan yang terendah terdapat pada jam 2 sampai jam 4-6 pagi(turun setelah tengah malam menuju subuh/rendah pada pagi hari). Dan pada waktu penderita demam maka suhu badannya lebih tinggi dari suhu malam hari. seseorang dikatakan demam bila suhu tubuh di antara pukul 00.00-12.00 lebih dari 37,2 derajat C dan diantara pukul 12.00-24.00 lebih dari 37,5-37,7 derajat C.Pada anak usia kurang dari 12 tahun, suhu tubuh waktu malam hari sering lebih tinggi, rata-rata 37,4oC.
Variasi suhu tubuh normal pada anak :
* Bayi umur kurang dari 6 bulan , variasi suhu tubuhnya sangat kecil setiap hari.
* Bayi 6 bulan sampai 2 tahun variasi perhari sekitar 1 derajat.
* Variasi suhu tubuh per hari berangsur-angsur meningkat sekitar 2 derajat sampai umur 6 tahun.
   Kenaikan suhu ½ derajat atau sedikit meningkat dapat terjadi setelah aktifitas , setelah mandi air panas , anak menangis, setelah makan atau cemas.
   Pada wanita menjelang ovulasi suhu badan akan turun ( hari ke-12 dan 13 siklus haid ), dan kurang  dalam 24 jam sesudah ovulasi suhu badan basal naik lagi sampai tingkat lebih tinggi sampai akan terjadi haid . Suhu basal yang sesudah ovulasi  tetap tinggi terus antara 37,2˚ C - 37˚,8 ˚ C adalah salah satu tanda adanya kehamilan.






Melacak Masa Subur dengan Mengukur Suhu

Cara untuk menentukan adanya ovulasi (keluarnya sel telur)  dengan cara pengukuran suhu basal badan.

Syarat menentukan masa subur dengan pengukuran suhu tubuh adalah :
.
-         Suhu badan diukur mulai berhentinya haid, segera setelah bangun pagi (awaking temperature) sebelum bergerak dari tempat tidur, makan atau minum tiap hari(sebelum melakukan aktivitas).
-         suhu tubuh tidak dalam keadaan demam
-         tidak tidur di dekat lampu yang sangat panas atau dengan AC yang sangat dingin
-         Dikerjakan setiap hari pada jam yang sama selama tiga bulan.

Kalau suhu badan kacau, susah mengukurnya dan pemeriksaan pun gagal

Alat dan cara pengukuran :

Gunakan thermometer yang dimasukkan ke dalam mulut (dimasukkan di bawah lidah) atau dubur (rektum) bukan yang dijepit di ketiak.
Dapat digunakan termometer khusus untuk mengukur suhu badan basal.
Letakkan termometer di bawah lidah selama 5-6 menit.
Tutup mulut selama pengukuran berlangsung.
Catatlah perubahan suhu yang terjadi setiap hari.
Hasil pencatatan dicatat pada kurve.
Jangan lupa untuk  menghubungkan catatan hari ini dengan hari-hari berikutnya , sehingga membentuk kurva.

Hasil pencatatan :

Siklus Ovalatoar

Suhu badan bersifat bifasis
, yakni pada fase proliferasi suhu pada tingkat rendah dan pada fase sekresi pada tingkat yang lebih tinggi.
Suhu yang paling rendah ialah pada saat LH surge untuk naik sesudah ovulasi.
Selisih suhu sebelum ovulasi dengan sesudahnya paling sedikit 0,4 derajat Celcius.

Siklus Anovalatoar

Tidak terjadi kenaikan suhu tubuh.
Terjadi pada siklus anovulatoar suhu basal, yaitu bersifat monofasis.
Yaitu tidak terjadi kenaikan suhu tubuh, bisa berarti tidak terjadi masa subur karena tidak adanya korpus luteum yang akan memproduksi progesterone.

Kenaikan suhu tubuh terus berlangsung setelah masa subur (kenaikan suhu lebih dari 19 hari), pertanda/menunjukkan kemungkinan dimulainya kehamilan/telah terjadi konsepsi. Karena jika sel telur berhasil dibuahi, berarti korpus luteum akan terus memproduksi hormone progesteon. Dengan demikian , suhu tubuh tetap tinggi.


 
                       VI.  Peningkatan Suhu Tubuh 
 A. Demam/ panas
Secara umum peningkatan derajat suhu tubuh kita sebut demam, misalnya orang yang terkena kuman yang suhu badannya dapat meningkat dan pada orang yang terkena paparan panas atau anak yang setelah banyak bermain, secara umum peningkatan suhu tubuhnya dikatakan tubuhnya panas atau demam  . Namun secara patogenesis/mekanisme peningkatan suhu tubuh/ penyebab, istilah ini dibedakan dengan hipertermi . Istilah demam atau fever ditujukan untuk peningkatan suhu tubuh dimana set point di hipotalamus meningkat sedangkan hipertermi peningkatan suhu tubuh tidak meningkatkan set point di hipotalamus dan tidak melibatkan pirogen. Membedakan demam dan hipertermi sangat penting karena terdapat perbedaan dalam penanganannya. Hipertermi dapat dengan cepat menjadi fatal dan tidak respon terhadap obat penurun panas (antipiretik)
      Demam dapat terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran panas. Demam dianggap terjadi kalau ada kenaikan suhu tubuh yang bersifat episiodik atau persisten di atas nilai normal dan ada referensi yang mengatakan peningkatan suhu minimal 24 jam . Demam biasanya lebih dikenal dalam masyarakat umum adalah demam yang dihubungkan dengan peningkatan suhu akibat penyakit akibat kuman atau karena tumbuh gigi pada anak. Jadi dalam pembahasan mengenai demam, dikatakan peningkatan suhu tubuh secara abnormal dapat terjadi dalam bentuk hipertermi dan demam. 
       Pada penampakan pertama (stadium pertama), tanda demam termasuk : 
- suhu tubuh meningkat
- peningkatan denyut nadi
- meningkatnya pernafasan
-menggigil
- kulit dingin dan tampak pucat
- merasa dingin 
Selama perjalanan dari demam (stadium kedua), tanda klinis termasuk :
- kulit terasa panas disentuh
- peningkatan denyut nadi dan pernafasan bertambah
- merasa haus
- dehidrasi
- hilang nafsu makan
- penderita merasa benar-benar sakit
-  merasa cemas
-  mengantuk, gelisah, dapat apatis dan dalam kasus berat delirium (mengigau)
Ketka demam mulai mereda (stadium ketiga), pasien masih merasa hangat (suhu tubuh mulai menurun) dan kulit kemerahan, berkeringat, masih dehidrasi tapi tidak merasa kedinginan lagi dan merasa sangat letih.
     Panas atau demam sebenarnya bukan suatu penyakit , melainkan gejala dan tanda berbagai dari penyakit terutama infeksi , jadi bukan diagnosis. Secara teknis, kata gejala mengacu pada apa yang dirasakan   atau dialami sesorang, misalnya demam atau nyeri. Kata tanda (sign) tidak merujuk  pada pengalaman subyektif sesorang, tetapi pada sesuatu yang dapat diamati dan dapat diukur oleh petugas kesehatan. Contoh tanda ini adalah demam (peningkatan suhu tubuh) atau denyut jantung. Bayi dan anak kecil seringkali tidak mampu mengemukakan gejala khusus secara verbal sehingga seperti halnya dalam literatur kesehatan anak maka kedua istilah tersebut dianggap sama. Demam biasa disertai dengan gejala yang  tidak spesifik seperti rasa lemah, nyeri kepala, sakit pada otot dan perasaan panas dingin, di samping itu keluhan dan gejala yang lebih khas dari penyakit penyebabnya bisa ditemukan. Demam merupakan gambaran berbagai macam kelainan seperti infark miokard, penyakit jaringan ikat dan sebagian keganasan , tetapi paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.
          Mengetahui penyebab demam sangat perlu untuk menentukan pengobatan bagi penderita. Agar mengetahui penyebab demam ini, Anda memerlukan bantuan dokter untuk melakukan pemeriksaan fisik / gejala klinis penyakit dan mendiagnosis penyebab demam.Karena penyakit tertentu sulit didiagnosis dengan melihat keadaan fisik dan gejala klinis, maka pemeriksaan laboratorium ( dari darah, air seni, cairan tubuh lain ) sering pula diperlukan untuk memastikan diagnosis sehingga pengobatan pun lebih tepat. Beberapa sarana diagnostik lain seperti EKG, USG , X-Ray, scanning dsb, kadang-kadang juga diperlukan.

Penyebab peningkatan suhu tubuh (demam dan hipertermi)

Penyebab umum suatu demam / peningkatan suhu tubuh adalah infeksi, namun terdapat daftar penyebab peningkatan suhu tubuh yang lain yang cukup banyak. Secara patogenesis jika peningkatan suhu tubuh tidak meningkatkan set point di hipotalamus maka disebut hipertermi.

1.SET POINT HIPOTALAMUS MENINGKAT
a. pirogen  
* Infeksi a.l : (oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus,parasit dan jamur)
- demam tifoid
- demam berdarah
- pes
- chikungunya
- penyakit tangan,kaki mulut
- kawasaki 
- malaria
- influenza
- pilek 
- sinusitis
- pnemonia 
- bronkitis
- pertusis
- tbc
- tetanus
- meningitis
- mumps
- morbili ( campak )
- campak Jerman
- tonsilitis
- difteri 
- otitis media(infeksi telinga tengah)
- cacar air
- infeksi saluran kencing 
- radang hati
- abses
- penyakit kecacingan
- gastroenteritis 
- radang usus buntu

- poliomielitis
- sepsis
Non Infeksi

* Keganasan
limfoma
karsinoma ginjal


* Penyakit kolagen
demam rematik
rematik atritis
periatritis nodosa
lupus eritematosus
 * Penyakit iatrogenik
- vaksinasi
- demam obat (panas karena steroid)
 * Penyakit hematologik/vaskuler
- Leukemia
- Anemia hemolitik
-Tromboflebitis
- Neutropenia Siklik
* alergi
b. Penyakit atau Zat
-  Kerusakan susunan saraf pusat
- keracunan DDT
- kalajengking
- penyinaran
- keracunan epinefrin

2. SET HIPOTALAMUS NORMAL
a. Pembentukan panas melebihi pengeluaran panas
- hipertermia malignan
- hipertiroidisme
- hipernatremia
- keracunan aspirin
b. Lingkungan lebih panas daripada pengeluaran panas 
- mandi sauna berlebihan
- panas di pabrik
- pakaian berlebihan

c. Pengeluaran panas tidak baik (rusak)
displasia ektoderm
-  luka bakar
- keracunan phenothiazine


heat Stroke
3. RUSAKNYA PUSAT PENGATUR SUHU
Penyakit yang langsung menyerang set point hipotalamus 
- ensefalitis/meningitis
- trauma kapitis
- perdarahan di kepala yang hebat
- penyinaran


Patofisiologi Demam


Pirogen (zat asing) adalah suatu zat (substansi) yang dapat menyebabkan demam. Pirogen terbagi dua yaitu pirogen yang berasal dari luar tubuh (eksogen) dan pirogen berasal dari dalam tubuh (endogen). Contoh pirogen eksogen antara lain bakteri, jamur, virus dan produk-produk yang dihasilkan oleh agen-agen tersebut (misalnya, endotoksin). Pirogen eksogen sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang pelepasan pirogen endogen.  Pirogen endogen dapat juga dilepaskan pada penyakit non infeksi seperti kerusakan jaringan oleh sebab apapun (misalnya cedera tergencet), reaksi peradangan akibat luka besar atau operasi, penyakit vaskular- kolagen, keadaan hipersensitivitas (misalnya reaksi obat atau transfusi darah), penyakit Hodgkin, dan kanker sel ginjal.
            Beberapa ahli fisiologi yakin bahwa zat pirogen eksogen mempunyai kerja langsung pada termostat dengan meningkatkan setting. Akan tetapi, terdapat alasan yang dapat dipercaya bahwa sebagian besar pirogen memengaruhi termostat hipotalamus secara tidak langsung dengan cara sebagai berikut: Pirogen eksogen, dapat berupa infeksi atau noninfeksi, akan merangsang sel-sel makrofag, monosit, limfosit, pan endotel (komponen sistem kekebalan tubuh) (sel-sel ini secara autokatalisis dihancurkan waktu mereka melakukan fagositosis jaringan)  untuk melepaskan interleukin (IL)-1, interleukin (IL)-6, Tumor ''necrosis Factor  (TNF)-a dan interferon (IFN)-α (selanjutnya disebut Pirogen Endogen (PE) atau pirogen sitokin). Pirogen endogen ini, setelah berikatan dengan reseptornya di daerah preoptik hipotalamus, akan merangsang hipotalamus untuk mengaktivasi fosfolipase-A2 yang selanjutnya akan melepas asam arakhidonat dari membran fosfolipid, dan kemudian oleh enzim siklooksigenase-2 (COX-2) akan diubah menjadi prostaglandin E2 (PGE2). Rangsangan prostaglandin inilah, baik secara langsung maupun melalui pelepasan siklik AMP, mengatur termostat pada suhu tubuh yang lebih tinggi. Hal ini merupakan awal dari berlangsungnya reaksi terpadu sistem saraf autonom, sistem endokrin, dan  perubahan perilaku dalam terjadinya demam (peningkatan suhu). Pusat panas di hipotalamus dan batang otak kemudian akan mengirimkan sinyal agar terjadi peningkatan produksi dan konservasi panas sehingga suhu tubuh naik sampai tingkat suhu baru yang ditetapkan. Hal demikian dapat dicapai dengan vasokontriksi (penyempitan) pembuluh darah kulit, sehingga darah yang menuju permukaan tubuh berkurang, dan panas tubuh yang terjadi di bagian inti tubuh tetap memelihara suhu inti tubuh. Epinefrin yang dilepas akibat rangsangan saraf simpatis akan meningkatkan metabolisme tubuh dan tonus otot. Mungkin terjadi proses menggigil dan atau individu berusaha mengenakan pakaian tebal serta berusaha melipat bagian-bagian tubuh tertentu untuk mengurangi penguapan.
              Selama demam, arginine vasopresin (AVP), alphamelanocyte-stimulating hormone, dan corticotropin releasing factor akan dilepas oleh tubuh. Zat ini dapat bekerja sebagai antipiretik endogen (antipiretik intrinsik) untuk menurunkan reaksi demam, sehingga suhu tubuh tidak meningkat berlebihan. Efek antipiretik ini akan membuat rangkaian umpan balik terhadap hipotalamus. Arginine vasopresin (AVP) atau vasopresin, atau juga dikenal sebagai hormon antidiuresis yang diproduksi selama demam, akan menimbulkan  retensi air oleh ginjal dan hal inilah mungkin yang berperan dalam pengaturan suhu tubuh pada saat demam. Namun, bagaimana persisnya mekanisme kerja antipiretik endogen ini sampai saai ini belum jelas.
               Pada mulanya yang dianggap sebagai pemicu reaksi demam adalah infeksi dan produk infeksi. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata beberapa molekul endogen seperti kompleks antigen-antibodi, komplemen, produk limfosit dan inflammation bile acids juga dapat merangsang pelepasan pirogen sitokin. Konsep bahwa sitokin dapat menginduksi sitokin lain juga penting untuk dipahami untuk menerangkan mekanisme demam akibat penyakit noninfeksi. Pada tumor, penyakit darah, keganasan, penyakit kolagen, penyakit metabolik, sumber pelepasan PE bukan dari PMN tapi dari tempat lain.
               Secara teoretis kenaikan suhu pada infeksi dinilai menguntungkan, karena aliran darah makin cepat sehingga makanan dan oksigenasi makin lancar. Namun, kalau suhu makin tinggi (di atas 38,5oC) pasien mulai merasa tidak nyaman, aliran darah cepat, jumlah darah untuk mengaliri organ vital (otak, jantung, paru) bertambah, sehingga volume darah ke ekstremitas (tangan dan kaki) dikurangi, akibatnya ujung kaki/tangan teraba dingin. Demam yang tinggi memacu metabolisme yang sangat cepat, jantung dipompa lebih kuat dan cepat, frekuensi napas lebih cepat. Dehidrasi terjadi akibat penguapan kulit dan paru dan disertai dengan ketidakseimbangan elektrolit, yang mendorong suhu makin tinggi. Kerusakan jaringan akan terjadi bila suhu tubuh lebih tinggi dari 41oC, terutama pada jaringan otak dan otot yang bersifat permanen. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan batang otak, terjadinya kejang, koma sampai kelumpuhan.


Kerusakan otot yang terjadi berupa rabdomiolisis dengan akibat terjadinya mioglobinemia.

Tipe Demam
Beberapa tipe demam yang mungkin kita jumpai, antara lain :
1. Demam kontinyu (continous fever)
Pada tipe demam kontinyu variasi/fluktuasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat(fluktuasiminimal) tetapi tetap di atas suhu normal  dan agak konstan. Pada tingkat demam yang yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksi.
Dapat ditemukan pada:
* meningitis
* demam tifoid/paratifoid
* pneumonia pneumokokus
* erisipelas
 2. Demam intermittent
Pada tipe demam intermittent, suhu badan naik turun/berfluktuasi  turun ke tingkat yang normal/di bawah normal dan kemudian meningkat lagi dengan fluktuasi> 1 derajat C. Pada tipe demam intermiten suhu badan turun ke tingkat normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali disebut tertiana dan bila terjadi dua hari bebas demam di antara dua serangan demam disebut kuartana.
Dapat ditemukan pada:
* malaria
* sepsis
* bakterial endokarditis
* gram negatif bakteriemia
* abses
* miliar tbc

3. Demam remiten (remittent)
Pada tipe demam remiten, suhu badan naik turun/berfluktuasi > 1-2 derajat ( tapi tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat pada demam septik) setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal.
Dapat ditemukan pada :
* influenza
* malaria tropica
* tbc
* demam tifoid
4. Demam septik
Pada tipe demam septik, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun sedikit kembali ke tingkat di atas normal (tidak sampai normal) pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ke tingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
5. Demam hektik

Dapat ditemukan pada :
* abses
* infeksi piogenik seperti pielonefritis dan kolangitis asendes
* tbc
* hipernefroma
* limfoma
* reaksi obat
6. Demam periodik/siklik/relaps
Demam periodik ditandai oleh episode demam berulang dengan interval regular atau irregular. Tiap episode diikuti satu sampai beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan suhu normal.
Berdasarkan sifat periodiknya :
Dapat ditemukan pada malaria :
Pada infeksi malaria, demam secara periodik berhubungan dengan waktu pecahnya sejumlah skizon matang dan keluarnya merozoit yang masuk dalam aliran darah (sporulasi).
- Demam quotidian
          Demam dengan periodisitas siklus setiap 24 jam, khas pada malaria falciparum  {Demam quotidian ganda memiliki dua puncak dalam 12 jam (siklus 12 jam)}
- Demam tersiana
          Skizon setiap kelompok menjadi matang setiap 48 jam sehingga periodisitas demamnya bersifat tersiana, khas pada malaria vivax dan ovale.
- Demam kuartana
Demam dengan periodisitas siklus setiap 72 jam, khas pada malaria kuartana (Plasmodium malariae)
* malaria : demam biasanya bersifat intermiten, dapat juga remiten atau kontinyu (terus menerus).
* kolangitis
* hodgkin's diseases dan keganasan lain
# Relapsing fever adalah demam yang terjadi beberapa hari kemudian suhu tubuh turun sampai normal beberapa hari, kemudian akan timbul demam lagi. Contoh : malaria dan dengue
Pada malaria :
Dapat terjadi relaps yaitu gejala infeksi yang timbul kembali setelah serangan pertama, dimana relaps dapat bersifat :
a. rekrudensi (atau relaps jangka pendek) yang timbul karena parasit dalam darah menjadi banyak. Demam timbul lagi dalam waktu 8 minggu sesudah serangan pertama hilang.
b. rekurens (atau relaps jangka panjang) yang timbul karena parasit daur eksoeritrosit dari hati masuk dalam darah dan menjadi banyak, sehingga demam timbul lagi dalam waktu 24 minggu atau lebih setelah serangan pertama hilang.

# Demam bifasik termasuk relapsing fever :
Terjadi beberapa hari (periode demam pendek) kemudian suhu tubuh turun sampai normal  beberapa hari (1-2 hari), kemudian akan timbul demam lagi.
- poliomielitis
- dengue
 

7.  Undulan (Undulant fever)
Suatu tipe demam intermiten dan menetap, demam kira-kira 1 minggu-1 bulan diikuti masa tanpa demam lalu demam lagi dst berulang seperti gelombang dan berakhir 6-9 bulan.
Dapat ditemukan pada:
* Malta fever
* demam karena minum susu kambing yang mengandung brucella melitensis (brucellosis)
* limfoma abdominalis 
8. Demam efemera
Demam 1 hari disebabkan infeksi ringan saluran pernafasan, transfusi darah atau pemakaian obat tertentu melalui IV.


Tindakan pada anak dengan demam diawali dengan pertimbangan apakah ada kegawatan, apa penyebabnya dan apakah demam perlu segera diturunkan. Agar tindakan tersebut tepat dan terarah,diperlukan suatu pengelompokan / klasifikasi pasien agar dapat digunakan suatu algoritma umum. Pada tiap kelompok tetap ada kriteria kegawatan, kriteria jenis infeksi yang mengarah kepada tindakan yang diambil, terutama perawatan dan pemberian antibiotik secara empirik. Tindakan yang dilaksanakan sebaiknya bukan tindakan yang sifatnya sesaat, tetapi merupakan tindakan yang berkesinambungan, sampai pasien lepas dari masalahnya. Keputusan untuk dirawat harus dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium dan pemberian antibiotik empirik. Tindakan lanjutan akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan penunjang, respons pasien terhadap pengobatan sampai masalahnya selesai dengan tuntas.

Klasifikasi Demam untuk Menentukan Tindakan
Demam dapat  merupakan satu-satunya gejala yang ada pada pasien infeksi. Panas dapat dibentuk secara berlebihan pada hipertiroid, intoksikasi aspirin ataua danya gangguan pengeluaran panas, misalnya heatstroke.
Klasifikasi dilakukan berdasar pada tingkat kegawatan pasien, etiologi demam  dan umur
Klasifikasi berdasarkan umur pasien dibagi menjadi  kelompok  umur  kurang darri 2 bulan, 3-36bulan dan  lebih dari 36 bulan. Pasien berumur kurang dari 2 bulan, dengan atau tanpa tanda SBI (serious bacterial infection)
.
Infeksi seringkali terjadi tanpa disertai demam. Pasien demam harus dinilai apakah juga menunjukkan gejala yang berat.
Menurut Yale  Acute Illness Observation Scale atau Rochester Criteria,yang menilai adakah infeksi yang menyebabkan kegawatan. Pemeriksaan darah (leukosit dan hitung  jenis) dapat merupakan petunjuk untuk perlunya perawatan dan pemberian antibiotik empirik.

Klasifikasi berdasarkan lama demam pada anak, dibagi menjadi:
1.Demam kurang 7 hari (demam pendek) dengan tanda lokal yang jelas, diagnosis etiologik dapat ditegakkan secara anamnestik(berdasarkan wawancara perjalanan penyakit), pemeriksaan fisis,dengan atau tanpa bantuan laboratorium,misalnya tonsilitis akut.
2.Demam lebih dari 7 hari, tanpa tanda lokal, diagnosis etiologik tidak dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisis, namun dapat ditelusuri dengan tes laboratorium, misalnya demam tifoid.
3.Demam yang tidak diketahui penyebabnya,sebagian terbesar adalah sindrom virus.
Di samping klasifikasi tersebut di atas, masih ada klasifikasi lain yaitu klasifikasi kombinasi yang menggunakan tanda kegawatan dan umur sebagai
entry ,dilanjutkan dengan tanda klinis, lama demam dan daerah paparan sebagai kriteria penyebab.
 

Pendekatan Tatalaksana
 

Pada tahap tertentu demam dapat menguntungkan pasien dalam arti dapat meningkatkan fagositas (respon imun) dan menurunkan viabilitas kuman, meskipun penelitian yang ada belum mendukung manfaat klinisnya. Namun kecemasan orang tua dan keraguan dokter mendorong tindakan menurunkan demam, meskipun tindakan itu dapat mengaburkan gejala dan obat yang dipakai belum tentu aman dari risiko sindrom Reye ,intoksikasi salisilat, dan gangguan hati. Penurunan demam harus sesuai dengan klasifikasi penyebabnya, apakah perlu menurunkan set-point atau dengan cara lain.Tata laksana anak dengan demam terdiri dari tatalaksana fisis, dan pengobatan baik simtomatik(gejala) maupun etiologik (penyebab).
 

Apa yang harus dilakukan jika demam (terutama untuk anak )?
     - * Pertolongan pertama /pertolongan di rumah : 

Tindakan Umum Penurunan Demam secara Simtomatik (berdasarkan gejala)

Sebetulnya demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit misalnya oleh bakteri dan virus(penyebab utama demam pada anak). Para ahli yakin, tubuh dapat lebih efektif melawan infeksi jika suhunya naik. Nah jika perilaku si sakit tidak banyak berubah, tetap aktif, mau makan dan minum, biarkan tubuhnya bekerja secara alami. Namun jika demam tinggi, misalnya mencapai 39 derajat C, biasanya justru menyebabkan penderita gelisah, tidak bisa tidur dan kehilangan nafsu makan-minum, bila kondisi ini berlanjut, daya tahan tubuh justru menurun dan makin sulit mengatasi serangan kuman.Jadi kita harus tetap waspada dan demam tetap harus dipantau kalau-kalau demam tersebut mengarah ke penyakit yang serius. Ingat untuk melakukan tindakan diatas sesuai klasifikasi di atas: yaitu mempertimbangkan kegawatan penderita ,penyebab,usia, dan kondisinya.  

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk merawat penderita demam a.l :

Penanganan fisiologis
1. Jangan panik.
 Pada tahap awal ”serangan” penyakit, tubuh secara alami mempertahankan diri dan melawan penyebab penyakit. Namun sering kali, jika terjadi pada anak, pada tahap awal indikasi penyakit saja, Anda sudah panik, khawatir berlebihan,  dan tanpa observasi dulu, langsung membawanya ke dokter atau memberinya obat-obatan. Padahal tindakan ini bisa menjadi berbahaya karena obat-obatan yang tidak perlu.
Menghadapi situasi tersebut yang perlu dilakukan orangtua adalah mencari tahu penyebab tingginya suhu tubuh tersebut, apakah karena flu , radang tenggorokan, setelah imunisasi, kekurangan cairan , suhu udara kelewat panas, terlalu lama bermain di terik matahari atau penyebab lain.
          Kemudian mencari informasi dan meminta penjelasan dokter tentang apa yang sedang dialami anak adalah tindakan paling bijak yang bisa Anda lakukan sebelum memberikan obat-obatan


2. Monitor kondisi anak
Ukur suhunya. Dan jika anak demam , seharusnya diukur lagi suhu anak setelah 20-30 menit, untuk meniadakan kasus peningkatan suhu yang sementara. Yakinkan pakaian tidak terlalu tebal atau terbungkus oleh selimut. Menangis dapat meningkatkan suhu. Anak yang demam perlu dipantau terus suhu tubuhnya setiap 4-6 jam sekali dan catat apakah turun, stabil atau malah meningkat .
Kita perlu tahu kondisi anak, lihat gejala yang muncul. seperti batuk, pilek, demam dengan gejala khas misalnya muncul lesi pada penyakit cacar. Monitor kondisi anak, apakah gejalanya membaik atau tidak.  
3. Buka pakaian dan mantel/selimut yang berlebihan. Kenakan pakaian yang tipis dan nyaman yang dapat menyerap keringat. Kain linen dan katun memungkinkan pelepasan panas yang baik.
4. Perhatikan Suhu kamar dan aliran udara di dalam ruangan .
Aturlah sirkulasi udara dalam kamar agar suhunya terasa nyaman. Dapat dengan kipas angin. Jika menggunakan alat pendingin ruangan, aturlah suhunya di angka 22-24-26 derajat C( suhu kamar sejuk) dengan kelembaban antara 65 % sampai 95 % karena suhu ruangan yang nyaman akan merangsang tubuh untuk lebih gencar mengeluarkan panas dengan tujuan menyesuaikan diri.
4. Peluk Si Kecil agar panas badannya berpindah ke tubuh Anda. 
Bayi baru lahir yang sedang demam, paling baik digendong dengan metoda kanguru untuk mengurangi panas tubuhnya. Caranya gendonglah bayi di dada dalam keadaan telanjang di balik pakaian ibu yang longgar agar terjadi sentuhan kulit. Kontak kulit membantu menurunkan demam bayi. Gendong kanguru hanya cocok untuk demam akibat sakit ringan.
5.. Banyak Minum , makanan bergizi dan beristirahat. Beri asupan cairan lebih banyak, lebih baik manis atau beri tambahan gula ( dapat air mineral, jus, minuman isotonik )( panas terbuang lewat air kencing) . Teh dan minuman berkafein sebaiknya dihindari selama demam karena kafein dapat menginduksi diuresis (sering berkemih). Makanan dingin seperti es krim, buah-buahan dingin untuk memberikan rasa nyaman (melihat juga keadaan seperti apa ada sakit menelan dan batuk sebaiknya jangan diberi makanan dingin).
 Hanya untuk penderita yang demam karena radang tenggorokan akan susah menelan sehingga biasanya tidak mau makan atau menyusu, coba tawarkan cairan sedikit demi sedikit, misalnya 3-4 sendok, namun sering. Jangan langsung diberikan dalam jumlah banyak..
 Jika si kecil masih minum ASI sering-seringlah disusui.
Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak, karena sulit dicerna oleh tubuh.

Minta anak beristirahat atau mengurangi aktivitas fisiknya. Tidur cukup agar metabolisme berkurang. Dengan beristirahat cukup, tubuh akan cepat kembali bugar.
6. Jika si sakit merasa tidak nyaman atau suhunya melampaui 37,5;>39 derajat Celsius berikan kompres air hangat atau kompres  basah( bukan air es). 
Cara kompres 
-  Makin tinggi suhu demamnya, makin hangat air kompres yang diberikan. Yang dimaksud "hangat" adalah tak lebih dari suhu tubuh anak. Suhu air yang paling baik untuk kompres adalah 27o-34oC.Kompres suhu >39oC: air hangat; suhu >38oC: air biasa-hangat-hangat kuku.
Derajat suhu air untuk pengompresan diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Dingin sekali : Di bawah 15ºC
2. Dingin : 15-18ºC
3. Sejuk/biasa              : 18 – 26ºC (65 – 80ºF)
4. Hangat kuku           : 26 – 34ºC (80 – 93ºF)
5.Hangat                     : 34 – 37ºC  (93 – 98ºF)
6.Panas                        : 37 – 41ºC (98 – 105ºF)
7.Sangat panas            : 41 – 46ºC (105 – 115ºF)

- Kompres dengan handuk kecil pada daerah leher, ketiak atau selangkangan(tempat berlalunya pembuluh darah besar) , dan jika perlu dahinya.
- Mengusap air hangat disekujur tubuh dengan handuk basah lalu keringkan.Diulangi beberapa kali hingga suhu tubuhnya turun.(
- Kalau perlu/Mandi air hangat (30-32 º Celcius).
- Berendam/mandi celup  dalam air hangat, cukup 5-10 menit.
- Cek suhu setelah 30 menit kemudian.
Yang perlu diperhatikan waktu mengompres.

    Waktu mengompres tidak dianjurkan alkohol karena selain beresiko mengiritasi mata,mengiritasi kulit dan uapnya bisa terhirup . 
    Kompres dengan menggunakan air dingin dan alkohol untuk menurunkan suhu tubuh sudah dikenal sejak zaman dulu kini, yang lazim digunakan untuk membantu menurunkan suhu tubuh anak adalah kompres air hangat , karena jika suhu di luar tubuh terasa hangat, maka tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu di luar cukup panas. Dengan demikian, tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu  tubuh lagi. Semakin tinggi demamnya, sebaiknya semakin berambah kehangatan airnya. Hal ini agar perbedaan antara suhu air dengan suhu tubuh anak tidak terlalu besar. Jika kompres diberikan dengan air yang terlalu dingin, maka pembuluh darahnya akan mengecil, sehingga panas tubuh tidak keluar. Anak pun bisa semakin menggigil untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuhnya.
      Kompres sekali pakai boleh dipakai tapi tidak direkomendasikan anak di bawah 2 tahun, karena kulit bayi masih sensitive dan daerah yang dikompres pun hanya sebagian kecil permuakaan tubuh, padahal prinsip mengompres membasahi seluruh permukaan tubuh.
       Meletakkan kompres pada tempat yang tepat.
Panas tubuh akan keluar melalui pembuluh-pembuluh darah besar yang dekat dengan kulit yang berada di leher, ketiak  dan selangkangan. Oleh karena itu, sebaiknya pemberian kompres dilakukan di sekitar pembuluh-pembuluh darah besar, seperti di ketiak dan lipatan paha sekitar 15-20 menitt. Perut atau bagian tubuh yang luas dan terbuka dapat pula dikompres.
          Mengompres dengan Menyeka 
          Caranya : celupkan 2/3 handuk kecil ke dalam air hangat, lalu usapkan pada kening, muka, telinga, leher, lengan lipat paha, dan kaki. Lakukan selama 15-20 menit sampai suhu tubuh turun di bawah 38 derajat Celsius. 
Memandikan anak
Bila perlu, mandikan anak dengan air hangat karena selain berfungsi untuk mengompresnya, mandi juga membersihkan tubuh anak dari kuman  yang ada di kulitnya. Jadi bila anak demam sebaiknya mandikan dengan air hangat. Setelah mandi segera keringkan tubuh anak dengan handuk dan cepatlah berganti pakaian agar tidak kedinginan.  

Mandi berendam  

untuk demam suhu 40oC, rendamlah anak Anda dalam air hangat selama 15 menit. Jika anak menggigil atau memprotes bahwa airnya mulai dingin , cepat angkat.  
   Menyeka dengan air suam-suam kuku atau air dingin sebaiknya tidak dilakukan  pada anak yang menderita pneumonia karena hal tersebut akan meningkatkan pemakaian oksigen dan meningkatkan produksi karbondioksida yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan pada anak.

Peranan kompres :
Tindakan mengompres akan melancarkan sirkulasi darah dan membuka pori-pori kulit sehingga memberikan kesempatan panas keluar dari tubuh ke lingkungan sekitarnya.

   Bila suhu demam anak sampai di atas 39o C maka sebaiknya lakukan pengompresan untuk membantu menurunkan suhunya .Kompres dilakukan juga jika anak gelisah dan tak nyaman, anak muntah-muntah dan tak bisa minum obat penurun panas. Juga merupakan pertolongan pertama bila di malam hari di mana kebetulan persediaan obat penurun panas tidak ada. Kompres bermanfaat menurunkan demam dalam waktu 30-45 menit.
7. Usahakan si sakit tidak stres atau bertambah stres

JIka dengan penanganan fisiologis ternyata suhu tubuhnya tak kunjung reda atau sembuh. Penanganan yang harus dilakukan : 
1. Tetap melakukan penanganan secara fisiologis
2. Berikan obat penurun panas
*   Sebaiknya hanya diberikan jika suhu diatas 38,5 ºC (per aksila) karena di suhu  ini fungsi-fungsi tubuh sudah bisa terganggu.(kecuali pada bayi muda indikasi segera)
Demam yang tinggi (≥39ºC /per anus) dapat menimbulkan efek yang mengganggu seperti :
- berkurangnya nafsu makan
- membuat anak gelisah
- menyebabkan kejang pada beberapa anak yang berumur antara 6 bulan-5 tahun
- meningkatkan konsumsi oksigen (misalnya pada pneumonia sangat berat, gagal jantung atau meningitis)
Indikasi lain pemberian obat penurun panas.
- Penyebab penyakit telah diketahui dan pengobatan yang sesuai telah dimulai, namun demam masih menetap dan menimbulkan ketidaknyamanan.
- Demam pada penderita kanker. 

*  Menurut pedoman NICE (National Institute for Health and Clinical Excellence-UK), obat anti demam tak bisa digunakan secara rutin pada anak dengan demam. Kecuali, si anak kemudian menunjukkan gejala ketidaknyamanan, seperti menangis berkepanjangan, iritabilitas, aktifitas yang berkurang, selera makan menurun dan gangguan tidur, boleh saja diberikan obat anti demam. Dan segera dihentikan jika ketidaknyamanannya reda dan suhunya sudah menurun.
* Sementara menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan, indikasi pemberian obat anti demam perlu memerhatikan beberapa hal. Antara lain : jika demam lebih dan sama dari 39(≥ 39) derajat C (diukur melalui rektal), anak merasa tidak nyamam dan muncul gejala nyeri, tidak bisa tidur, tidak mau makan dan lainnya. Kemudian demam lebih dari 40,5 derajat C, demam yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme, keadaan undernutrition atau anak dengan gizi buruk, anak berpenyakit jantung, terjadi luka bakar, pasca operasi yang memerlukan anti demam, dan anak dengan riwayat kejang atau delirium yang disebabkan oleh demam . 


Alasan : 
Pada dasarnya, semakin tinggi suhu tubuh anak maka semakin efektif membunuh kuman sebab mereka tidak tahan panas sehingga cepat mati. Jika suhu baru 38 derajat Celcius langsung diberi obat penurun panas maka yang diuntungkan adalah si kuman karena bisa lebih lama hidup. Tujuan : supaya suhu tubuh anak bisa ikut membantu membunuh kuman .
   * Dapat juga mulai 38oC atau jika akibat demam anak merasa tak nyaman, rewel, tampak menderita, tak mau makan minum, pegal-pegal atau sakit badan, sakit kepala dan lainnya. Dikemukakan  bahwa obat penurun panas biasanya hanya menurunkan panas satu derajat saja. Kalau turunnya lebih dari itu, ada kemungkinan tubuhnya sendiri yang menurunkan suhu tersebut.
   * Pada anak dengan riwayat kejang , orang tua harus berhati-hati, berikan penurun demam walau hanya teraba hangat ( suhu baru mencapai sekitar 37,5 o C  demikian pula pada anak bayi dan balita. Jika mereka demam maka harus segera diberikan obat penurun demam. Jangan sampai melebihi 38,5 derajat Celcius. Sebab anak usia ini biasanya sulit beristirahat.  Pada bayi tubuhnya terasa tidak nyaman sehingga ia tidak mau tidur. Sementara pada anak balita biasanya kurang istirahat, lari ke sana kemari, membuat daya tahan tubuhnya menurun sehingga penyakit bisa tambah parah. Dengan obat penurun panas biasanya anak akan lebih nyaman sehingga bisa beristirahat. 
* Obat Penurun panas *
Parasetamol : Pemberian parasetamol oral harus dibatasi pada anak umur    2 bulan yang menderita demam ≥ 39 derajat C per anus dan gelisah atau rewel karena demam tinggi tersebut. Walaupun demam tinggi jangan menggunakan obat antipiretik misalnya parasetamol untuk mengontrol demam pada bayi muda. Atur suhu lingkungan. Jika perlu, buka baju bayi tersebut. Anak yang sadar dan aktif kemungkinan tidak mendapatkan manfaat dengan parasetamol.
Karena khasiat dan keamanannya telah teruji klinis dan pemakaiannya yang luas selama lebih dari 3 dekade, parasetamol diakui sebagai antipiretik(penurun panas) pada anak yang cukup baik. Selama di konsumsi dengan dosis yang tepat, parasetamol aman dan baik. Tidak menyebabkan gangguan lambung, namun dosis besar dan pemberian dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan hati. Masa kerjanya pendek, hingga obat ini sebaiknya diberikan 3 kali perhari dan 4 kali sehari dalam keadaan tertentu (konsultasi dengan dokter) . Dosisnya 10-15 mg untuk setiap kilogram berat badan per pemberian. 
Meski cukup aman, namun karena banyaknya produk obat yang menggunakannya sebagai bahan campuran, belakangan ini banyak penelitian yang menyebutkan terjadinya overdosis parasetamol akibat penggunaan jangka panjang.
Obat lainnya:
Yang tidak dianjurkan untuk bayi atau anak-anak di bawah 16 tahun adalah asetosal dan metamisol karena dapat berakibat fatal. 
Asetosal(aspirin tidak direkomendasikan sebagai antipiretik pilihan pertama karena dikaitkan dengan sindrom Reye, suatu keadaan yang jarang terjadi namun serius yang menyerang hati dan otak.  Pemberian asetosal dihindari juga pada anak yang menderita cacar air, demam dengue dan kelainan hemoragik lainnya.) Obat lain tidak direkomendasikan  karena efek toksiknya dan tidak efektif (dipiron/metamisol, fenilbutazon) atau mahal (ibuprofen). Penting pula diperhatikan, jangan memberi bayi 2 golongan obat sekaligus atau obat penurun panas yang kombinasi asetaminofen dan ibuprofen.

Kapan obat penurun panas diberikan pada anak? Beberapa contoh kondisi anak demam dan penanganan :
- Bila demam tidak tinggi, jangan berikan obat demam dan tidak perlu kompres, minum banyak saja.
- demam : mengompres, lebih baik mengusahakan dulu dengan menyeka seluruh permukaan tubuh dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat.
- <38.3’C : Tidak perlu obat penurun panas, ekstra cairan (minum banyak).

- 38.3 – 40’C, anak rewel : Beri obat penurun panas, kompres hangat.

- >40’C : Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter. 
     - Pasien dengan panas tinggi ternyata dengan obat penurun panas sudah cukup maka tak perlu dikompres lagi.


Membawa anak  ke dokter

 Apapun jenis penyakitnya sebaiknya segera di bawa ke dokter, terlebih jika usianya belum genap setahun, karena daya tahan tubuh anak relatif lebih lemah dibanding orang dewasa.
********************************************************************************************************

* Saat Tepat Ke Dokter 

 
* Yang terbaik secepat mungkin.

* Tak perlu menunggu sampai 2-3 hari 
Sebelum ke dokter, setidaknya menunggu sampai 24 jam, sembari memerhatikan gejala-gejala tambahannya, biasanya kalau gejalanya ringan.* Apabila langkah menurunkan demam tidak membawa hasil permanen dalam waktu enam jam, sebaiknya balita segera di bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Balita yang tetap mengalami demam walaupun telah diberi satu sampai dua kali obat penurun panas memerlukan penanganan lebih lanjut oleh dokter.
 
* Anggapan Tunggu Hingga 3 hari Ada anggapan yang sejatinya salah, ketika anak demam, tunggu saja dulu 3 hari. Jika demam tak turun baru mereka membawa anaknya ke dokter. Anggapan ini tidak bisa disamakan terhadap seluruh penyakit. Proses menunggu pun harus dikonsultasikan ke dokter, tidak bisa dilakukan atas kemauan sendiri. Untuk kebaikan anak, kebiasaan menunggu demam 3 hari perlu dihindari. Segera bawa anak ke dokter dan biarkan dokter mendiagnosis penyakit anak. Sangat mungkin diperlukan diagnosis tambahan mengingat untuk menjaga kemungkinan adanya penyakit yang di luar kebiasaan.  

 Sikap waspada harus selalu dimiliki karena ada penyakit yang memiliki "ritme" unik. Misalnya demam berdarah ada fase yang dapat mengecoh orang tua yaitu setelah demam 2 hari (umumnya) masuk hari ketiga suhu menurun dapat dianggap sudah membaik, padahal virus sementara giat-giatnya bekerja anak masuk ke dalam fase kritis di mana suatu keadaan yang sangat menentukan . Apabila penanganan tepat dan cepat akan dapat melewati fase tersebut dan masuk ke fase penyembuhan
* Pengalaman Ibu 
          Membawa anak ke dokter biasanya tergantung pada sensitivitas orangtua. Ada orangtua yang anaknya baru demam beberapa  jam saja langsung membawanya ke dokter. Ia tidak mau ambil risiko terjadi sesuatu yang lebih parah pada anaknya. Kondisi ini umumnya dilakukan para orangtua yang baru punya anak, punya anak satu-satunya, atau anak yang sudah lama dinanti kelahirannya.
    Adapula orangtua yang menunggu demam anak selama beberapa hari , misalnya sampai 3 hari. Ia hanya memberikan obat penurun panas atau memberi banyak minum. Bila dalam waktu tersebut tak mengalami perubahan, barulah ia membawanya ke dokter. Biasanya ini dilakukan para orangtua yang anaknya sudah lebih dari satu atau sudah berpengalaman menghadapi anak demam.
    

            Tindakan kedua orangtua  itu adalah wajar. Bagi orangtua yang menunggu demam hingga beberapa hari pun boleh saja. Asalkan, orangtua memang bisa memantau keadaan anaknya dan sudah mengerti kondisi anaknya bila sakit. Jadi bergantung pula pengetahuan dan pengalaman orangtua menghadapi si anak, ia sudah mengetahui apakah anaknya sekedar sakit biasa atau bukan.  Seperti demam ringan, pilek dan batuk ringan disertai demam  ada yang sudah membaik di hari ketiga. Memang secara ilmiah justru penyakit-penyakit ringan misalnya infeksi  virus yang menyebabkan ISPA dapat merupakan latihan bagi anak untuk memperkuat sitem imun anak. ( Sebaiknya ibu yang mengambil sikap ini sudah mengerti penanganan tentang pertolongan pertama jika anak sakit seperti melakukan monitoring kondisi anak, memberikan banyak minum dan istirahat, memberikan makanan bergizi, pilih-pilih makanan :; misal jangan beri minuman dingin jika pilek dan dapat mengatasi hidung tersumbat  :: memberi obat jika perlu seperti parasetamol untuk demam jika ia menduga suatu penyakit yang sembuh sendiri dengan antibodi (self limiting disease) .). Lebih baik lagi jika mendapatkan panduan dari dokter keluarga/ dapat per telepon. )
* Segera tak menunda-nunda lagi /segera ke dokter 
         Meski begitu/masih dapat menunggu beberapa hari untuk penyakit yang di duga dapat sembuh sendiri, orangtua sebaiknya tak menunda-nunda  membawa anak ke dokter bila menunjukkan hal-hal  berikut jika :
 - bayi berusia kurang dari 3 bulan 
- Demam :
*  dengan suhu dubur sama dengan atau lebih dari 38 derajat Celcius.
* Suhu mulut/oral melebihi 37,5 derajat Celsius atau 99,5 derajat Fahrenheit
* Suhu aksilari (ketiak) melebihi 37,2 derajat Celsius atau 99 derajat Fahrenheit
* Suhu telinga melebihi 37, 5 derajat Celsius atau 99,5 derajat Fahrenheit
- Lesu dan sulit bangun
Menangis tanpa henti selama beberapa jam.
·  Tidak mau makan/menetek.
·    Suhu tubuh rendah (kurang dari 36oC) meskipun sudah berpakaian semestinya. 
·    Kulit yang terasa dingin dan lembab.
·    Bibir, lidah, dan kuku terlihat berwarna biru.
·  Bibir kering dan pecah-pecah ( ditandai dengan adanya pengelupasan bibir dan berwarna putih).
·  Lemah dan mudah jatuh dibanding dengan aktivitas dan pola ototnya yang  normal.
·  Hidung bayi tersumbat ingus , hingga bayi tidak dapat bernafas.
·  Sekonyong-konyong menjadi kaku. 
Salah satu atau kedua matanya berubah pink bulu matanya lengket, kotorannya berwarna putih serta lengket.
·  Diare pada bayi lebih dari 6 - 8 kali sehari (terutama bila tinjanya cair). 
 Bagian lunak di kepala yang tampak menggelembung atau menonjol ke luar dan tidak bergerak naik turun sewaktu anak menangis.
·  Pusar kemerah-merahan dan terasa empuk bila ditekan.
·  Muntah-muntah.


Bayi berusia lebih dari 3 bulan sampai setahun : Tanda darurat/peringatan bila :
·        Bayi berusia lebih dari 3-6 bulan dengan suhu dubur sama atau lebih dari 38/38,5 derajat Celcius dan 39 atau 40 derajat Celsius untuk 6 bulan ke atas. 
- Lesu dan sulit bangun- Lumpuh dan menolak untuk bergerak
- Sangat rewel
- Bintik-bintik merah/ungu mirip memar pada kulit (yang tidak ada di situ sebelum anak sakit)
- Tangis yang sulit dihentikan selama berjam-jam
- Leher kaku
- Sakit kepala parah
- Sulit bernafas yang tidak membaik dengan membersihkan hidung
- Condong ke depan dan mengeluarkan air liur
- Serangan mendadak
- Bibir, lidah dan kuku yang terlihat biru
- Bagian lunak di kepala yang tampak menonjol keluar
Hubungi dokter anak Anda :
- Rewel meskipun demam sudah turun
- Tidak tertarik pada mainan atau benda kesukaan
- Tidak mau minum selama beberapa jam
- Demam yang berlangsung lebih tiga hari
- Demam yang timbul lagi setelah hilang selama satu atau dua hari
- Sering demam yang tidak terkait dengan gejala pilek atau sebab lain yang jelas. 

- Anak berusia 3 tahun atau lebih
·    demam tinggi di atas 40º C
dengan demam lebih dua /tiga hari khususnya tanpa batuk pilek
- walau baru 1 hari demam tetapi keadaanya sangat lemas
* Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan.. .

- Demam dengan :
·    sesak, Sulit bernapas, nafas berat atau bernafas terlalu cepat padahal Anda sudah mengeluarkan ingusnya , nyeri dada (mungkin asma atau pneumonia).
sakit kepala berat
* pembengkakan hebat pada tenggorokan,
*  telinga sakit
* ruam kulit / ada bintik kemerahan yang tidak berubah warna jika dipencet atau bercak berwarna keunguan pada kulitnya
* mata menjadi sensitive terhadap cahaya terang.- 
* kaku kuduk leher ,  kejang dan kesadaran menurun 
* Demam disertai gelisah, muntah dan diare.
*Tidak mau makan dan minum atau sudah mengalami dehidrasi. Tanda dehidrasi antara lain kekeringan pada mulut, ludah sedikit, volume urin kurang atau sangat sedikit, serta berwarna gelap dan sangat jenuh, mata cekung, kehilangan elastisitas kulit dll.
* Menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan
* Wajah pucat atau kemerahan. 
* Bila demam tinggi dan tidak turun dengan pemberian obat lebih dari satu hari .
 */ pada anak dengan gizi buruk
* /disertai perdarahan.. 
* anak yang memiliki kelainan bawaan , seperti kelainan jantung, paru atau ginjal.
Segala Usia Sebaiknya segera di bawa ke dokter apabila keadaan berikut dengan ataupun tanpa demam.
•    Demam tinggi
•    Tubuh menggigil
•    Pingsan
•    Tidur berlebihan atau kelesuan tanpa sebab
•    Menangis histeris
•  Salah satu anggota tubuh terasa lemas dan lumpuh secara tiba-tiba
•    Kejang atau gerakan yang tidak terkontrol pada tangan atau kaki
•    Pening yang tak tertahankan.
•    Hidung, mata atau dahi terasa sakit, kaku dan berat
•    Keluar cairan dari hidung berwarna pekat/kehitam-hitaman, berbau tak enak atau berdarah.
•    Tiba-tiba hilang pendengaran.
•    Sakit telinga
•    Keluar kotoran cair dari telinga
•    Tiba-tiba mengalami penurunan penglihatan.
•    Mata merah, basah dan sembab dengan atau tanpa diikuti penglihatan yang kabur.
•    Mata sensitif akan sinar, terutama jika si kecil tengah mengalami demam, sakit kepala atau leher kaku.
•    Bagian putih mata atau kulit berwarna kuning. Terutama bila dibarengi sakit perut dan/atau disertai air seni berwarna gelap (seperti teh).
•    Leher terasa kaku dan sakit. Terutama jika disertai sakit kepala dan demam.
•    Nyeri pada tenggorokan, terutama jika sampai memiliki masalah saat menelan atau berbicara.
•    Ngeces yang tidak terkontrol akibat susah menelan.
•    Susah bernapas biasanya ditandai dengan ritme papas yang cepat/memburu dan tak beraturan. Terutama jika disertai bibir atau kuku berwarna pucat atau kebiru-biruan.
•    Batuk kuat yang terus-menerus, terutama dahak berwarna pekat atau disertai darah.
•    Muntah lebih dari 12 jam atau lebih.
•    Muntah darah
•    Sakit perut yang hebat
•    Perut kembung dan membesar.
•    Diare yang disertai darah.
•    Rasa sakit di daerah punggung, terutama jika disertai demam dan rasa tak nyaman ketika BAK.
•    BAK terasa nyeri dengan frekuensi yang tidak biasanya
•  Air seni berwarna keruh, berdarah atau disertai ban tak sedap
   *  Vagina mengeluarkan kotoran berwarna putihlcokelat kehitam-hitaman dan/atau berbau
•    Tulang sendi terasa nyeri, kemerahan, bengkak tanpa dapat dijelaskan alasannya.
•    Luka tergores atau terpotong yang menimbulkan rasa papas, merah, bengkak dan perih
•    Rasa gatal di hampir seluruh tubuh, terutama bila sampai tumbuh bisul/jerawat yang melepuh
   .* anak yang memiliki kelainan bawaan , seperti kelainan jantung, paru atau ginjal.*

Waspadai demam pada bayi
Tingginya suhu tidak selalu berhubungan dengan beratnya penyakit. Ada penyakit yang ringan tetapi, demam yang terjadi sangat tinggi. Sebaliknya ada keadaan di mana demam tidak tinggi, namun penyakitnya berbahaya. Karena itu , banyak ahli menganjurkan juga untuk mengamati perilaku dan aktivitas anak sebagai alat ukur beratnya penyakit, karena pada anak-anak  pengendalian temperatur tubuhnya masih dalam pertumbuhan, dimana semakin muda usia bayi, semakin kecil kemampuan untuk merubah set-point dan memproduksi panas. Misalnya pada bayi kecil sering terkena infeksi berat tanpa disertai dengan gejala demam atau suhu tubuh mudah sekali naik pada anak-anak meskipun sakit yang ringan.  *Demam anak bisa mencapai 39,4-40,6 derajat C tapi masih dapat bermain dan berlari-lari mungkin masih merupakan infeksi virus ringan daripada dibanding demam pada suhu 38,3 tapi diam dan pucat merupakan sakit lebih parah. Jadi kuncinya bagaimana penampilan.Tingkat aktivitas anak yang lebih besar sering menunjukkan apakah ia benar-benar sakit atau hanya pilek saja.  
       * Pada bayi, membedakan kedua hal tersebut jauh lebih sulit. Dokter anak Anda mungkin harus melakukan serangkaian tes agar yakin bahwa bukan infeksi serius yang menjadi penyebab demam si bayi. Tes tersebut bisa berupa pemeriksaan darah, urin, dan cairan tulang belakang bayi. Kadang-kadang bayi dibawa ke rumah sakit selama beberapa hari untuk diamati dari dekat diberi antibiotika sebagai pencegahan sampai tes menunjukkan bahwa bayi tersebut tidak sakit serius. Meskipun sebagian besar demam pada bayi yang masih sangat kecil disebabkan oleh infeksi virus yang tidak berbahaya, para dokter tetap melakukan pendekatan "lebih baik selamat daripada menyesal" dan mengobati bayi kecil dengan lebih agresif daripada yang dilakukan pada anak yang lebih besar yang menderita demam.
* Pada orang dewasa, tingkat demam biasanya mencerminkan beratnya  penyakit yang menyebabkan, tapi dapat pula memperlihatkan reaksi sedikit walaupun terhadap infeksi yang bisa membawa kematiannya : pada usia lanjut). 
* Observasi awal pada keadaan fisik umum anak seringkali menentukan apakah dokter perlu mendapat indeks yang tinggi atau rendah mengenai penyakit dasar serius yang dicurigai. Dapat dengan menggunakan tabel dari Mc Carthy dan rekan serta dengan nilai skala observasi penyakit akut (AIOS)


Tatalaksana dilanjutkan oleh dokter/Rumah Sakit berdasarkan:

Tatalaksana Demam yang Disebabkan Penyakit Infeksi

Pengobatan dilakukan sesuai dengan klasifikasi etiologik(penyebab). Kesukaran yang dihadapi adalah pola penyakit yang berbeda baik dari aspek geografik maupun umur pasien. Aspek geografik misalnya daerah endemik demam malaria dan daerah endemik demam berdarah. Sifat paparan, letak geografik sangat mempengaruhi etiologi demam pada anak. Pemberian antibiotik pertama dan hospitalisasi sangat juga dipengaruhi oleh fasilitas sarana perawatan dan pemeriksaan penunjang. Setiap rumah sakit seharusnya mempunyai pedoman diagnosis dan terapi tersendiri, tergantung pada pola epidemiologik penyakit tersebut. Pada penelitian MTBS tahun 1998, di Indonesia etiologi demam pada anak sebagian besar(lebih dari 80%) adalah infeksi.

Tatalaksana Demam Menurut Umur

Tatalaksana demam pada bayi kecil telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada kelompok bayi dengan usia kurang 2 bulan, pendekatan yang umum dilakukan ialah hospitalisasi untuk mendapatkan pengobatan antimikrobial empirik. Pada tahun 1993, para ahli infeksi, gawat darurat dan kesehatan anak sepakat melakukan pendekatan lebih konservatif dengan cara rawat jalan untuk kasus-kasus ini, bila risiko terhadap SBI rendah. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi perawatan adalah dengan menggunakan penyaring:
Yale Acute Illness Observation Scale atau kriteria Rochester. 

Pada kelompok ini bila hasil laboratoriummenunjukkan adanya tanda infeksi (leukosit darah<5.000 atau >15.000, hitung neutrofil darah>1500,leukosit urin di atas 10/lpb, leukosit tinja >5/lpb),anak segera masuk RS dan langsung mendapatkanpengobatan antimikrobial secara empirik. 
Pada kelompok yang tidak memenuhi kriteria ini, maka ada 2 pilihan yaitu: 
1. melakukan kultur urin,  kultur darah, kultur cairan serebro spinalis, diberikan ceftriaxon dan diminta kontrol kembali setelah 24 jam. 
2. melakukan kultur urin dan observasi dulu.
Pada anak dengan usia kurang dari 28 hari,pendekatan sebaiknya lebih agresif dengan langsung memasukan ke RS untuk mendapatkan terapi antimikrobial secara empirik. Pada kelompok usia 3-36 bulan, risiko adanya bakteriemia pada anak dengandemam sekitar 3-11%. Bakteriemia tidak terjadipada kelompok ini bila: leukosit <15.000 dengansuhu >39 derajat C, sedang kemungkinan bakteriemia akan 5 kali lipat bila lekosit >15.000. Pada kelompok belakangan ini langsung dilakukan kultur darah dan pemberian ceftriaxon.

Pada kelompok anak di atas 36 bulan, pengobatan bisa dilakukan secara etiologik,dengan memperhatikan adanya kegawatan.Pada akhirnya apapun yang dianjurkan akan tetap menimbulkan perdebatan. Tidak ada satu standar yang harus ditaati untuk dijadikan pegangan. Semua tindakan tetap harus dilakukan berdasarkan pada anamnesis yang tajam dan terarah, dan pemeriksaan fisis yang teliti. Kecenderungan dokter untuk bertindak, sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang mereka dapat dan keluasan pengetahuan yang dimiliki. Pilihan antara melakukan tes atau tidak,melakukan pemberian antibiotik atau observasi, sangat tergantung pada pendirian dan kepribadian dokter.• Anak yang tampak toksik harus segera mendapat tindakan yang segera •Semakin muda, semakin tinggi ketidak tentuan klinisnya •Anak yang tidak tampak toksik dapat menyulitkan, karenanya perlu pengamatan yang sangat ketat•Tidak perlu selalu melakukan pemeriksaan penunjang dan bila dilakukan pemeriksaan penunjang, tindakan harus sesuai dengan hasilnya •Catat dengan cermat apa yang dilakukan atau tidak dilakukan•· 

Penatalaksanaan Rawat Jalan

- Terapi spesifik sebaiknya dimulai untuk kondisi-kondisi yang didiagnosis dan taat pada pengobatan rawat jalan. Misalnya pengobatan batuk pada ISPA, diare pada gastroenteritis, sakit berkemih pada ISK, Nyeri telinga pada otitis media, hidung tersumbat dan nyeri sinus pada sinusitis, nyeri tenggorokan pada amandel atau faringitis.
- Follow up penderita demam tanpa fokus yang nyata harus dilakukan dengan pemeriksaan ulang atau melalui telpon dalam 24-48 jam.
 
B. Heat- Relation Condition/Heat  Illness/Hipertermi
Istilah Hipertermi : adalah peningkatan suhu tubuh yang disebabkan ketidakseimbangan  pembentukan  dan kehilangan panas dimana set point hipotalamus tetap normal . 
Penyakit karena panas timbul akibat pemaparan suhu lingkungan yang meningkat sedemikian hingga tubuh tidak mampu mempertahankan homeostasis yang layak. Sindroma yang paling ringan dapat timbul bila penderita melakukan aktivitas tubuh yang berat atau berolah raga, bentuk yang berat bisa terjadi walaupun tanpa olah raga. 

Faktor predisposisi dan penyebab hipertermi


Klasifikasi Hipertermia :

hipertermia maligna, sindrom maligna neuroleptic, sindrom serotonin, heat cramps, heat exhaustion, heat stroke.

Diagnosis Hipertermia :

Umumnya diagnosa oleh kombinasi peningkatan suhu tubuh dan riwayat yang mendukung hipertermi untuk menggantikan istilah fever. Hipertermia paling sering muncul pada lingkungan yang panas (misalnya heat stroke) atau seseorang yang menggunakan obat yang memicu hipertermi sebagai efek samping (drug-induced hyperthermia).             
Istilah cedera panas mewakili kelompok gangguan heterogen akibat latihan fisik yang berlebihan atau paparan yang lama terhadap lingkungan yang hangat.

Faktor risiko terbesar adalah temperatur lingkungan yang tinggi, terutama jika disertai kelembaban yang relative tinggi, yang menghalangi pengeluaran keringat yang merupakan mekanisme termoregulasi efektif.
Faktor risiko  lain adalah tidak adanya aklimatisasi, latihan, usia yang ekstrim, dehidrasi , dan obat yang mengganggu termoregulator  termoregulator melalui berbagai mekanisme.

Hipertermia malignant :
Etiologi :
 reaksi yang jarang terhadap zat anastesi inhalasi yang biasa sering digunakan seperti halotan atau pelumpuh otot suksinilkolin. Yang menderita keadaan ini biasanya berpotensi fatal dan mempunyai predisposisi genetic( heriditer)
Dapat juga akibat stress fisik atau emosi.
Manifestasi klinik :
Hipertermia, kekakuan otot, takikardia, asidosis, syok, koma, rabdomiolisis.
Pengobatan :
Antara lain dantrolen IV 1 sampai 10 mg/kg IV yang dititrasi untuk menimbulkan efeknya, pengelolaan asidosis dan syok, pendinginan perifer.
Sindrom maligna neuroleptic
Etiologi :
Obat neuroleptic (fenotiazin, dll)
Manifestasi klinik :
Gejala sama dengan hipertermia maligna, tetapi umumnya timbul dalam beberapa hari dan bukan menit.
Pengobatan :
Sama seperti hipertermia maligna.

Sindrom serotonin
Etiologi :
Kelebihan serotonin. Umumnya akibat gabungan MAO dan SSRI
Manifestasi klinis :
Hipertermia, hipertensi, kekakuan otot, penurunan status mental yang timbul cepat. Kebanyakan awitannya lebih cepat disbanding sindrom maligna neuroleptic.
Pengobatan :
Obati seperti hipertermia maligna . Juga diazepam  5 mg IV untuk spasme otot, intubasi jika perlu, selimut pendingin, asetaminofen. Obati hipertensi seperti hipertensi maligna.  

Cedera panas : heat syncope, heat cramps, heat exhaustion, heat stroke, dan luka bakar
Suhu panas terutama berakibat menurunnya prestasi kerja dan kemampuan berpikir. Suhu panas mengurangi kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf perasa dan motorik.
Suhu udara yang nyaman sekitar 24-26 derajat C bagi orang-orang Indonesia. Orang-orang Indonesia pada umumnya beraklimatisasi dengan iklim tropis, yang suhunya sekitar 29-30 derajat C dengan kelembaban sekitar 85-95 %.  Penurunan sangat hebat sesudah 32 derajat C.
 
1.      Heath Rash (Miliaria rubra=biang keringat)
Iritasi pada kulit yang muncul ketika saluran kelenjar keringat tersumbat yang menyebabkan kelenjar keringat tidak dapat keluar dari kulit. Keringat yang terperangkap menyebabkan peradangan (inflamasi) dan ruam yang gatal yang umumnya terlihat di daerah yang sering berkeringat dan di bawah pakaian.
Sering pada pekerja,  tentara dan anak kecil di daerah panas.
Nampak adanya bintik kecil,  papulovesikel  kemerahan pada kulit biasa terdapat pada leher, bawah dada, sela paha, di bawah payudara dan lipatan siku, rasa nyeri kalau panas. Adanya kelainan kulit menyebabkna proses berkeringat dan evaporasi terhambat, proses pendinginan tubuh terganggu , yang memudahkan terjadinya sengatan panas.
Pengobatan :
-          Menjaga kulit tetap kering
-          Lingkungan kerja /tempat tinggal  yang sejuk , Istirahat di tempat yang sejuk/dingin.
-          Bedak /losio biang keringat.
2.       Edema Panas (Heath Edema)
Penyakit yang disebabkan oleh kondisi panas yang ditandai dengan pembengkakakan pada tangan dan kaki atau pergelangan akibat latihan yang lama atau duduk atau berdiri yang lama dalam lingkungan yang panas.
Vasodilatasi kulit dan otot yang disertai stasis vena, menimbulkan akumulasi cairan pada interstisial ekstremitas inferior.
Rasa penuh yang samar pada bagian yang terserang biasanya, merupakan satu-satunya gejala pada pasien edema panas yang asimtomatik.
Pengobatan :
Edema panas dapat sembuh sendiri. Pengobatan berupa pemakaian bebat penyokong dan evaluasi ekstremitas inferior secara periodic. Diuretik tidak diindikasikan.
3.       
Kejang panas ( heat cramps )
Etiologi :  kekurangan garam dan air akibat aktifitas fisik yang berlebihan.
Manifestasi klinik :
Pasien tetap sadar. Kejang otot  yang nyeri timbul secara mendadak, setempat/menyeluruh, terutama kram otot rangka /otot –otot volunter(otot-otot ekstremitas dan abdomen) kadang-kadang nyeri perut  yang kadang sangat hebat  akibat kekurangan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal/sedikit naik, denyut nadi cepat, tekanan darah normal.
Banyak berkeringat sehingga garam dan air keduanya hilang melalui keringat.
Hiponatremi akibat masukan air bebas: pasien dengan heat cramps biasanya mengganti air yang hilang dengan minum, tetapi tidak mengganti garam yang hilang.
Laboratorium :
Darah lebih pekat, Na dan Cl turun, kadar P dan Kalsium meningkat.
Pengobatan :
Letakkan pasien pada tempat /lingkungan yang sejuk dan urutlah otot yang terkena.
Istirahat
Rehidrasi oral :
a.       Untuk gejala ringan hingga sedang, berikan cairan pengganti NaCl per oral dengan minuman  larutan oral kaya-garam ( mengandung kadar garam  tinggi) misalnya  minumam olah raga atau 1 sendok the garam dalam 0,5 liter air atau sari buah (jus).
b.      Untuk gejala yang berat, berikan garam faal normal intravena ( Dewasa : dengan laju 125 mL/jam) hingga gejala mereda.
Kejang panas dapat sebagai kelainan sendiri atau bersama dengan kelelahan panas.
Pingsan karena panas ( Heat Syncope)
Biasanya penderita mula-mula merasa jantung berdebar-debar, keringat bercucuran,mulut kering,  sangat haus,  mual , muntah, sakit kepala, kepala terasa ringan,  kelelahan, dan akhirnya pingsan atau menyebabkan penderita tiba-tiba tidak sadar sesudah berdiri atau beraktivitas fisik yang hebat dan lama dalam lingkungan yang panas. Kulit pucat, teraba dingin dan lembab. Panas dapat menyebabkan pembuluh darah melebar sehingga cairan tubuh bergerak ke kaki oleh gaya gravitasi yang menyebabkan tekanan darah rendah dan dapat menyebabkan keadaan hilang kesadaran yang singkat. Status mental pasien akan normal setelah pulihnya kesadaran demikian pula suhu tubuh. Dapat timbul pada heat exhaution dan heat stroke.
Pengobatan :
Mengatasi lemas/bila mulai merasakan gejala
- Posisi duduk dengan kepala tertunduk di antara kedua lututnya sampai terasa enak atau berbaring dengan kaki yang ditinggikan.
- Bila pingsan , baringkan ditempat teduh dan datar. Buka atau longgarkan pakaian bagian atas yang menekan leher serta pakaian lain yang ketat ( yang menekan pinggang dll) . Jaga agar ia mendapat cukup udara. Bila penderita muntah, letakkan kepalanya dalam kedudukan miring untuk mencegah muntahan terselak masuk ke paru-paru. Kalau ada hembuskan uap amoniak di depan lubang hidung. Ketika ia mulai siuman tahan agar ia tidak segera bangun selama beberapa menit lagi. Segera setelah siuman tawarkan minuman  dan makanan ringan.  Jangan beri makanan atau minuman apapun pada anak yang sedang pingsan. 
- Mandi atau kompres hangat  dan lingkungan yang sejuk
- Terapi rehidrasi oral untu anak dan dewasa : minum air minum, minuman olah raga (sport drink) (terbaik) , jus buah atau the encer. Minum air garam 0,1 % ( 1 g untuk 1 l air ) di minum setelah sadar
- Minum dalam jumlah kecil dan sering, misalnya 2 sendok makan setiap 5 menit
- Puasa. Diet cair jika gejala berlanjut
- Cairan intra vena berguna untuk dehidrasi berat dan pasien yang muntah
- Monitor jantung.

Kelelahan Panas (heat exhaustion)
Etiologi :
Kekurangan garam atau air yang banyak, dengan salah satu kehilangan lebih dominan  . Akibat berkeringat, deplesi volume sehingga terjadi kolaps sirkulasi darah perifer , hipoperfusi jaringan .  Produksi keringat bertambah untuk menurunkan panas dengan cara aliran darah ke perifer yang bertambah.  Keluhan sistemik muncul beberapa jam sampai beberapa hari setelah latihan jasmani yang berlebihan atau terpapar pada cuaca panas yang lembab.
Manifestasi klinik :
Haus sedang, kulit pucat/dingin/basah dan berkeringat. Rasa lelah, kelemahan otot , kepala terasa ringan, pusing, nyeri kepala, mual, muntah, kelesuan progresif dan ketidak mampuan untuk melakukan tugas fisik dan kram/kejang  otot dan sesak nafas. Selain itu, pasien dapat memperlihatkan oligouria, takikardia, hipotensi, hiperventilasi dan gangguan fungsi susunan saraf pusat (gangguan kesadaran dari ringan sampai berat) . Pasien banyak berkeringat. Suhu dapat normal atau sedikit meningkat(demam sampai 102 derajat F). JIka tidak cepat diobati dapat berkembang menjadi heat sroke.
Pengobatan :
Hentikan semua kegiatan dan istirahat. Tempatkan pasien dalam lingkungan yang sejuk hingga gejala membaik.
a.       Untuk gejala ringan hingga sedang, gunakan pendinginan biasa atau, kalau perlu, lakukan rehidrasi dengan larutan oral kaya-garam seperti yang digambarkan di atas untuk kejang panas. Berbaring dan tinggikan kaki. Jika di lapangan, apabila tidak membaik dalam 1 jam kontak dokter dan segera jika suhu mencapai 104 F (40 C) atau lebih tinggi.
b.      Untuk gejala yang berat,   termasuk hipotensi, mulailah jalur intravena dan berikan garam faali norma(/salin/NaCl). Kalau tanda yang menonjol adalah dehidrasi, pasien mungkin membutuhkan sebanyak 1- 2-3 liter selama masa 3 jam(cairan IV cepat). Tetapi, kita harus berhati-hati karena hipotensi mungkin semata-mata disebabkan oleh vasodilatasi.
c.       Pemberian Oksigen jika perlu.
d.      Tanda-tanda vital dipantau.
e.      Anjurkan pasien untuk menerima sejumlah cairan oral yang memadai selama 24 jam berikutnya.
Heat Stroke/ sun stroke/ sengatan panas/sengatan terik
Merupakan hipertermia yang hebat (di atas 40-40,5-41O C/106 O F ) dengan kehilangan kemampuan regulasi panas. Keadaan ini merupakan keadaan darurat medic dengan angka kematian yang cukup tinggi.
Pada kelelahan panas mekanisme pengatur suhu bekerja berlebihan tetapi masih berfungsi sedangkan pada sengatan panas mekanisme pengatur suhu tubuh tidak berfungsi lagi disertai terhambatnya proses evaporasi secara total.
Etiologi :
Deplesi volume, berkeringat. Akibat latihan/kerja berat di lingkungan panas disertai intake cairan yang tidak cukup.
Heat stroke dapat oleh :
Akibat  non latihan/kerja (klasik)
Heat stroke klasik terjadi dalam epidemic di antara orang muda,  orang lanjut usia atau orang yang lemah selama periode suhu lingkungan terus menerus tinggi.  Yang menurunkan vasodilatasi, berkeringat dan mekanisme kehilangan panas yang lain. Pada situasi ini, toleransi tubuh untuk temperature lingkungan yang tinggi mungkin berkurang bahkan tidak ada .
Faktor-faktor risiko meliputi penyakit      kronis, usia lanjut {khususnya pada orang tua, dapat dipicu oleh obat-obatan seperti antikolinergik, antihistamin (anti alergi) dan diuretic (peluruh kencing)}. kelembaban tinggi, kegemukan, penyakit kardiovaskular kronik, kemiskinan, tempat tinggal di lantai-lantai atas gedung bertingkat di kota-kota, tidak mempunyai pengatur suhu AC, dehidrasi, penyalah gunaan alkohol, penggunaan sedativa, hipnotika, antikolinergik atau anti psikotik.
Akibat latihan (exertional)
Stroke kepananasan eksersional adalah suatu kelainan yang dapat terjadi dengan cepat pada orang dewasa muda, terutama atlet (terutama pelari jarak jauh dan pemain sepak bola), prajurit atau pekerja yang melakukan tugas berat dalam lingkungan yang lembab dan panas yang tidak mempunyai persediaan air yang memadai dan belum beradatapsi dengan cuaca setempat yang panas dan kelembaban ambien yang tinggi. Tubuh bereaksi dengan mengeluarkan keringat banyak dalam waktu yang cukup banyak dalam waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan kelenjar keringat kelelahan dan tidak mampu mengeluarkan keringat lagi.

Manifestasi klik :
-          Pada stadium awal menyerupai kelelahan panas, kemudian dapat terjadi :
-          Kesadaran menurun/kehilangan kesadaran/koma), kejang, perubahan status mental (bingung, halusinasi, perilaku aneh, status epileptikus, gejala neurologic lainnya).
-        Heat stroke eksersional : temperature tubuh meningkat dan separuh dari para pasien masih berkeringat sewaktu diperiksa.
-          Heat stroke klasik : khas : mempunyai suhu tubuh inti (bagian dalam tubuh) lebih dari 40 derajat C, dalam keadaan koma, anhydrotic(pasien tidak berkeringat)=kemampuan berkeringat menghilang : kulit panas kemerahan dan kering akibat kelelahan dari fungsi regulasi hipotalamik dan/atau kelenjar keringat yang menimbulkan kehilangan kemampuan pengeluaran panas. Namun adanya keringat tidak menyingkirkan diagnosis.
-          Kehilangan cairan dan garam biasanya tidak berat.
-          Pernafasan cepat dan dalam.
-          Temperatur tubuh tinggi/hipertemia (Suhu inti/oral/membran timpani/rectal tinggi)  tanpa variasi diurnal merupakan tanda utama, suhu tubuh dapat meningkat dalam 10-15 menit saat terjadinya heat stroke,  nadi cepat dan penuh.
-          Kadang terjadi sianosis.
-          Edema paru dan gangguan tonus otot.
 Laboratorium :
Pemeriksaan laboratorium rutin harus mencakup pemeriksaan kreatinin fosfokinase (CPK), karena rabdomiolisis dapat menyertai semua bentuk heat illness. Peninggian CPK yang ekstrim yang memerlukan terapi adalah jarang, kecuali pada pasien heat stroke.
  
Pengobatan :
Keadaan ini benar-benar merupakan kedaruratan.
Pindahkan penderita dari pemajanan langsung sinar matahari dan langsung mulailah prosedur pendinginan (penurunan suhu tubuh secepat mungkin).
Di lapangan : Hubungi segera nomor telepon UGD  dan dengan seketika cobalah menurunkan suhu badan penderita : lepaskan pakaian , basahi tubuh dengan air , dengan shower atau selang penyiram kebun,  selimuti dengan handuk lembab, evaporasi dipercepat dengan mengipasi dengan kipas, kipas  angin atau AC. Hindari menyebabkan timbulnya menggigil dan vasokonstriksi perifer dengan es. Jika suhu sudah turun menjadi 39o C usap badannya sampai kering dan tutupi dengan selimut kering. Jika suhu badan  mulai naik ulangi upaya pendinginan. Penderita memerlukan perawatan rumah sakit.
Rumah sakit :
Pastikan bahwa saluran nafas, pernafasan dan sirkulasi memadai.
Berikan oksigen 100 %. Buatlah akses intravena.
Jika terdapat perubahan status jiwa, berikan 100 mg tiamin dan 50 ml glukosa 5 % secara intravena.
Pantaulah suhui inti dengan termometer rectum.
Pendinginan untuk menurunkan suhu sampai sekitar 38,8 o C  yang cepat dan segera  dalam satu jam pertama (30-60 menit) adalah penting pada heat stroke dan tidak boleh ditunda sambil menunggu pemeriksaan laboratorium.
Turunkan dengan cepat suhu inti dengan membasahi kulit dengan air hangat (gosok dengan handuk basah) , selimut pendingin atau rendam dalam bak air sejuk (bukan air dingin namun kurang praktis dan perlu penanganan dan pemantauan yang tepat) di ruangan yang biasa.   bila suhu rektal mencapai 38 derajat C pindahkan pasien ke tempat tidur.Memijat (dapat meningkatkan vasodilatasi dan pertukaran panas )  serta mengipasi kulit untuk membantu sirkulasi dan penguapan pada kulit. Menggigil dapat mencegah kehilangan panas dan hal itu dapat dicegah  dengan diazepam IV atau klorpromazin 10-25-50 mg mg IV. Walaupun fenotiazin efektif dalam membatasi menggigil , obat ini dapat meninggikan risiko kejang dan hipotensi dan harus dibatasi penggunaanya pada kasus  di mana menggigil menghambat pendinginan yang efektif.menyebabkan hipotensi dan menurunkan ambang kejang sehingga tidak boleh digunakan secara rutin.
Enema cairan dingin, bilas lambung dan dialisis peritoneal, tetapi mungkin efektifitasnya terbatas.
Hentikan upaya pendinginan bila suhu rectum berada pada 38,5-39 C-101-102 F derajat C untuk mencegah hipotermia iatrogenic..
Periksa gas-gas darah arteri, darah lengkap, hitung trombosit , waktu prothrombin, waktu tromboplastin parsial , elektrolit serum, nitrogen ureum, kreatinin, glukosa, kalsium, fosfat, CPK dan uji faal hati, laktat darah dan urinalisis. Pasien tertentu, mungkin membutuhkan penentuan mioglobulin urin, penyaringan toksikologi, uji fungsi tiroid atau biakan darah dan cairan serebrospinal . Pemeriksaan EKG untuk menyingkirkan iskemia miokardium dan radiologi toraks untuk menyingkirkan pneumonia aspirasi.    
Pemberian obat-obatan dan cairan (tetapi banyak yang tidak menderita deficit cairan yang bermakna, hati-hati). Kebutuhan cairan pada heat stroke klasik biasanya kurang dari 1,5 liter . Berikan perlahan-lahan 1-1,5 liter garam normal secara intravena  selama  2-4 jam untuk mengoreksi kehi;langan cairan dan mempertahankan keluaran urin yang memadai.
Lakukan terapi untuk komplikasi
a. Hipotensi dapat membaik hanya dengan pendinginan. Kalau hipotensi refrakter, pasang jalur pusat atau kateter Swan-Ganz dan berikan tantangan cairan garam faal normal 250-500 ml selama 15 menit, sambil memeriksa tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik, dan tekanan intrakardiak untuk kelebihan beban volume. Jika hipotensi terus berlanjut meskipun telah dilakukan penggantian volume yang memadai, berikan dopamin 400 mg dalam 500 ml dekstrosa dalam air, yang dimulai pada laju 2-5 mikrogram/kg/menit dan dilakukan titrasi bila perlu untuk mempertahankan tekanan darah sistolik agar lebih besar dari 90 mmHg. 
b. Rabdomiolisis dan mioglobinuria dapat mengakibatkan gagal ginjal akut. Bila terdapat mioglobinuria, berikan manitol, 0,25 g/kg secara intravena, dan gantilah cairan intravena menjadi garam faali setengah normal dengan 44 meq/L natrium bikarbonat (1 ampul)
c. Kejang dapat terjadi selama pendinginan cepat dan pada awalnya harus diterapi dengan benzodiazepine : diazepam 5-10 mg secara Iv diikuti 5-10 mg setiap 15 menit sampai dosis maksimum sebesar 30 mg. Ini dapat diulangi secara berhati-hati dalam 2-4 jam. Karena kejang mungkin terbatas dan menghilang saat terjadi pendinginan, seringkali tidak diperlukan terapi lanjut. Jika diperlukan anti kejang (anti konvulsan), barbiturate mungkin lebih efektif dibandingkan fenitoin pada keadaan ini atau jika kejang berlanjut, fenitoin harus diberikan perlahan-lahan sebagai dosis pembebanan sebesar 10-15 mg/kg secara intravena pada laju yang tidak boleh melampaui 50 mg/menit. Ini harus diikuti dengan dosis pemeliharaan 100 mg secara oral atau secara intravena setiap 6-8 jam.
Karena kalsium dikeluarkan dari otot pada awal rabdomiolisis infus kalsium adalah tidak efektif dan akan menyebabkan hiperkalsemia nantinya.
Pemberian O2 bila terlihat ada sianosis/kongesti pulmonal dengan face mask atau nasal kateter.
Lakukan terapi untuk komplikasi.
Prognosis :
Pengobatan darurat sangat diperlukan. Dalam beberapa jam heatstroke tak tertangani dapat menyebabkan kematian otak, jantung, ginjal dan otot. Trauma panas ini terus memburuk jika pengobatan lebih lama lagi yang meningkatkan risiko komplikasi serius atau kematian. Tanpa pengobatan pasien akan meninggal. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian akibat heat stroke Antara lain adalah usia tua, hipotensi pada saat datang, koagulopati , kebutuhan akan intubasi , aspirasi paru dan hipoksia, uji fungsi hati yang meningkat, koma , suhu awal yang lebih dari 42,2 o C dan kadar laktat vena yang melebihi 3,3 mmol/L.
Pasien yang telah mengalami heat sroke sering mengalami gangguan regulasi suhu selama beberapa hari dan toleransi yang rendah terhadap panas selama bertahun-tahun atau selama-lamanya.
 * Pendidikan kepada masyarakat/pasien penting, karena korban-korban yang dapat selamat dari renjatan panas, menderita termolabilitas yang persisten dan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami cedera panas ulangan. 


Pencegahan terhadap penyakit karena panas :
* Minum air dalam jumlah yang cukup sebelum dan selama beraktifitas di cuaca panas bahkan walaupun tidak merasa haus.
* Memakai pakaian yang tidak menyerap panas. Pakaian yang berwarna terang seperti warna putih karena memantulkan sinar matahari, sedangkan warna gelap akan menyerap panas.
* Beraktifitas berat sebelum siang atau setelah jam 6 PM atau hindari bekerja atau bermain ketika matahari bersinar terik.
* Jika harus berada di luar, batasi paparan sinar matahari langsung dan kenakan topi dengan tepi lebar.
* Masuk segera ke rumah jika merasa kepanasan atau cari suatu tempat yang dingin seperti masuk ke bangunan ber AC, walau untuk beberapa jam saja, tempat yang dipertimbangkan juga adalah perpustakaan dan mal perberbelanjaan. Paling tidak tempat yang teduh. Kipas saja tidak cukup untuk tempat yang panas dan dengan kelembaban yang tinggi.
* Pakai baju longgar dan tipis.
* Nyalakan AC di rumah atau buka jendela atau gunakan kipas angin untuk membuat udara beredar.
* Makan dalam porsi kecil, batasi konsumsi alkohol ketika temperatur tinggi atau Anda tidak terbiasa dengan cuaca itu.  
* Jangan pernah meninggalkan anak atau siapa saja di dalam mobil yang di parkir di tempat yang panas. Ketika memarkir mobil di tempat panas, suhu di dalam mobil akan meningkat 20 derajat F (lebih 6,7 derajat C) hanya di dalam 10 menit. Adalah tidak aman meninggalkan seseorang di dalam mobil yang terparkir di tempat panas beberapa waktu, bahkan jika jendela pecah/ada celah/terbuka atau di tempat teduh.
Jika mobil di parkir, kunci untuk mencegah anak-anak masuk ke dalam mobil.
* Perhatian khusus terhadap obat-obat tertentu. Waspada terhadap masalah yang berhubungan dengan panas jika lagi menggunakan obat yang dapat  memengaruhi kemampuan tubuh untuk tetap terhidrasi dan menghilangkan panas.
* Aklimatisasi. Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan hasil penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan yang ditandai dengan menurunnya frekuensi denyut nadi dan suhu mulut atau suhu badan akibat pembentukan keringat. -Aklimatisasi dapat diperoleh dengan bekerja pada suatu lingkungan kerja dengan suhu tinggi untuk beberapa waktu yang lama. Biasanya aklimatisasi terhadap panas akan tercapai sesudah dua minggu bekerja di tempat itu. Sedangkan meningkatnya pembentukan keringat tergantung pada kenaikan suhu.
Sehingga batasi jumlah waktu yang digunakan untuk bekerja atau latihan di tempat panas sampai kamu dapat menyesuaikan diri. Orang yang tidak terbiasa dengan cuaca panas mudah kena penyakit yang berhubungan dengan panas.
- Jika kamu bepergian ke suatu daerah yang panas atau temperatur yang tiba-tiba berubah menjadi panas , tubuh akan membutuhkan beberapa minggu untuk membiasakan diri. Jika kamu sedang berlibur , kamu mungkin tidak mempunyai cukup waktu untuk menunggu, tetapi tetap merupakan ide yang baik untuk menunggu paling sedikit beberapa hari sebelum mencoba kegiatan berat di cuaca panas.
- Jika ibadah haji dilaksanakan pada musim panas(musim panas umumnya berlangsung mulai bulan Mei dan mencapai puncak pada bulan Juli–Agustus), suhu udara berkisar antara 40 – 56 0C dengan kelembaban antara 10 – 20 % (kelembaban rendah),  terutama pada siang hari pukul 11 .00 WAS s.d. pukul 16.00 WAS. Cuaca panas dapat menimbulkan risiko dan ancaman kesehatan bagi jemaah haji bahkan menyebabkan kematian. Untuk itu jemaah haji yang melaksanakan aktivitas pada saat cuaca panas haruslah berhati-hati
Berikut tips dalam menghadapi cuaca ekstrim di Arab Saudi :
  1. Melakukan latihan penyesuaian  1-2 jam setiap hari selama 10 hari  di bawah terik matahari, pada 2 minggu terakhir menjelang keberangkatan.
  2. Minum 1-3 gelas air sebelum ke luar pondokan, dan kemudian melanjutkan minum air setiap 20 menit, bahkan jika Jamaah Haji  merasa sedang tidak haus.
  3. Hindari minuman berkafein, karena minuman ini dapat menarik air keluar dari tubuh.
  4. Pakailah krim pelembab untuk melindungi kulit dari kekeringan sekaligus mengurangi penguapan air dari tubuh melalui kulit.
  5. Gunakan pakaian yang bahannya ringan, longgar dan berwarna terang untuk memungkinkan terjadinya sirkulasi udara maksimum untuk mendinginkan tubuh sehingga memberikan perlindungan dari sinar matahari. 
  6. Hindarkan tubuh dari terkena terik matahari langsung (bepergian keluar pondokan memakai penutup kepala/topi bertepi lebar, payung, dsb). Sinar matahari terik pada siang hari pada pukul 12.00 WAS s/d. 15.00 WAS.
  7. Untuk pekerja :-  
    Pencegahan :
    Engineering Controls :
    - ventilasi general dan lokal untuk area dengan suhu tinggi
    - Isolasi sumber panas seperti mesin dan farnace 
    - Eliminasi kebocoran uap
    - Penggunaan kipas angin atau peralatan pendinginan personal seperti rompi pendingin.
    - Penggunaan power tools untuk mengurangi tenaga kerja manusia.
    Work Practices
    -          Pakaian warna terang. Longgar, kain berpori seperti katun.
    -     Jadwal kerja : Jika  memungkinkan, pekerjaan berat harus dijadwal pada saat terdingin dalam suatu hari. Alternatif lain adalah beban pekerjaan diringankan atau pekerjaan dilakukan di area dengan temperatur lebih dingin.
    - aklimatisasi.
    -         Minum yang cukup dan sering walau  tidak merasa haus. Kira-kira 1 gelas setiap 15-20 menit. Hindari minuman yang bergula dan berkafein dalam jumlah yang berlebihan.
    -    Mengambil waktu untuk istirahat terutama pada cuaca yang sangat panas dan kelembaban yang tinggi di tempat yang sejuk.
    -           Memonitor pekerja yang rentan terhadap heat stress.
    -          Training buat pekerja tentang pencegahan, gejala dan monitoring diri sendiri selama kerja, pengobatan dan penggunaan alat pelindung diri (APD) selama kerja.

      
    Hipertermia Pada Bayi Baru Lahir
    Kenaikan suhu 37,5 oC atau lebih kadang-kadang ditemukan pada umur hari ke 2 –ke 3, sekalipun pada bayi yang perjalanan klinisnya memuaskan. Gangguan ini  khususnya bisa terjadi pada bayi minum-ASI yang masukan cairannya rendah, atau pada bayi yang terpajan suhu lingkungan yang tinggi, juga pada bayi-bayi yang berada di dalam inkubator (buaian) yang dekat ke pemancar panas (radiator) atau di bawah sinar matahari.
    Bayi itu bisa gelisah dan dapat mengalami penurunan berat badan yang cepat. Namun, mungkin tidak ada hubungan yang konsisten antara peningkatan suhu dengan besarnya penurunan berat badan atau tidak cukupnya masukan cairan.
    Curah urin dan frekuensi berkemih (kencing) menurun, kulit dapat kehilangan elastisitasnya, dan ubun-ubunnya dapat cekung. Bayi Nampak tidak gembira dan minum cairan dengan lahap.
    Tampak kegiatan bayi sangat berbeda dengan penampakan ketika “sedang sakit” bila ada infeksi. Mungkin jarang tampak adanya takipnea dan takikardi yang mencolok karena bayi berupaya untuk mengurangi  panas melalui saluran poernafasan   untuk mengkompensasi kenaikan suhu lingkungan yang mendadak. Kenaikan suhu dapat disertai dengan kenaikan protein dan natrium dalam serum, serta hematocrit. Kemungkinan infeksi local atau sistemik di evalusi. Pemberian cairan oral atau parenteral atau menurunkan suhu lingkungan menyebabkan penurunan suhu yang segera dan pengurangan gejala.
    Bentuk hipertermia neonates yang lebih berat terjadi pada bayi baru lahir maupun bayi yang lebih tua yang diberi pakaian hangat untuk suhu rendah di luar rumah. Poenurunan kapasitas berkeringat bayi baru lahir merupakan factor pendukung bayi yang diberi pakaian hangat dan diletakkan dekat perapian atau radiator, yang bepergian dalam mobil yang diberi penghangat atau diletakkan pada tempat dimana matahari bersinar langsung padanya melalui jendela kamar yang tertutup atau mobil bisa menjadi korban. Pakaian berlebih-lebihan pada cuaca yang panas, terutama bila bayi ditempatkan pada tempat dengan sinar matahari, kurang lazim merupakan penyebab suhu tubuh sering sering setinggi 41-44 O C (106-111oC). Kulitnya panas dan kering, dan pada mulanya bayi biasanya tampak kemerah-merahan dan apatis. Stadium ini dapat diikuti oleh pingsan , pucat, keabu-abuan , koma dan konvulsi. Hipernatremia dapat turut menyebabkan angka mortalitas dan morbilitas (cedera otak) tinggi.
    Hipernatremia telah dihubungkan dengan kematian mendadak pada bayi dan syok hemoragik serta sindrom enselopati.
Penyebab :
Ruangan terlalu panas
Baju yang berlapis-lapis
Cara mencegah temperature yang tinggi
-          Hindari bayi dari sumber panas seperti penghangat, pemanas, sinar matahari langsung  dan lain-lain. 
 Mengenakan pakaian pada anak yang sesuai lingkungan sekitarnya.
-          Jika bayi terasa panas lepaskan bajunya.
-          Jika bayi di bawah pemanas radiasi :
Ukur temperature badan bayi setiap jam sampai suhu dalam batas normal
Ukur temperature di bawah pemanas radiasi setiap jam .





 VII.    CEDERA DINGIN


Definisi:
Cedera dingin dipakai untuk menjelaskan suatu kelompok penyakit lokal atau sistemik yang timbul akibat paparan yang lama terhadap lingkungan yang dingin, dan terkadang basah pula.
Cedera dingin yang terlokalisir pada daerah perifer seperti pada radang dingin (frostbite) dan yang menyeluruh seperti pada hipotermi.
 

# Cedera dingin terlokalisir
 
A.    Tanpa pembekuan jaringan
1.    Chilblain.(pernio)
Cedera organ perifer akibat pajangan dingin yang lama pada suhu di atas beku  tanpa pembekuan jaringan yang menimbulkan reaksi hipersensitivitas pada kulit.
Lesi kulit yang gatal dan membakar . Bercak-bercak edematosa, hangat dan berwarna merah biru atau ungu pada kulit wajah dan ektremitas. Kadang-kadang dapat timbul lepuh.
Pengobatan :
Kasus-kasus ringan hanya memerlukan pemanasan spontan secara bertahap dan perlindungan dari lingkungan. Pada pasien-pasien yang memperlihatkan lebih banyak gejala, dilakukan perendaman dalam air hangat (<41,1 derajat C). Analgesik dan anti pruritus(anti gatal) dapat sebagai pelengkap. Daerah yang terkena jangan digosok atau dipijat. Karena lesi seperti ini dapat berulang setiap tahun akibat terpapar pada keadangan dingin dan angin, maka penutup pelindung perlu dianjurkan pada pasien.
2.    Trench foot (kaki terendam) dan cedera terendam.
Kerusakan jaringan kaki non beku akibat paparan dingin dan basah yang lama di atas suhu beku.
Klinis/gejala-gejala:  Ekstremitas yang dingin, hampir anestetik, sedikit bengkak, berwarna putih atau sianotik dengan denyut nadi sangat berkurang. Dingin dan anestesia diikuti nyeri hebat, rasa terbakar dan kesemutan bila dihangatkan kembali.  Beberapa hari pertama sesudah dihangatkan kembali , ekstremitas tersebut menjadi hiperemik, panas dan edematosa dengan kembalinya denyut. Dapat timbul lepuh, ekimosis, ulserasi dan ganggren pada kasus yang berat. Beberapa minggu kemudian kulit akan mengalami depigmentasi, hyperhidrosis dan kembalinya kepekaan terhadap dingin dan edema mereda.
Sekuele (gejala sisa) dapat berupa hipersensitivitas dingin kronik, nyeri dan kelemahan bila menyangga berat badan dan hyperhidrosis.
Pengobatan : pengobatan awal adalah melepaskan kaus kaki atau sepatu yang menjepit dan basah, serta melindungi kaki dari trauma dan paparan dingin. Pemanasan dan pengeringan bertahap dapat dicapai dalam suhu ruangan tanpa perlu dipijat. Perawatan di rumah sakit dianjurkan pada semua kasus kecuali yang sangat ringan. 
B.    Dengan pembekuan jaringan
Frosbite= sengatan beku

Frosbite muncul ketika suhu jaringan turun dibawah 0 derajat Celsius.
Area yang sering terkena : tangan, kaki , hidung dan telinga.
Penggolongan :
a.    Frostnip=gigitan beku adalah stadium pertama dari frostbite /mild frostbite akibat pendinginan kulit yang sangat superfisial menyebabkan iritasi kulit setempat dan bersifat sementara tanpa disertai kerusakan jaringan yang menetap/permanen.
Kulit yang terkena menjadi pucat, merah dan terasa sangat dingin.
Klinis: sensasi kesemutan atau ditusuk-tusuk yang disertai disestesia yang nyeri atau dapat pula sensasi gatal. Kesemutan bila dihangatkan kembali merupakan hal yang khas.
Pengobatan : tidak memerlukan pengobatan khusus selain pemanasan spontan secara bertahap. Tidak ada sekuele. Dapat diterapi sebaga pasien rawat jalan.


b.    Superfisial frostbite=stadium kedua
Klinis:Kulit kemerahan menjadi putih atau sangat pucat. Kulit mungkin tetap lembut, lunak  tetapi beberapa Kristal es mungkin sudah terbentuk di dalam jaringan.
Lepuh dapat berisi cairan hemoragik dalam 24 sampai 48 jam, cairan teresorpsi, timbul eskar yang keras dan menghitam umumnya superfisial, tetap peka terhadap panas dan dingin.
c.    Severe (berat) atau deep(dalam) frostbite=frostbite profunda
Mengenai seluruh lapisan kulit termasuk jaringan yang ada di bawahnya seperti otot dan tendon.
Klinis : Ekstremitas dingin, berwarna ungu tua atau merah, dengan lepuh gelap dan hemoragik(perdarahan), hilangnya fungsi bagian distal. Parestesia akan bertubah menjadi kebas dan anesthesia, mungkin dengan kekakuan dan imobilitas  persendian atau otot sehingga tidak dapat berfungsi. Lepuh yang besar terbentuk 24 sampai 48 jam
setelah penghangatan.  Setelah itu area yang terkena menjadi hitam dan keras sebagaimana jaringan yang mati.  Pada 40-80 % kasus, gejala-gejala lanjut termasuk deficit sensorik untuk raba, nyeri dan suhu, demikian pula kaki dan tangan yang dingin , hyperhidrosis, kebas, nyeri dan gangguan sendi. Gejala-gejala ini dapat menetap selama bertahun-tahun dan menyebabkan kecacatan.

                                                                            Frosbite 2-3 hari setelah mendaki gunung, 12 hari dan 3 minggu kemudian
Pengobatan/perawatan:
Pertolongan pertama : Menghubungi dokter segera atau bawa ke rumah sakit karena sering perjalanan  penyakit tidak dapat diramalkan dan jika harus menunggu ambulans lakukan perawatan berikut :
Jika berada di tempat, pemanasan/penghangatan  jangan dilakukan bila ada risiko untuk kembali membeku karena dapat menyebabkan kerusakan permanen (penghangatan dilakukan di tempat yang hangat) . Dan bagian tubuh yang terkena cedera dingin tidak boleh digosok atau dipijat. Penderita perlu di rawat di rumah sakit kecuali kasus yang sangat superfisial. 
1.    Bawa penderita masuk ke dalam rumah sesegera mungkin, buka pakaian yang basah dan lepaskan cincin yang terkena frosbit. Pastikan keseluruhan tubuh hangat bukan hanya yang terkena frosbite. Bungkus dengan selimut sisa tubuh.
2.    Sebagian kecil penderita (1-3 persen) trauma dingin akan menampilkan jaringan beku atau dingin. Bila fasilitas perawatan definitif jauhnya lebih dari satu atau dua jam perjalanan dan jaringan dapat dijaga tetap hangat, maka jaringan yang beku atau dingin segera dihangatkan kembali. Penderita terbaik diletakkan di bak mandi air hangat. Bila penghangatan kembali secara cepat tidak dapat dilakukan atau jika fasilitas perawatan definitive kurang  dari 1 jam perjalanan, maka jaringan yang cedera harus ditutupi kain atau selimut kecil serta pasien di bawa secepat mungkin ke fasilitas perawatan definitive, dengan penghangatan kembali akan tercapai saat tiba di sana.
3.    Perendaman  daerah yang terkena frosbite dalam air hangat (bukan air panas) atau kompres telinga, hidung maupun pipi yang terkena dengan kain hangat selama 20-30 menit.
Tambahkan air bila perlu, untuk mempertahankan suhu air.  Penderita mungkin merasakan sakit yang hebat sewaktu pencairan terjadi. Setelah bagian yang beku mencair, tepuk-tepuk bagian tersebut sampai kering.
Berikan asetaminofen atau ibuprofen untu menghilangkan nyeri.
Jangan menggunakan air panas atau sumber panas kering lainnya seperti pengering rambut atau penghangat ruang , lampu pemanas atau  oven.


•    Jika sensasi rasa dan warna kembali normal, tidak diperlukan perawatan lebih lanjut.
•    Jika sensasi rasa dan warna tidak kembali, hubungi dokter dan lanjutkan langkah 4 sampai 5.
Kebanyakan pasien trauma dingin tidak dapat menahan cedera yang cukup berat sehingga mengakibatkan pembekuan jaringan, dan kebanyakan akan mencari pertolongan medis setelah jaringan di hangatkan kembali.
4.    Balut tangan atau kaki yang terkena frosbit dengan pembalut bersih dan longgar.
Tempatkan kain atau kasa di atara jari-jari tangan maupun kaki untuk memisahkan satu sama lain sebelum tangan atau kaki tersebut di balut. Hati-hati, jangan sampai lepuh menjadi pecah karena tergosok.
5.    Angkat tangan atau kaki bersangkutan.
Mintalah penderita mencoba menggerakkan daerah yang terkena frostbite untuk meningkatkan alairan darah. TIdak diperbolehkan berjalan bila kaki yang terkena frostbite.
6.    Jika frostbite cukup luas, beri penderita minuman hangat non alkohol dan non kafein untuk mencegah cairan yang hilang.
Di rumah sakit :
a.    Seperti biasanya, masalah yang mengancam hidup seperti  hipotermia sistemik harus ditangani sebelum pemeriksaan dan terapi  frostbite.
b.    Penghangatan segera bagian tersebut karena penghangatan secara cepat namun terkendali adalah unsur terpenting dalam terapi. Bagian yang terkena perlu di rendam dalam air hangat yang bersirkulasi dalam suhu 38-41-42 derajat C selama 20-30 menit.
c.    Gatal , kesemutan dan sensasi terbakar meningkat saat di hangatkan. Nyeri berdenyut dan nyeri seperti disengat listrik selama proses penyembuhan akibat neuritis iskemik dan degenerasi akson. Mungkin memerlukan analgesia kuat untuk cedera yang berat , narkotik intravena sering diperlukan. Obat anti-inflamasi nonsteroid dan aloe topikal  setiap 6 jam dapat membantu menimalkan cedera jaringan. Jika nyeri menetap turunkan temperatur air 33-37 derajat C.
d.   Jika vesikel (lepuh) jernih utuh, cairan akan diserap dalam beberapa hari, jika pecah debridemen dan beri antibiotik atau salep aloe steril. Keputusan melakukan debridemen harus dilakukan dengan cara paling konservatif tanpa menyebabkan risiko infeksi tungkai. Biarkan vesikel hemoragik yang utuh(intact) untuk mencegah infeksi.
e.    Tes laboratorium dapat membantu mendeteksi semua komplikasi multisistem dan hipotermia seperti bronkopneumonia, edema paru, gagal jantung kongestif, infark miokardium, aritmia, gagal ginjal akut, koagulasi intravascular diseminata (DIC), pankreatitis, mioglobinuria dan hipoglikemia.
1.    Pemeriksaaan laboratorium rutin tidak diindikasikan pada kasus gigitan beku, chilblain dan kaki terendam. Pemeriksaan darah lengkap merupakan satu-satunya pemeriksaan rutin yang diperlukan pasien sengatan beku.
2.    Biakan darah dan luka dianjurkan bila terjadi komplikasi cedera imersi( selulitis, tromboflebitis, ganggren basah). Biakan seperti ini dapat diperlukan juga pada sebagian sengatan beku.
3.    Arteriografi, atau lebih disukai suatu pemeriksaan vascular non invasive (misalnya, ultasonografi Doppler, plestimografi digital, atau sidik isotope radioaktif) perlu dilakukan pada semua pasien dengan sengatan beku kecuali mereka dengan cedera derajat pertama.
4.    Hematokrit perifer, pH dan PO2 arteri
f.    Karena dehidrasi/hypovolemia, asidosis dan hipoksemia  sering terjadi infus cairan IV sering juga diberikan pada bila perawatan medis definitive lebih dari satu atau dua jam  perjalanan jauhnya .  Pasien koma dengan trauma dingin harus diinfus dengan larutan garam seimbang (Ringer Laktat) yang mengandung 100-300 mEq NaHCO3, yang diberikan dalam kecepatan 250 ml per jam. Penyesuaian dapat dibuatkan setelah pH arteri dan hematocrit perifer ditentukan dan pengeluaran urin telah diawasi selama 5 atau 6 jam.
Lebih baik memeriksa pH dan pO2  arteri, serta hematocrit sebelum terapi diberikan. Bila hasil pemeriksaan ini tak dapat didapat sebelum pengobatan dan diperlukan penghangatan kembali jaringan, maka kecepatan penggatian cairan harus dinaikkan sampai 500 ml per jam, sebab penghangatan kembali mungkin meningkatkan derajat asidosis.
Untuk mengobati hipoksemia yang biasa timbul pada pasien koma dengan trauma dingin, maka oksigen harus diberikan dengan masker atau kateter hidung selama 6-8 jam atau sampai pO2 arteri kembali normal.
g.    Setelah penghangatan, tindakan-tindakan penyokong termasuk perlindungan ekstremitas tersebut dari infeksi dan trauma:  perawatan luka setempat, dua kali sehari dilakukan hidroterapi dalam air/larutan desinfektan hangat (32,5-36,8 derajat C) , air mengalir (whirlpool) untuk deep frostbite , antibiotic topical , profilaksis tetanus, menghindari nikotin, elevasi tungkai untuk meminimalkan edema, dan pemakaian balutan steril dll.
h.    Jika sianosis menetap setelah penghangatan, tekanan kompartemen jaringan dimonitor secara hati-hati.

i. Tunda intervensi bedah. Umumnya terlihat lebih buruk daripada sebenarnya. 
j. Tindakan tindakan pencegahan perlu dilakukan , karena pasien memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap stress dingin selanjutnya.
k. Di rawat paling sedikit 1-2 hari untuk mengenali trauma yang lebih lanjut dan untuk pengobatan yang lebih lanjut.
Pencegahan :
Tetap pantau ramalan cuaca. Jaga agar tetap hangat dan kering terhadap cuaca dingin. Memakai pakaian hangat berlapis, sepatu boot tahan air dan bersekat baik , kaus kaki tebal/ berlapis , topi, syal, penutup telinga dan sarung tangan.
 

 # Cedera dingin sistemik

 SUHU RENDAH (HIPOTERMIA)

     Suhu rendah(hipotermia), yaitu penurunan suhu inti tubuh (rektal, esofageal atau timpanik) menjadi di bawah 35°C. Paling utama dari diagnosis adalah pengenalan dini dengan menggunakan termometer. Untuk pengukuran suhu tubuh ini kita harus mempergunakan termometer yang mempunyai pembagian  skala rendah dari 26,5 º C- 42 º C.
     Suhu 35 º C dapat terdapat pada neonatus. Suhu tubuh < 35 ° C dapat berakibat fatal, terutama pada bayi-bayi prematur, hipotermia dapat pula ditemukan pada dehidrasi dan renjatan.
 Epidemiologi

Usia Lanjut : orang berusia lanjut kurang sensitive terhadap persepsi suhu, kurang bergerak, dan adanya penyakit sistemik menyebabkan terganggunya fisiologis tubuh dalam menjaga suhu tubuh. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor sosioekonomik.
Neonatus : neonatus rentan terhadap hipotermi karena tingginya rasio permukaan kulit dengan berat tubuh, dan kurangnya fungsi menggigil, serta rendahnya repson adaptasi terhadap lingkungan.
Malnutrisi : kurangnya deposit lemak dibawah kulit menyebabkan lebih rentannya kulit kehilangan panas, dan kurangnya sumber energi yang digunakan sebagai sumber panas.
 

Klasifikasi

Hipotermi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber paparan yaitu :
Hipotermi Primer : terjadi akibat paparan langsung individu yang sehat terhadap dingin. Pada usia lanjut seringkali terdapat gangguan regulasi temperatur yang "fisiologik" dan tidak sebagai akibat penyakit tertentu.
Hipotermi sekunder :Akibat dari suatu penyakit. Mortalitas banyak terjadi pada fase ini dimana terjadi kelainan secara sistemik.
 

Hipotermi pada bayi baru lahir
Definisi :
Suhu ketiak normal adalah 36,5-37,5 ° C.
Pada hipotermia suhu berada di bawah 36,5 derajat Celcius.
Stres dingin/hipotermia ringan 36,0 ° C sampai 36,4 ° C
Hipotermia sedang 32,0 ° C sampai 35,9 ° C
Hipotermia berat <32 ° C

Dikenal juga :
Hipotermia sepintas
Hipotermia akut
Hipotermia sekunder
Cold injury

Pengukuran suhu
       Keadaan bayi                       Frekuensi Pengukuran
Bayi sakit                                           Tiap jam
Bayi kecil                                           Tiap 12 jam
Bayi keadaan membaik                     Sekali sehari


Tanda dan gejala :
(a) vasokonstriksi perifer
-Akrosianosis
-Ekstremitas dingin/kaki tangan dingin
-Penurunan perfusi perifer
(b) Depresi SSP
-Letargi
-Bradikardia
-Apnea
-Malas makan
(c) Metabolisme meningkat
-Hipoglikemia(kadar gula darah rendah)
-Hipoksia
-Metabolik asidosis
(d) Peningkatan tekanan arteri paru
-Distress
-Takipnu


Tanda-tanda kronik :
- berat badan yang turun
- penambahan berat badan yang kurang

Pengelolaan hipotermia
Di Puskesmas / Rumah Sakit : mengkonfirmasi diagnosis hipotermia dengan merekam suhu tubuh sebenarnya. Seorang bayi hipotermia harus dihangatkan secepat mungkin. Metode yang dipilih akan tergantung pada tingkat keparahan hipotermia dan ketersediaan staf dan peralatan. Sesuai Protap masing-masing fasilitas kesehatan.
 

Metode yang digunakan termasuk :
- Kontak kulit-ke-kulit
- Ruang yang hangat atau tempat tidur yang hangat
- Lampu penghangat
- Pemanas radiasi atau inkubator
 

Infeksi harus dicurigai jika hipotermia berlanjut meskipun langkah-langkah di atas.
 

Memonitor suhu aksila setiap ½ jam sampai mencapai 36,5 ° C, maka per jam selama 4 jam berikutnya, 2 jam selama 12 jam setelahnya dan 3 jam sebagai rutinitas.
 

Hipotermia sedang (> 32 sampai <36 ° C)
Kontak kulit-ke-kulit harus di ruangan yang hangat dan tempat tidur yang hangat. Warmer / inkubator dapat digunakan, jika tersedia. Lanjutkan rewarming sampai suhu mencapai kisaran normal. Pantau setiap 15-30 menit.
Hipotermia berat (<32 ° C)
Gunakan inkubator (suhu udara 35-36 ° C) atau pemanas radiasi (pemancar panas) yang dioperasikan secara manual atau secara termostat mengontrol kasur hangat pada suhu 37 -38 ° C. Setelah suhu bayi mencapai 34 ° C proses rewarming harus melambat. Alternatif lain, kita bisa menggunakan ruang hangat dengan lampu pijar 200 watt (bayi diletakkkan di bawah sumber lampu / jarak 45 cm  namun sering tidak cukup membuat bayi hangat dan bola lampu berisiko mudah rusak) atau lampu inframerah. Monitor BP, HR, suhu dan glukosa (jika fasilitas tersedia).
Perawatan Bayi tambahan
• mengambil tindakan untuk mengurangi kehilangan panas

• periksa kadar gula darah, bila < 45 mg/dL (2,6 mmol/L),{ ref lain : Pada BBLR , kadar gula darah < 25 mg/dl dalam 72 jam pertama. Pada bayi Cukup Bulan <30 mg dl di dalam 72 jam pertama, dan <40 mg/dl pada hari berikutnya}: tangani hipoglikemia  : glukosa 10 % 2 ml/kg  secara IV bolus pelan-pelan dalam  lima menit lalu infus Glukose 10% sesuai kebutuhan rumatan. Atau  mulai IV 10% Dextrose @ 60-80 ml / kg / hari.
• memberikan inj Vit K 1 mg untuk jangka panjang; 0,5 mg pada bayi 

* memberikan Oksigen
pencatatan suhu
Sebaiknya termometer berskala rendah yang dapat merekam suhu serendah 30 ° C harus digunakan pada bayi baru lahir.
(a) suhu aksila baik seperti dubur dan mungkin lebih aman (kurang risiko cedera atau infeksi). Hal ini direkam dengan menempatkan bola termometer terhadap atap ketiak kering, bebas dari kelembaban. Lengan bayi diadakan dekat dengan tubuh untuk menjaga termometer di tempat. Suhu dibaca setelah tiga menit.
(b) Suhu rektal:
Suhu rektal tidak tercatat sebagai prosedur standar pada neonatus. Catat suhu rektal hanya untuk neonatus hipotermia sakit.Jangan gunakan metode ini untuk pemantauan rutin. Namun, itu adalah panduan terbaik untuk suhu inti pada hipotermi bayi baru lahir yang sakit. Hal ini direkam dengan memasukkan ujung/leher termometer ke belakang dan ke bawah ke kedalaman 3 cm pada bayi cukup bulan (2 cm pada bayi prematur). Pegang termometer di tempat setidaknya selama 2 menit.
(c) Temperatur kulit: suhu kulit oleh suatu thermister . Probe dari thermister dilekatkan di atas kulit perut bagian atas. Thermister mencatat suhu kulit dan menampilkannya pada panel.

metoda kanguru

Apabila harus merujuk bayi :
Bayi dengan suhu badan <35,5 oC, harus segera dihangatkan sebelum di rujuk. Caranya sbb:
- Segera mengeringkan tubuh bayi yang basah dengan handuk/kain kering. Mengganti pakaian, selimut/kain basah dengan yang kering.
- Menghangatkan tubuh bayi dengan METODA KANGURU atau menggunakan cahaya lampu 60 watt dengan jarak minimal 60 cm sampai suhu normal dan pertahankan suhu bayi.
- Membungkus bayi dengan kain kering dan hangat,memakaikan tutup kepala.. Menjaga bayi tetap hangat. Menghindari ruangan yang banyak angin dan jauh dari jendela atau pintu 
- Pada bayi dengan gejala HIPOTERMIA BERAT : Jika dalam 1 jam suhu badan < 35,5 oC RUJUK SEGERA dengan METODA KANGURU.
- Pada bayi dengan HIPOTERMIA SEDANG : jika dalam 2 jam suhu badan 35,5-36oC RUJUK SEGERA dengan METODA KANGURU.


Pencegahan hipotermi Pada Bayi :
Bayi baru lahir dapat dengan cepat mengalami stres dengan adanya perubahan suhu. Bayi cukup bulan dengan berat badan normal tidak dapat menjaga temperatur tubuhnya secara adekuat hingga setidaknya berusia 2 hari. Bayi-bayi ini dapat menjadi hipotermi dalam ruangan yang relatif hangat bila berada dalam keadaan basah atau tidak tertutup.
Bayi baru lahir dapat mengalami kehilangan panas tubuhnya melalui proses konveksi, konduksi, evaporasi dan radiasi.
Menjaga bayi baru lahir tetap hangat
Segera setelah bayi lahir, upayakan untuk mencegah hilangnya panas dari tubuh bayi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara. 
1. Mengeringkan bayi segera setelah lahir
Segera setelah bayi diletakkan pada perut ibu, keringkan kepala dan tubuh bayi dari cairan ketuban atau cairan lain yang membasahi tubuh bayi baru lahir. Bila didapatkan cairan pada permukaan tubuh bayi, cairan ini akan diuapkan oleh panas tubuhnya, sehingga bayi dapat mengalami hipotermi. Keringkan tubuh bayi dengan  handuk atau kain yang hangat. Hal ini memberikan dua keuntungan bagi bayi. Pertama, suhu tubuh bayi tetap terjaga dan kedua memberikan rangsangan taktil pada tubuh bayi sehingga dapat menimbulkan timbulnya upaya nafas.
2. Selimuti bayi terutama bagian kepala dengan kain kering.Jangan membungkus bayi terlalu ketat.
3. Ganti handuk atau selimut yang basah.
4. Jangan mandikan bayi sebelum suhu tubuhnya stabil
5. Lingkungan yang hangat. Meletakkan dan mendekap bayi di dada ibu.
6. Bayi tidur dengan ibu. Anjurkan ibu untuk tidur dengan bayinya (rooming in).Bayi tidur di tempat tidur yang sama untuk memudahkan menyusui sesuai dengan keinginan bayi. Jangan menidurkan bayi ditempat yang banyak angin seperti dekat jendela terbuka dan depan pintu.
.Menyusui bayi. ASI perah dengan salah satu cara alternatif cara pemberian minum, bila ibu tidak dapat menyusui bayi.

Suhu kamar untuk bayi dengan pakaian :
Berat Badan                               Suhu Ruangan
1500-2000 g                               28-30 derajat Celsius
>2000 g                                      26-28 derajat Celsius
Catatan : jangan digunakan untuk bayi < 1500 g                                        


Beberapa bayi yang mempunyai risiko hipotermia :
* Bayi prematur. BBLR
* Bayi sakit berat
* Bayi dengan resusitasi lama
* Bayi dengan kelainan (bagian mukosa terbuka : gastroschisis(organ usus di luar rongga perut), spina bifida(benjolan di tulang punggung), omfalokel(organ hati di luar rongga perut) dll)

Pada Usia lanjut :

Hipotermi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan temperature tubuh, yaitu :
Gejala awal (32-35°C)Gejala berikutnya(28-30°C)  Gejala akhir(,28°)
Rasa capai/fatigue      Kulit dingin                          Kulit sangat dingin
Lemah                         Hipopneu                            Kaku/rigiditas
Langkah melambat      Sianosis                              Nadi tak teraba/fibrilasi ventrikel
Apatis                           Bradikardia   
Bicara pelo                   Aritmia atrial/ventrikel         Refleks menghilang
Konfusio                       Hipotensi                            Tak beri tanggapan terhadap rangsang
Menggigil                     Semikoma-koma   
Kulit yang dingin          Kekakuan otot                     Pupil menetap/reaksi (-)
Merasa dingin              Edema umum
                                     Refleks melambat
                                     Reaksi pupil <
                                     Poliuria atau oliguria  
Dari Kane  et al (1991)

Penanganan
* Pasien dengan hipotermi ringan dapat diterapi langsung di lapangan, yaitu dengan melepas atau menjauhkan benda atau zat yang mendinginkan, kemudian diberi penghangat seperti handuk atau selimut.
* Membawa penderita ke dalam ruangan yang hangat, jika di hutan nyalakan api unggun dan buat tempat  bernaung dari angin, buka pakaian yang basah dan jaga agar tetap sadar.
* Jika penderita tetap sadar, beri minuman hangat

* Memberi selimut hangat atau baju hangat dan tutup kepala .

* Terutama pada usia lanjut penghangatan aktif dengan alat seringkali justru berbahaya. .Pada penderita lansia, hipotermia harus diperlakukan sebagai penderita sepsis, kecuali bila terbukti sebaliknya.
* Sementara pasien dengan hipotermia sedang atau berat memerlukan perawatan khusus di rumah sakit (sebaiknya ICU)berupa rewarming atau peningkatan kembali suhu tubuh. Perawatan ini berupa rewarming aktif yang diikuti rewarming pasif, rewarming aktif yaitu mendekatkan benda hangat atau panas dari luar tubuh yang ditempelkan pada tubuh pasien. Contohnya yaitu air panas yang sudah dimasukan ke tempat khusus kemudian ditempelkan ke tubuh.
Bila pasien teraba dingin, tetapi sirkulasi masih terjaga dengan baik, maka tugas penolong adalah untuk menjaga agar korban tidak kehilangan panas tubuh lebih banyak, dan berusaha untung menghangatkan (rewarm).Penghangatan kembali yang terkontrol untuk bagian pusat dari badan. Penghangatan kembali secara aktif dari ekstremitas harus dihindari untuk mempertahankan vasokonstriksi sampai temperatur pusat ditingkatkan. Penghangatan secara cepat dapat menyebabkan pergeseran mendadak pada keseimbangan elektrolit dan harus dihindari (berlawanan dengan radang dingin di mana penghangatan secara cepat merupakan indikasi). Suatu alat pengukur rektal perlu digunakan untuk kasus-kasus berat.Sesudah temperatur rektal mencapai 30 derajat C penghangatan kembali harus diperlambat sampai kecepatan tidak lebih 1 derajat C per jam.
* Bila suhu pasien lebih dari 32 derajat C tetapi kurang dari 35 derajat C, lakukan teknik pemanasan eksternal pasif: a. pasang selimut hangat
* Bila suhu tubuh pasien kurang dari 32 derajat Celsius.
a. Pasang foley kateter dan monitor keluaran urin
b. Monitor tanda-tanda vital lengkap
c. Lakukan dan/atau bantu teknik penghangatan eksternal dan internal aktif. Tekniknya bervariasi di tiap institusi.
Teknik penghangatan eksternal aktif
1. Botol berisi air hangat dipasang pada permukaan tubuh.
2. Masukkan pasien ke dalam bak mandi berisi air hangat 40 derajat Celsius
3. Pasang matras berisi air hangat
Teknik penghangatan internal aktif
1. Cairan intravena yang dihangatkan
2. Lavase lambung hangat
3. Lavase peritoneal hangat
4. Lavase kolon hangat
5. Pemberian oksigen hangat
6. Pemasangan radiant head cradle di atas torso
7. Lavase mediastinal hangat
8. Hemodialisa
Bila pasien mengalami cardiac arrest atau henti jantung, maka dilakukan resusitasi jantung-paru dengan modifikasi sesuai dengan prosedur.
Jangan menunda prosedur yang darurat seperti intubasi dan pemasangan kateter, tapi lakukan secara hati-hati dan terus lakukan monitor terhadap ritme jantung, karena pasien rentan mengalami fibrilasi ventrikular.

Pada pasien hipotermia dengan henti jantung lakukan CPR  dan pemanasan aktif (femoral-femoral by pass jika mungkin). Penting untuk diingat bahwa protokol resusitatif yang umum tidak mungkin efektif   sampai suhu lebih tinggi dari 28-30 derajat C.
Pasien yang mengalami henti jantung, walaupun dengan hipotensi yang berat, tidak memerlukan CPR. Pasien ini harus dihangatkan secara agresif dan mungkin memerlukan bretylium profilaksis untuk fibrilasi ventrikular.
Pasien hipotermia berat dapat tampak mati, dengan curah jantung dan respirasi(pernafasan) yang begitu minim sehingga tekanan darah, denyut nadi dan bahkan bunyi jantung mungkin tidak terdeteksi. Namun karena supresi hipotermik pada metabolisme, banyak pasien seperti ini benar-benar sembuh dengan sedikit defisit sisa. Terdapat suatu kebijakan  pada pepatah tua yang mengatakan bahwa pasien hipotermia harus dianggap belum meninggal, sampai mereka hangat atau betul-betul meninggal.
Tidak ada pasien dengan hipotermia yang dinyatakan mati oleh dokter sampai suhu tubuh di atas 30 ˚ C . Upaya penghangatan diteruskan sampai pasien stabil, atau temperatur lebih tinggi dari 30 ˚ C. Jika pasien tetap dalam keadaan henti jantung  walaupun temperatur di atas 30 ˚ C, upaya resusitatif boleh dihentikan.
Korban hipotermia yang jelas sudah meninggal mungkin tampak masih hidup. Jantung yang dingin  sangat rentan terhadap fibrilasi akibat iritasi mekanis. Oleh karena itu sering dianjurkan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) tidak dilakukan pada pasien-pasien ini kecuali pemantau jantung memperlihatkan fibrilasi ventrikel atau asistole sebenarnya. .
                        VIII.      PENGUKURAN SUHU


   Demam dapat ketahui melalui cara perabaan , menggunakan termometer dan pita indikator.

Pengukuran suhu dengan cara perabaan (secara subyektif).
Pengukuran suhu dengan cara meraba kulit, daerah yang diraba adalah daerah yang pembuluh darahnya banyak seperti di daerah pipi, dahi dan tengkuk dengan menggunakan punggung tangan. Bisa juga dengan meraba tangan dan kaki .Meskipun cara ini kurang akurat/kurang sensitif/sering tidak sesuai dengan suhu tubuh yang sebenarnya (tergantung kondisi tangan ibu: seseorang dengan metabolisme tubuh rendah atau menderita anemia dimana suhu tangannya lebih dingin, akan lebih peka bila meraba seseorang yang suhu tubuhnya tinggi dibandingkan dengan mereka yang metabolisme tubuhnya normal dan suhu tangannya lebih hangat ), namun perabaaan ibu cukup bisa dipercaya untuk membedakan apakah  badan lebih panas dari biasanya dan digunakan sebagai tanda demam pada program MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit). 
 
Untuk memastikannya , kita perlu termometer. Alat pengukur suhu tubuh ini memang sebaiknya tersedia di rumah karena dengan alat ini suhu badan dapat diketahui secara pasti dan kapan meminta bantuan dokter pun dapat segera diputuskan . Sayangnya belum semua orangtua paham cara menggunakan alat ini. Nah, penjelasan berikut ini barangkali dapat menjadi panduan  untuk lebih mengenali termometer.

Termometer Air raksa/merkuri.

termometer air raksa untuk anus, mulut dan t. biasa

   Termometer ini terdiri dari atas tabung gelas tertutup yang berisi cairan air raksa/merkuri. Di tepi tabung terlihat garis-garis yang menunjukkan skala temperatur. Bila suhu meningkat, air raksa  dalam tabung yang sempit itu akan naik. Titik di mana air raksa tersebut berhenti naik menunjukkan berapa suhu pengguna saat itu.
   Termometer air raksa termasuk paling banyak digunakan. Mudah didapat, harganya murah dan pengukurannya akurat.
   Sesuai  dengan desain tabung kaca termometer ini, posisi ujung air raksa sebagai penunjuk derajatnya akan berada di posisi yang tetap kecuali kita menggoyang-goyangkannya secara kuat.
   Jagalah agar termometer air raksa tidak patah/pecah. Kalaupun pecah jangan sampai air raksanya terhirup/termakan karena bersifat toksik alias racun bagi tubuh.Oleh karena itu pengukuran lewat mulut sama sekali tidak dianjurkan pada bayi maupun balita karena dikhawatirkan pecah lantaran digigit. 

Termometer Digital


Umumnya bergagang plastik dengan sensor dan layar hasil pengukuran di salah satu sisinya. Dibanding termometer air raksa, cara penggunaan termometer digital relatif jauh lebih mudah dan praktis. Selain lebih aman penggunaanya,tingkat akurasinya pun bisa diandalkan. Bahkan memperlihatkan hasil pengukuran sampai desimal. Jadi keunggulan termometer jenis ini adalah praktis, mudah dibaca dan hasil pengukuran sangat cepat.
   Akan tetapi, termometer ini juga memiliki kelemahan, yaitu sangat rentan terhadap udara lembab dan air. Selain harganya mahal, hasil pengukurannya sering meleset bila baterainya sudah lemah atau pernah terjatuh. Jadi untuk pengguna termometer jenis ini, periksalah dan gantilah baterainya secara berkala.
   Seperti termometer air raksa, pengukuran suhu digital bisa dilakukan di beberapa tempat yaitu mulut, ketiak dan anus. Cara pengukuran pada umumnya sama dengan cara pengukuran dengan memakai termometer air raksa.

Termometer digital pacifier ( termometer empeng/dot)

 

Jika sang buah hati sering menggunakan pacifier atau empeng, anda dapat menggunakan termometer yang berbentuk seperti empeng ini. Si kecil hanya tinggal menghisap/menyedot termometer tersebut sampai suhu tubuh terdeteksi oleh termometer. Hasil dari pengukuran akan tampak pada layar kecil di bagian depan termometer. Walaupun tampak lebih mudah digunakan, ada beberapa kekurangan dari termometer ini yaitu termometer ini tidak dianjurkan untuk bayi usia dibawah 3 bulan & untuk penggunaan supaya hasilnya akurat maka si kecil harus menghisap termometer tersebut dalam jangka waktu yang lebih lama, sekitar 3 menit. Pada sebagian anak-anak maka hal ini dapat menyulitkan.



Termometer Inframerah

Tergolong yang tercanggih untuk saat ini. Namun masih terbatas untuk pemakaian di rumah sakit, belum direkomendasikan untuk pemakaian di rumah.

Termometer Timpani


Di ujung alat terdapat sensor yang akan menerima radiasi/gelombang panas dari gendang telinga. Hasil sensor akan terlihat dalam layar pantau. Termometer ini bisa dikatakan paling akurat dan cepat, karena membran timpani merupakan tempat yang ideal untuk pengukuran suhu inti karena terdapat arteri yang berhubungan dengan pusat termoregulasi. Namun harganya relatif mahal. Selain itu, bila gendang telinga dalam keadaaan tidak bersih, maka akan menghalangi penyaluran gelombang panas pada sensor. Tentu saja ini akan menggangu keakuratan .Perbedaan model termometer inframerah dapat menyebabkan hasil bervariasi, lekukan liang telinga juga memberikan kesulitan untuk mencapai membran timpani, terutama bayi baru lahir. Termometer telinga ini juga ditenagai oleh batere kecil serta sesuai untuk bayi diatas usia 3 bulan, anak-anak serta orang dewasa. Termometer telinga digital tidak di anjurkan untuk digunakan pada bayi usia dibawah 3 bulan karena pada usia tersebut lubang telinga bayi masih terlalu kecil. Ada yang tidak menganjurkan di bawah 2 tahun.

Banyak rumah sakit dan klinik sekarang memakai termometer ini. Umumnya, temperatur gendang telinga seakurat suhu anus. Dokter maupun suster umumnya memakai termometer ke telinga karena ini merupakan cara tercepat untuk mengukur suhu anak. Jika dilakukan secara benar, maka suhu yang didapat biasanya akurat. Tapi jenis termometer ini agak sulit digunakan jika Anda bukan profesional. Ujung termometer harus masuk cukup dalam ke telinga dan sensor panas harus sejajar dengan gendang telinga.Jika tidak terbiasa memakai termometer ini, suhu yang didapat menjadi tidak akurat. Termometer ini sangat sensitif maka sebaiknya hanya digunakan oleh para profesional. Orang tua lebih baik memakai termometer digital melalui anal, oral , ketiak untuk mengukur suhu tubuh anak.
 


Ada juga termometer inframerah dahi.
 
- Termometer Arteri Temporal (TA Thermometer) 

Mengukur suhu permukaan kulit yang dilewati arteri temporal. Termometer mempunyai probe yang mengandung sensor. Ketika termometer ini melewati dahi (garis tengah dahi), panas infra merah dari arteri diambil oleh sensor. Pembacaannya lebih akurat dari termometer telinga. Keuntungan utama ialah temperatur dapat diketahui dalam beberapa detik tanpa membangunkan anak. Termometer ini lebih mahal dari termometer yang lain.

Dapat juga digunakan di belakang lobus telinga jika dahi berkeringat, aksila dan femoral. 
Jangan tempatkan termometer pada kulit yang terpapar sinar matahari langsung, panas perapian, hembusan AC,  terapi kompres dingin/hangat.
Harus digunakan pada temperatur ruang yang sama ketika digunakan. Apabila alat termometer telah disimpan di tempat yang dingin sebelum digunakan biarkan hangat kembali secara alami sampai ke suhu ruangan dan sebaliknya.
If it is taken from a cold room into a hot room, or vice versa,allow it to acclimate for at least 30 minutes before using it.
Suhu pengoperasian alat yang optimal adalah tergantung masing-masing alat yang dapat dilihat pada buku petunjuk, ada yang 15-32oC, ada 16-40 oC (operating environment is 60.8° F to 104° F with 15-95% humidity).
)
Termometer arteri temporal dipakai sebagai skrining di unit gawat darurat terutama yang sibuk pada anak risiko rendah tetapi belum direkomendasikan untuk pemakaian di rumah dan rumah sakit bila pengukuran definitif (pasti/yang menentukan ) diperlukan. 

Termometer Infra Merah nonkontak
Termometer ini digunakan tanpa kontak dengan pasien.
Dapat digunakan di klinik, rumah sakit, pelayanan kedaruratan medik, sekolah dan dipasarkan pula untuk penggunaan di rumah.

Termometer inframerah non contact



Pita Indikator/termometer dahi
Pita indikator yaitu berupa strip atau lempengan/lembaran plastik tipis yang dilekatkan ke dahi si kecil. Panelnya yang peka suhu akan berubah   warna sesuai temperatur tubuh. Meskipun penggunaaanya mudah, tapi tingkat keakuratannya agak rendah khususnya pada bayi dan anak kecil. Anda perlu perlu menambahkan kira-kira 0,5 derajat C terhadap angka yang terbaca.


Berikut langkah-langkah menggunakan termometer :

*    Mengukur Suhu Ketiak


Cara ini mudah dilakukan dan nyaman bagi anak, hanya saja memiliki sensitivitas yang bervariasi.
Pengukuran suhu melalui ketiak (axilar) hanya dapat dilakukan pada anak besar yang mempunyai daerah aksila yang cukup lebar, pada anak kecil ketiaknya sempit sehingga terpengaruh suhu luar. Namun meskipun sensitivitasnya rendah pengukuran suhu ketiak direkomendasikan oleh American Academy of Pediactric sebagai tes skrining demam pada bayi baru lahir karena risiko perforasi/ dapat melubangi anus oleh termometer anus meskipun komplikasi ini muncul 1 dari 2 juta pengukuran. 

 ika suhu ketiak tidak menunjukkan demam tetapi anak terasa hangat dan kelihatan sakit , lakukan pengukuran suhu rektal.
Pengukuran dapat dilakukan jika anak sedang tidur sehingga tidak mengganggu tidurnya.
Pengukuran dengan cara ini tidak dapat untuk penderita-penderita yang sangat kurus dan setelah menjalani pembedahan tertentu atau pada mereka yang mengalami gangguan pada tangan mereka.
J
 JProsedur :
§        Termometer harus menyentuh kulit (tengah ketiak/lipatan ketiak)  sehingga baju  si kecil sebaiknya dilepas/membuka pakaian pada lengan. Daerah ketiak harus dikeringkan dengan baik, termometer yang akan digunakan harus dikeringkan pula. 
    § Pangku si buah hati / baringkan penderita pada posisi telentang. Untuk ibu di rumah : pada anak kecil atau bayi , lebih mudah mengukur suhu dengan medekap/tidur menyamping/ cradle hold . Untuk anak yang lebih tua anak bisa duduk dipangkuan, dengan satu tangan di punggung. Dapat pula dipangku searah dengan posisi orang yang memangkunya.Suatu kegiatan ringan seperti menyusui, menyanyi atau bercerita untuk anak mungkin dapat membantu anak tetap tenang.
§       Kepitkan termometer di ketiaknya. Rapatkan lengan penderita ke tubuhnya agar termometer terjepit kuat dan silangkan lengan bawah penderita ke dada atau perut , jepit selama 3-5 menit untuk mendapat hasil paling akurat.

Temperatur ketiak biasanya 1/2 derajat lebih rendah dari suhu oral, lebih rendah 0,5-0,8-1,0 derajat C dibandingkan hasil melalui dubur.

,
*    Mengukur suhu melalui mulut ( oral ) :
Pengukuran suhu melalui mulut dilakukan dengan mengambil suhu pada mulut (mengulum termometer) dilakukan pada anak yang sudah kooperatif.

Tip
*  Pastikan si kecil tidak mengonsumsi minuman panas atau dingin sekitar 15 menit sebelumnya. Bila anak baru saja makan atau minum,sehabis melakukan kegiatan yang melelahkan tunggu sekitar 20-30 menit. Pada pasien dewasa tunggu juga sekitar 15-20-30 menit setelah merokok. Jangan kalau baru saja bangun dan terlalu sakit sehingga tidak dapat menahan kantuk dan menggigil.
   Pastikan tidak ada makanan di mulutnya.
* Tidak untuk anak di bawah 5 tahun yang tidak koperatif, menderita batuk atau flu sampai bernafas melalui mulut karena hidung tersumbat. penderita yang mengalami sesak nafas , pasien tidak sadar, gelisah , dan penderita yang mengalami gangguan jiwa.

Prosedur :
- Meletakkan ujung termometer oral di samping kiri atau kanan frenulum (tali lidah)/kantung dasar lidah di bawah lidah (sublingual) selama 3 menit.
- Minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer.
Selalu ingatkan anak untuk tidak menggigit atau berbicara ketika ada termometer di dalam mulut.
Minta pula si anak untuk relaks dan bernapas biasa melalui hidung.
- Kemudian ambil termometer dan bacalah posisi air raksanya atau digitnya.
- Dapat pula digunakan termometer 1 x pakai.


*    Mengukur suhu melalui dubur (rektal):


Pemeriksaan suhu rektal secara tradisional dianggap sebagai standar emas untuk pengukuran suhu.  Pada anak suhu dari dubur merupakan standard dan lebih dipercaya karena wilayah inilah yang paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core temperature) yang lebih tinggi daripada suhu yang diukur di tempat lain. Ada perbedaan kurang lebih 0,51 derajat dibanding suhu mulut atau ketiak. Tapi kalau orang tua tidak berpengalaman mengukur lewat dubur, sebaiknya dilakukan cara lain. Masalahnya dubur anak bisa menjadi lecet atau kena iritasi, terutama bayi. Oleh karena itu disarankan mengukur suhu tubuh melalui anus sebaiknya hanya dilakukan oleh dokter/petugas kesehatan (orang tua boleh saja tapi harus lebih berhati-hati).
Dapat dilakukan pada :
·         Pengukuran di anus lebih akurat dari pengukuran di mulut dan ketiak. Metoda ini dipercaya cara untuk memastikan demam. Merupakan prosedur normal pada bayi dan anak (pada anak di bawah umur 24 tahun).
·         Pasien tidak sadar.
·         Dilakukan pada beberapa keadaan yang diperlukan pengukuran suhu yang lebih akurat seperti pada penderita yang banyak berkeringat atau frekuensi pernafasan yang tinggi. Pada keadaan tersebut, lebih baik melalui anus karena perbedaan yang mungkin di dapatkan pada pengukuran suhu di berbagai tempat dapat mencapai 23 derajat.
·         Pasien yang diduga terkena pengaruh suhu lingkungan seperti hipertermia dan hipotermia (<36,5oC).
Jangan pada :
·         Bila diare, terdapat peradangan pada anus atau sekitarnya, pengukuran suhu sebaiknya dilakukan di tempat lain saja.
·         Menderita kelainan jantung. Termometer dapat menstimulasi saraf vagus di anus dan menyebabkan aritmia jantung (gangguan irama jantung).
·         Menderita wasir.
·         Baru saja operasi di anus.

 Dewasa :
* Minta penderita berbaring pada sisi kirinya, kalau ini tidak dapat dilakukan, maka mintalah ia agar dapat berbaring pada sisi kanan atau punggungnya. Pada kedudukan penderita yang terakhir ini, termometer tsb harus kita masukkan ke dalam rektum penderita dengan tuntunan jari kita. Beri tahu pasien jika kita akan memasukkan termometernya. Pada tindakan ini kita harus memakai sarung tangan plastik. 
 - Masukkan ujung termometer yang telah dilumasi dengan pelumas secara perlahan ke dalam dubur sejauh 2,5-3,5 cm pada orang dewasa atau sampai ujung termometer yang dilapisi logam masuk semua ke dalam lubang dubur . Termometer dimasukkan ke dalam anus dengan arah sejajar dengan tulang belakang (kolumna vertebralis) Namun bila terasa ada sesuatu yang menahan, jangan masukkan lebih jauh dari 1 cm. Lalu rapatkan lipatan bokong.
* Posisi Sims atau miring dan kaki sebelah atas ditekuk ke arah perut.


Anak :- Pada anak di bawah umur 2 tahun suhu dapat diukur di rektum
Prosedur:
·         Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.
·         Buka pakaian yang menutupi bokong anak.
·         Pakai termometer digital dengan ujung flexible (ujungnya lentur).
·         Pastikan posisi termometer dalam keadaan normal.
  Atur posisi anak :
  *    Letakkan kain di bawah anak, karena pengambilan suhu dengan cara ini dapat menyebabkan pergerakan usus.
  *    Membaringkan si kecil di pangkuan dengan posisi tengkurap, perut di bawah dan pantat di atas, biarkan kaki kakinya menjuntai di paha Anda. Jangan lupa mendukung kepala bayi. Dapat pula membaringkan bayi di permukaan yang datar atau permukaan yang empuk seperti tempat tidur, meja ganti atau selimut di atas lantai untuk anak yang lebih besar atau bayi yang aktif.
                              Letakkan salah satu tangan pada punggung bawah bayi agar tetap diam.

   *   Membaringkan si kecil di atas tempat rata dengan memegang kakinya di udara, seperti ketika mengganti popok . Posisi ini dikenal si kecil, dan kontak wajah dengan wajah akan memberinya rasa nyaman
Jika menggunakan termometer air raksa : janganlah mengukur suhu anus dengan bayi dalam posisi terlentang, karena dapat menyebabkan termometer pecah atau menembus dinding anus.

 
 
*      Memiringkan tubuh balita, dan menekuk/membengkokkan lututnya sedikit agar ia tidak tegang dan merasa lebih rileks.
·         Lumasi ujung/leher termometer dengan jelly yang larut  air, baby oil atau vaselin /pelumas larut air 1,22,5 cm untuk bayi/anak-anak,agar alat ini menjadi licin dan mudah dimasukkan ke dalam dubur tanpa rasa sakit.
·         Lebarkan anus bayi dengan satu tangan, lalu dengan tangan yang satu lagi memegang termometer.
·         Menyuruh menarik nafas (anak besar).
·         Masukkan ujung termometer secara perlahan ke dalam dubur sejauh 1,22,5 cm pada bayi/anak-anak atau sampai ujung termometer yang dilapisi logam masuk semua ke dalam lubang dubur. Termometer dimasukkan ke dalam anus dengan arah sejajar dengan tulang belakang (kolumna vertebralis). Namun bila terasa ada sesuatu yang menahan, jangan masukkan lebih jauh dari 1 cm. Lalu rapatkan lipatan bokong.
·         Usahakan  agar gerakan si kecil tidak mengganggu pengukuran. Tenangkan si anak dengan mengajaknya bicara sambil Anda memegang termometer tersebut.
·         Pegang termometer selama 35 menit untuk anak-anak atau sampai terdengar bunyi beep (tit, tit,tit...) pada termometer digital, cabut termometer dengan hati-hati.
·         Bersihkan termometer menggunakan tisu dengan gerakan memutar dari atas ke arah bawah kemudian buang tisunya.
·         Baca digitnya.
·         Lap area anus untuk membersihkan pelumas atau feses dan rapikan anak.
·         Bersihkan termometer.
·         Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan.
·         Dokumentasikan pembacaan suhu.

Mengukur Temperatur Telinga
 
1. Cek probe bersih dan bebas dari kotoran . Jika Kotor usap dengan kain bersih. Jangan mencelupkannya ke dalam air.
2. Untuk menjaga agar probe tetap bersih, penutup probe sekali pakai dapat digunakan. Gunakan penutup baru setiap akan mengukur suhu telinga. Lekatkan pada probe penutup tersebut.
3. Hidupkan termometer.
4. Untuk bayi lebih muda dari 12 bulan, tarik daun telinga ke bawah dan belakang untuk meluruskan saluran telinga. Ujung probe dimasukkan ke tengah telinga dan dorong dengan hati-hati menuju gendang telinga.
5. Untuk yang lebih dari 12 bulan dan dewasa, tarik daun telinga ke atas dan belakang.
6. Tekan tombol on untuk menampilkan pembacaan suhu.
7. Keluarkan termometer telinga dan buang penutup probe yang sudah digunakan.

Mengukur suhu arteri temporal
Bersihkan dahi dari keringat, singkirkan rambut yang menjuntai, keluarkan topi yang menutupi dahi.
1. Buka penutup termometer.
2. Nyalakan termometer.
3. Tempatkan cup pada kulit di tengah dahi. Pastikan tidak ada sesuatu di antara kulit dan cup termometer.
4. Dorong termometer ke sisi dahi yang lain (pelipis)( sesuai garis rambut/tidak ke atas atau ke bawah ).
 
5. Dengar bunyi alat. Kebanyakan termometer arteri temporal mempunyai sinyal seperti beep atau bunyi lain yang menunjukan termometer siap dibaca.
6. Angkat termometer dan baca suhu.
N.B :

1.     Pada umumnya yang diukur adalah suhu ketiak  (axilla) .

       Pemeriksaan suhu rektal secara tradisional dianggap sebagai               standar   emas untuk pengukuran suhu. 


    Pada anak suhu dari dubur merupakan standard dan lebih dipercaya karena wilayah inilah yang paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core temperature) yang lebih tinggi daripada suhu yang diukur di tempat lain.Namun ketika suhu sentral meningkat atau menurun secara tiba-tiba, maka temperatur rektal berubah lebih lama dan dapat berbeda dari temperatur sentral . 
     Ada perbedaan kurang lebih 0,5 – 1 derajat dibanding suhu ketiak atau mulut . Tapi kalau orang tua tidak berpengalaman mengukur lewat dubur , sebaiknya dilakukan cara lain. Masalahnya dubur anak bisa menjadi lecet atau kena iritasi ,terutama bayi. Oleh karena itu disarankan mengukur suhu tubuh melaui anus sebaiknya hanya dilakukan oleh dokter/petugas kesehatan(orang tua boleh saja tapi harus lebih berhati-hati ).
2.Hati-hati dengan termometer dari kaca. Selain mudah pecah, cairan merkuri di dalamnya adalah racun. Untuk ibu disarankan menggunakan bukan termometer air raksa untuk pengukuran suhu di rumah. Termometer air raksa seharusnya digunakan pada anak besar dan hanya untuk pengukuran di ketiak. Prosedur pengukuran suhu di ketiak dapat dilakukan pada anak balita yang sudah cukup mengerti tindakan pengukuran suhu badan. Meskipun demikian, tetap saja harus dilakukan dengan hati-hati karena kemungkinan anak balita berontak atau mengempit termometer terlalu kuat dapat terjadi sehingga termometer pecah dan melukai serta membahayakan keselamatan anak.Termometer digital dapat menjadi pilihan apalagi sekarang sudah ada yang harganya relatif murah. Namun tidak masalah termometer mana yang Anda pilih, pastikan Anda tahu cara menggunakannya dengan benar sehingga tidak membahayakan kesehatan dan keselamatannya dan tahu cara membaca suhu badan,
Hati-hati dengan termometer dari kaca. Selain mudah pecah, cairan merkuri di dalamnya adalah racun. Untuk ibu disarankan menggunakan bukan termometer air raksa untuk pengukuran suhu di rumah. Termometer air raksa seharusnya digunakan pada anak besar dan hanya untuk pengukuran di ketiak.

3. Mengukur suhu tidak dilakukan sehabis makan atau melakukan aktivitas , jangan sekali-kali mengukur suhu tubuh penderita pada waktu duduk atau segera setelah ia bangun , setelah waktu kunjungan , pemeriksaan atau pengobatan dan perawatan yang melelahkan , jadi harus dalam keadaan istirahat, karena pembentukan panas oleh tubuh merupakan hasil metabolisme tubuh . Sumber utama dari panas badan adalah pembakaran makanan terutama di dalam hati dan otot-otot bergaris. Jangan    pula melakukan pengukuran suhu sehabis mandi karena suhu yang terukur akan lebih rendah daripada kondisi yang sebenarnya.
4.      Sebelum termometer dipakai , permukaan air raksa harus diturunkan sampai di bawah 35  ° C dengan jalan mengibaskan termometer dan teliti apakah ujung termometer utuh dan rata.
5.      Hendaknya ada yang tetap memegang termometer tersebut pada :
v    Penderita yang tidak sadarkan diri.
v    Penderita yang megalami sakit parah .
v    Bayi dan anak-anak  yang berusia di bawah 10 tahun.
v    Orang usia lanjut usia yang memperlihatkan gejala disorientasi.
v    Penderita baru.

6.Untuk termometer digital, jangan lupa juga untuk mengaktifkannya sebelum digunakan. Walau demikian , biasakan membaca dahulu petunjuk yang disertakan oleh pabrik pembuat termometer  tersebut, karena mungkin saja termometer tersebut memerlukan cara berbeda untuk pemakaiannya.
7.     Lama Pengukuran

v Ketiak ( Axilla) selama ±3-5-10-15 menit  ( sekarang ini di praktek 3 menit ): 5 menit pada anak dan 9 menit pada orang dewasa atau sesuai petunjuk dari pabrik termometer yang digunakan.
v Mulut ( Oral ) selama ±2-3- 5-7-10 menit : (paling sedikit 3 menit)
v Dubur ( Rectal ) selama ( orang dewasa 2-3 menit dan 5 menit untuk anak-anak).
v Termometer digital : sampai sinyal terdengar dan       petunjuk digit dapat terbaca.
7.Pembacaan skala termometer harus sejajar dengan mata, putar termometer sehingga kolum air raksa jelas terlihat, hal ini untuk meghindari hasil pembacaan yang salah.
8.  Segera setelah anda baca , catat suhu tubuh penderita tersebut.


Pemeliharaan termometer
- Untuk membersihkan termometer, bersihkan dengan kapas atau tisu atau lap berbahan katun yang telah dibasahi dengan alkohol.
- Atau bisa juga dibersihkan dalam air sabun hangat lalu bilas dengan air dingin. Jangan pernah menggunakan air panas untuk mencuci termometer. Jangan menyimpan termometer tanpa mencucinya terlebih dahulu. Termometer yang kotor dapat menginfeksi anak lagi.
- Simpan kembali ke kotaknya.
- Sebelum digunakan ujung termometer dibersihkan lagi dengan air bersabun atau alkohol.



Pilihan termometer sesuai usia anak


Termometer tepat sesuai usia anak
Metode yang dipilih dalam mengukur suhu tubuh si kecil sangat ditentukan oleh usia dan seberapa kooperatif anak. Bagi bayi bahkan sampai usia prasekolah, misalnya, lebih akurat bila diukur menggunakan termometer telinga dan termometer arteri temporal. Namun untuk screening pengukuran lewat ketiak masih direkomendasikan untuk anak.



Untuk Bayi Yang Baru Lahir sampai 3 bulan.

Ukur suhu di ketiak atau melalui arteri temporal . Melalui arteri temporal lebih bagus untuk skrining di banding suhu ketiak (menurut penelitian terbaru). Jika hasil pengukuran menunjukkan suhu tubuh di atas 37,2/37,5 derajat C, ukur kembali suhu tubuhnya melalui anus. Jenis ini paling akurat dan direkomendasikan untuk bayi, khususnya bayi yang baru lahir/bayi sakit. Infeksi berbahaya bagi bayi, sehingga dokter memerlukan pemeriksaan yang bisa dipercaya.
Kekurangannya: Anda mungkin khawatir si kecil merasa tidak nyaman, tapi termometer digital terbaru bisa memberi hasil dalam hitungan detik  
3 bulan sampai 4 atau 5 tahun
Pilih termometer yang digunakan lewat anus, arteri temporalis atau lewat mulut dapat yang berbentuk dot/empeng. Pemeriksaan melalui anus paling oke. Tapi, jika anak suka menggeliat-geliat, Anda bisa memilih cara lain. Anak usia 3 tahun sudah bisa mempertahankan termometer mulut di bawah lidahnya tanpa menggigit. Termometer telinga dapat juga digunakan, bagus setelah 6 bulan jika pemakai mengerti dan menguasai tekniknya. Temperatur ketiak bagus untuk cek secara cepat jika dilakukan dengan benar.

Kekurangannya: Batita dan anak prasekolah sering tak bisa duduk diam saat diperiksa lewat anus. Tapi mereka juga seringkali belum siap untuk termometer mulut. Jadi, gunakan termometer yang bisa diletakkan di bawah ketiak, meski hasilnya kurang akurat. Tip: Ketika menggunakan termometer di bawah ketiak, tahan lengan si kecil agar menempel pada bagian dada untuk mendapat hasil paling akurat.

4 tahun ke atas/SD

Pilih termometer yang dimasukkan ke dalam mulut. Termometer digital menjadi pilihan untuk mengukur suhu di dalam rongga mulut. Seharusnya anak sudah bisa menggunakan termometer mulut. Anak umumya sudah bisa memegang sendiri termometer digital yang digunakan di mulut.Apalagi, alat ini bisa memberikan hasil yang sangat terpercaya. Hal ini hanya dapat dilakukan bila anak mengerti tujuan pemeriksaan dengan terlebih dahulu menjelaskan kepadanya.
Dapat pula digunakan arteri temporal atau termometer telinga.

Kekurangannya: Kebanyakan termometer mulut bisa pula digunakan sebagai termometer anus (atau di bawah ketiak). Tapi, jangan gunakan termometer dari anus ke mulut (walau sudah dibersihkan). Sebaiknya, beli dua termometer yang berbeda.



Use this chart to help you decide which method to use.
Age                                   Recommended technique
Birth to 2 years                1st choice: Rectum (for an accurate reading/definitive)
                                         2nd choice: Armpit(screening low risk children/TA)
Between 2 and 5 years    1st choice: Rectum (for an accurate reading)
                                        2nd choice: Armpit, Ear (or Temporal Artery if in hospital)(Screening)
Older than 5 years          1st choice: Mouth (for an accurate reading/definitive)
                                        2nd choice: armpit, ear (or TA if in hospital) (screening)
Bagi petugas kesehatan selidiki atau tanyakan bagaimana pengukuran suhu tubuh yang dilakukan di tempat kerja.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.