Rabu, 27 April 2011

Diare


DIARE PADA BAYI DAN ANAK


Oleh : dr : Lusia


Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan bahkan kematian pada anak di negara berkembang seperti Indonesia.  Ini diakibatkan oleh karena diare dapat menyebabkan kehilangan banyak cairan (dehidrasi) yang keluar bersama tinja atau muntah yang menyertai diare. Karena itu jangan anggap sepele saat anak terkena diare. Segera ke dokter agar ditangani dengan tepat dan cepat.

I.                   Batasan


-         Diare(Mencret-mencret)

-         Adalah buang air besar encer  yang lebih sering daripada biasanya (>3 kali sehari) dengan/tanpa darah/ dan atau lendir pada tinja .
-     Frekuensi buang air  besar lebih dari empat kali (pada bayi baru lahir) atau lebih dari tiga kali (bayi usia 1 bulan ke atas dan anak) 



* Buang air besar dan buang air kecil 
- pada hari-hari pertama pada bayi baru lahir
* Sekitar 95 % bayi kencing dalam 24 jam pertama dan mengeluarkan mekonium (feses yang pertama keluar berwarna hijau kehitaman) dalam 24 jam pertama 
* Sebagian besar bayi akan kencing segera setelah lahir dan kemudian tidak kencing atau hanya 2-3 kali buang air kecil dalam 24 jam selama 3 hari pertama.
* Pada akhir minggu pertama bayi akan buang air kecil 5-6 kali per hari dan 3-4 kali buang air besar dengan konsistensi tinja mulai seperti pasta gigi dan warna mulai kekuningan. Namun buang air pada bayi ASI eksklusif sesungguhnya sangat bervariasi dalam hal frekuensi dan warna . 
- Pada bayi yang hanya menyusu ASI bisa saja terjadi mencret berulang kali tapi itu bukan diare. Umumnya bayi yang minum ASI, buang air 4-6 kali sehari berupa cairan lembek. Keadaan ini masih wajar bahkan jika kenaikan berat badannya baik, buang air besar  sampai 10-12 kalipun masih dianggap normal. Kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan sama sekali sepanjang bayi tetap aktif, menangis kuat dan menyusu dengan baik. Keadaan cair disebabkan oleh kekhasan ASI yang membuat kotoran bayi menjadi lembek sampai cair dan berubah-ubah warna.
ASI tidak menyebabkan diare karena higienis. Itulah sebabnya jangan berhenti memberi ASI kendati Si kecil berulang kali mengeluarkan kotoran yang cair atau berlendir.

- Tapi pada umumnya b.ab.
* Neonatus : umumnya b.a.b 5-6 x (minum ASI bisa 5-10 kali dalam sehari : susu formula : 2-3 kali sehari atau bahkan satu kali )
* 1-2 bulan 2-3 x sehari

Karakteristik tinja
Bayi yang mendapatkan ASI akan menghasilkan kotoran berwarna kuning muda, berair, dan sedikit mengandung bahan padat.
Saat mengeluarkan kotoran itu Anda mungkin akan terkejut mendengar suaranya yang keras dan ribut, tapi hal itu adalah normal.
Kotorannya akan berwarna lebih hijau jika ibunya mengonsumsi banyak sayuran atau makanan kaya zat besi
Pada bayi yang mendapatkan susu formula kotorannya cenderung semipadat, lunak, dan berwarna kuning kehijauan. Ini terjadi akibat pemecahan zat gizi kompleks(terutama zat besi dan lemak)     dari susu yang diminumnya.  .
Diare: Buang besar cair dan bersifat menyembur pada bayi.
II.                Penyebab Diare

Beberapa hal yang menyebabkan diare adalah :

§         Infeksi bakteri (Shigella, Salmonella, E-coli, Vibrio).
§         Infeksi virus (Enterovirus, Rotavirus, Adenovirus, Norwalk).
§         Infeksi parasit (protozoa: E.Histolytica, G.Lamblia, Balantidium coli ; Cacing perut : Askaris, Trikuris, Strongiloideus dan Jamur : kandida )
§         Malabsorbsi : Karbohidrat ( intoleransi laktosa), lemak atau  protein.
§         Makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
§         Reaksi obat.
§         Gangguan fungsi usus.
§         Psikologis (rasa takut dan cemas)
§         ISPA.
§         Imunodefisiensi.

III.             Gejala dan Tanda-tanda Diare

  • Buang air besar
  • Tinja berdarah
  • Nyeri perut
  • Kembung
  • Mual
  • Muntah ( dapat terjadi sebelum dan/ atau sesudah diare).
  • Demam
  • Kejang
  • Tanda-tanda dehidrasi.

Tanda-tanda dehidrasi pada anak :

§         Lesu atau mudah marah
§         Rasa haus
§         Jika menangis tidak mengeluarkan air mata.
§         Ubun-ubun besar cekung pada bayi.
§         Mata/pipi dan perut cekung.
§         Lidah, selaput lendir mulut kering sampai membiru.
§         Demam tinggi.
§         Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat.
§         Tekanan darah < 80 mmHg, sering tidak terukur.
§         Kulit tidak kembali rata jika ditarik dan kemudian dilepas.
§         Frekuensi buang air kecil menurun (popok yang digunakan tidak basah selama 3 jam atau lebih).
§         Kesadaran menurun.
IV.              Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan tinja.
  2. Pemeriksaan darah.
  3. Intubasi duodenum
V.                 Penularan dan Pencegahan

Penularan diare umumnya ditularkan melalui 4 F yaitu :
-         Food (makanan)
-         Faeces (tinja)
-         Fly (lalat)
-         Finger (jari tangan)

         Karena itu, pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutuskan rantai penularan tersebut.

Beberapa upaya yang dapat diterapkan adalah :

-         Penyiapan makanan yang higienis.
-         Penyediaan air minum yang bersih.
-         Kebersihan perorangan (cuci tangan sebelum makan).
-         Pemberian ASI eksklusif.
-         Lingkaran hidup yang sehat.

VI.              Penatalaksanaan

Ketika anak datang ke petugas kesehatan atau ke pusat kesehatan karena menderita diare, langkah pertama adalah menilai anak untuk mencari tanda-tanda dehidrasi.

Menilai Dehidrasi
Semua dengan anak diare harus diperiksa apakah menderita dehidrasi dan klasifikasikan status dehidrasi sebagai dehidrasi berat, dehidrasi ringan/sedang, atau tanpa dehidrasi dan beri pengobatan yang sesuai.

Ø      Rujuk ke Rumah Sakit Umum bila:

- Umurnya di bawah 6 bulan.
- Ada tanda dehidrasi. (dirujuk sesudah dehidrasi di tolong).

Ø      Penggantian cairan

Diare cair membutuhkan penggatian cairan atau elektrolit tanpa melihat penyebabnya.


Tujuan pengobatan adalah pengembalian cairan untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat (terapi rehidrasi) kemudian mengganti cairan yang hilang sampai diarenya berhenti (terapi rumatan)

Pengobatan rehidrasi.

  1. Diare tanpa dehidrasi : (mulai mencret).
Kriteria : Tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagai diare dehidrasi berat atau ringan/sedang.
Rencana terapi : mencegah dehidrasi dan mengobati diare(Rencana Terapi A)

Saat anak menderita diare dan belum terjadi dehidrasi, anak diberi minum sebanyak 5-10 ml per kg berat badan setiap kali mencret atau diberi minum sebanyak anak mau. Diare cukup diganti dengan makanan dan minuman yang ada di rumah tangga seperti cairan oralit, makanan cair (sup, kuah sayur, air tajin,   bubur tepung beras, minuman  yoghurt) atau air kelapa, air matang, teh manis.Cairan isotonik pocari sweat  dapat juga diberikan apabila oralit belum tersedia. Namun khusus bayi dan balita tidak disarankan pemberian cairan isotonik karena dikhawatirkan mengandung bahan-bahan tambahan (seperti pengawet), lebih baik berikan oralit atau sup atau air tajin . Air teh pahit kental ditambah garam seujung pisau (biasa 6-12 jam).
Teruskan pemberian larutan ini hingga diare berhenti.
Pada bayi muda :
ASI tetap diberikan.
Pemberian ASI merupakan pemberian cairan tambahan yang utama. Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.
Jika anak memperoleh ASI eksklusif, beri oralit atau air matang sebagai tambahan.
Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri 1 atau lebih cairan berikut ini : oralit, cairan makanan (kuah sayur, air tajin) atau air matang.
  1. Diare dengan dehidrasi ringan.
Cairan untuk pengganti yang diperlukan untuk keadaan ini adalah elektrolit oral ( melalui mulut) dengan formula lengkap (oralit). Kasus ini dapat ditangani oleh kader pembangunan desa baik di rumah tangga maupun di Posyandu.

  1. Diare dengan Dehidrasi Sedang
Pemberian larutan oralit kepada penderita hendaknya dilakukan oleh petugas kesehatan dari sarana kesehatan dan penderita perlu diawasi untuk beberapa jam lamanya (4-6 jam), kalau penderita sudah lebih baik keadaannya boleh pulang dengan dibekali beberapa bungkus oralit, sedangkan kalau jatuh ke dalam dehidrasi berat harus diupayakan pemberian cairan secara parenteral.
Sekarang pengelompokan yang ada : Diare dengan Dehidrasi Ringan/Sedang
Rencana terapi : mengobati dehidrasi dengan oralit (Rencana Terapi B)

Pada umumnya, anak-anak dengan dehidrasi sedang/ringan harus diberi larutan oralit, dalam waktu 3 jam pertama di klinik saat anak berada dalam pemantauan dan ibunya diajari   cara menyiapkan dan memberi larutan oralit.
Meskipun belum terjadi dehidrasi berat tetapi bila anak sama sekali tidak bisa minum oralit misalnya karena anak muntah profus, dapat diberikan infus IV secepatnya.

  1. Diare dengan dehidrasi berat.
Rencana terapi : mengobati segera dehidrasi berat (Rencana Terapi C)

Indikasi mendapat cairan  melalui infus:

  • Kasus berat.
  • Terapi peroral 6 jam gagal.
  • Muntah-muntah.
  • Tidak kooperatif.
   Ø Pemberian tablet Zinc untuk semua penderita diare

Zinc merupakan salah satu mikronutrien (mineral) yang penting dalam tubuh. 
Kemampuan zinc untuk mencegah diare terkait dengan kemampuannya meningkatkan sistim kekebalan tubuh. Semua yang berperan dalam fungsi imun, membutuhkan
zinc. Jika zinc diberikan pada anak yang sistim kekebalannya belum berkembang baik, dapat meningkatkan sistim kekebalan dan melindungi anak dari penyakit infeksi. Itulah sebabnya mengapa anak yang diberi zinc (diberikan sesuai dosis) selama 10 hari berturut - turut berisiko lebih kecil untuk terkena penyakit infeksi, diare dan pneumonia. Lebih 300 enzim dalam tubuh yang bergantung pada zinc. Zinc juga dibutuhkan oleh berbagai organ tubuh, seperti kulit dan mukosa saluran cerna. Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare. 


Pastikan semua anak yang menderita Diare mendapat tablet Zinc sesuai dosis dan waktu yang telah ditentukan kecuali Bayi Muda.

Dosis tablet zinc (1 tablet=20 mg)

Berikan dosis tunggal selama 10 hari :
- Umur 2-6 bulan : 1/2 tablet
- Umur ≥ 6 bulan : 1 tablet

Cara pemberian tablet Zinc :
- Larutkan tablet dengan sedikit air atau ASI dalam sendok teh (tablet akan larut ± 30 detik), segera berikan kepada anak.
Pada bayi : larutkan tablet zinc pada sendok dengan sedikit air matang, ASI perah atau larutan oralit.
Pada anak-anak lebih besar : tablet dapat dikunyah atau dilarutkan.
- Apabila anak muntah sekitar setengah jam setelah pemberian Zinc, ulangi pemberian dengan cara memberikan potongan lebih kecil dilarutkan beberapa kali hingga satu dosis penuh.
- Ingatkan ibu untuk memberikan tablet zinc setiap hari selama 10 hari penuh, meskipun diare sudah berhenti.
- Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus, tetap berikan tablet Zinc segera setelah anak bisa minum atau makan.
Jika Zinc dikonsumsi bersamaan dengan oralit.
Zinc aman dikonsumsi bersamaan dengan oralit. Zinc diberikan satu kali sehari sampai semua tablet habis (selama 10 hari) sedangkan oralit diberikan setiap kali anak buang air besar sampai diare berhenti. Jadi bisa, namun tidak dianjurkan, karena jika dilarutkan dalam oralit dikhawatirkan ibu akan menghentikan pemberian zinc jika diarenya berhenti.

Manfaat Zinc :
  
Berdasarkan studi WHO selama lebih dari 18 tahun, manfaat zinc sebagai pengobatan diare adalah mengurangi :
1) Prevalensi diare sebesar 34%; 
2) Durasi diare akut sebesar 20-25 %
3) Tingkat keparahan episiode diare.
4) Durasi diare persisten sebesar 24%, 
5) Angka kegagalan terapi dan kematian sebesar 40-42 % pada diare persisten
6) Memiliki efek profilaksis selama 2-3 bulan setelah pengobatan selama 10 hari.
7)    Insidens pneumonia sebesar 26%;
Pengobatan dengan zink pada pasien diare anak telah mendapat rekomendasi dari WHO dan UNICEF mulai bulan Mei 2004. Sejak tahun 2004, WHO dan UNICEF menandatangani kebijakan bersama dalam hal pengobatan diare yaitu pemberian oralit dan Zinc selama 10-14 hari. Hal ini didasarkan pada penelitian selama 20 tahun (1980-2003) yang menunjukkan bahwa pengobatan diare dengan pemberian oralit disertai zinc lebih efektif dan terbukti menurunkan angka kematian akibat diare pada anak-anak sampai 40%.

Efek samping: 

Muntah dan rasa kecap logam, namun keduanya sangat jarang dilaporkan.
Pemberian zinc dalam dosis sebanyak 10-20 mg sesuai usia seperti dosis yang dianjurkan seharusnya tidak akan menyebabkan muntah. Zinc yang dilarutkan dengan baik akan menyamarkan rasa metalik dari zinc. Sementara, efek peningkatan risiko infeksi saluran pernafasan bawah dapat ditekan apabila penggunaannya dilakukan bersamaan dengan suplementasi vitamin A. Namun tidak ada efek samping apabila dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan.


Jika anak minum lebih dari satu tablet zinc.
 

Kelebihan satu atau dua tablet karena tidak sengaja tidak akan membahayakan anak. Jika anak mengkonsumsi terlalu banyak tablet, dia mungkin akan memuntahkannya. Dan dengan memuntahkannya maka kelebihan zinc dalam tubuh sudah dinetralisir. Zinc dianjurkan hanya dikonsumsi satu tablet saja dalam sehari. Maka anjurkan ibu untuk menyimpan zinc jauh dari jangkauan anak-anak di rumah untuk mencegah hal ini. Bila dikonsumsi secara berlebihan, Zinc dapat menggangu metabolisme tubuh dan bahkan dapat mengurangi ketahanan tubuh.

Zinc boleh diberikan dengan obat lain, termasuk antibiotik, zinc dapat diberikan dengan obat-obatan lain yang sesuai dengan resep dokter di klinik atau pekerja kesehatan. Jika digunakan bersama dengan Fe, disarankan menggunakan zinc beberapa jam sebelum atau sesudahnya.



Obat Zink ini bisa dalam bentuk tablet dispersibel, sirup ataupun dry sirup.

Ø      Diet
Diberikan setelah muntah reda dan pemberian oralit telah dilakukan agar tidak muntah.
Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi

Untuk anak lebih dan sama 6 bulan atau telah mendapat makanan tambahan:
Makanan diberikan 6 kali sehari atau lebih sering untuk anak yang lebih kecil.(porsi kecil : makanan  yang banyak mengandung energi; jenis padi-padian tambahkan minyak 1 atau 2 sendok teh per  porsi dicampur dengan sayuran, kacang-kacang, daging atau ikan.
Makanan tersebut diberikan sampai diare berhenti dan diberikan makanan tambahan ( 1 1/2 kebutuhan )setiap hari selama 2-4 minggu (tergantung status gizi anak: tergantung umur dan berat badan ) .

Untuk bayi yang disusui dengan :
ASI: Pemberian ASI sekurang-kurangnya tiap 3 jam selama masa diare.
Susu Formula : Pemberian susu formula (a/rendah laktosa) dapat terus diberikan tetapi diselang seling dengan air putih / oralit diberikan paling sedikit setiap 3 jam.Atau susu formula yang diencerkan separuhnya (Bayi < 6 bulan)
 Intoleransi Laktosa : Susu bebas laktosa / rendah laktosa.
   Pada intoleransi laktosa sementara, sebaiknya diberikan susu rendah laktosa selama 1 bulan sedangkan pada penderita intoleransi laktosa primer (jarang di Indonesia) diberikan susu bebas laktosa.

Selama diare sebaiknya hindari buah-buahan tinggi serat dan bergas serta merangsang lambung,  pisang dapat diberikan selain mengandung kalium, kandungan zat pektin dalam pisang dipercaya mampu mengeraskan tinja. Jus apel/bubur apel, sari jeruk manis dapat pula diberikan untuk memberikan tambahan kalium.
 Contoh Pemberian Makanan  Untuk Anak di atas 1 tahun dengan BB > 7 kg :
Hari I : setelah rehidrasi segera diberi buah (pisang), biskuit, Breda (bubur realimentasi daging ayam), ASI ,oralit
Hari II : Breda, buah, biskuit, ASI.
Hari III.: Nasi tim, buah biskuit dan ASI.
Hari IV: Makanan biasa dengan ekstra kalori ( 1 1/2 kebutuhan )
Hari V : Dipulangkan dengan nasehat makanan seperti hari 4.

 Diit Pada Balita Diare
Agar pemberian diit pada anak dengan diare akut dapat memenuhi tujuannya, maka diperlukan persyaratan diit sebagai berikut:
a. Pasien segera diberikan makanan oral setelah rehidrasi atau keadaan telah memungkingkan, sedapat-dapatnya dilakukan dalam 24 jam pertama. Pemberian makanan secara dini penting untuk mengurangi sekecil mungkin perubahan keseimbangan protein-kalori.
b. Makanan cukup energi dan protein. Bila terjadi gizi kurang dapat diberikan diit energi lebih tinggi 25% dari kebutuhan normalnya dan tinggi protein.
c. Pemberian ASI diutamakan pada bayi. Pada anak yang mendapat susu formula dapat diberikan selang-seling dengan oralit sehingga terjadi pengenceran laktosa di dalam perut
d. Pemberian cairan dan elektrolit sesuai dengan kebutuhan menurut berat badan dan umur
e. Pemberian vitamin dan mineral dalam jumlah cukup
f. Makanan yang tidak merangsang (bumbu tajam dan tidak menimbulkan gas dan rendah serat)
g. Makanan diberikan bertahap mulai dengan yang mudah dicerna ke bentuk yang sesuai umur dan keadaan penyakit
h. Makanan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering
i. Khusus untuk penderita diare karena malabsorpsi diberikan makanan sesuai dengan penyebabnya.
j. Parenteral nutrisi dapat dimulai apabila ternyata dalam 5 hari atau 7 hari masukan nutrisi tidak optimal

Makanan yang dianjurkan:

•    Mudah ditelan, dicerna, dan diserap oleh sistem pencernaan, seperti bubur dan tim.
•    Makanan yang mengandung Lactobacillus, misalnya yoghurt.
•    Makanan yang mengandung pectin, seperti pisang dan apel (mentah maupun diolah), wortel, apricot, kacang polong, kentang. Pectin membantu penyerapan air.
•    Aneka jus dari jenis buah-buahan yang bersifat netral, seperti melon. Untuk mengganti cairan yang hilang, dapat juga diberikan air kelapa hijau.

Makanan yang dihindari:

•    Merangsang lambung, misalnya berbumbu merica, pedas, asam.
•    Berserat tinggi, seperti sayuran, dan jenis buah-buahan tinggi serat, seperti mangga, karena “memaksa” sistem pencernaan yang sedang terganggu. Juga, sayuran yang merangsang produksi gas, seperti kubis.
•    Makanan berlemak tinggi, seperti coklat, es krim, serta makanan bersantan, seperti kolak.


Ø      Antibiotika.

Hanya pada kasus tertentu secara klinik atau pemeriksan klinik atau pemeriksaan laboratorium yang jelas disebabkan oleh mikroba. (Pada neonatus/neonatus Berat Badan Lahir Rendah diare dengan demam  pemberian antibiotika harus agresif)

Ø      Obat simptomatis lainnya.

Pengganti Cairan Dengan ”Obat” Buatan Sendiri

Saat anak menderita diare, sebaiknya diberikan cairan oralit yang telah tersedia di pasaran. Bila tidak tersedia dapat dibuat larutan garam gula atau larutan garam tajin.

Cara membuat:

LARUTAN GARAM GULA :

1 sendok teh gula pasir + ¼ sendok teh garam dapur dan 1 gelas (200 ml) air matang
Lalu diaduk rata.

LARUTAN GARAM TAJIN

Tepung beras 6 sendok makan munjung (100 g), 1 sendok teh (5g) garam dapur, 2 liter air, lalu dimasak hingga mendidih.

ORALIT ANEKA RASA

1 l air panas
1 sdm gula putih
1 sdm garam dapur
¼ gelas air jeruk manis
2 sdm madu atau 2 sdm sirup
Campur dan aduk rata

Menu Diare 

Air KLAMADU
Bahan :
2 liter air  kelapa muda
2 ruas jahe panggang, memarkan
500 g  gula aren
5 butir kelapa muda, keruk dagingnya
10 sdm madu
Cara Membuat
- Rebus air kelapa, jahe dan gula hingga mendidih dan gula larut. Angkat, saring dan biarkan dingin. Tambahkan madu ,aduk rata.
- Masukkan kerukan daging kelapa muda ke dalam gelas saji, tuang campuran air kelapa muda yang telah direbus.
- Sajikan hangat sebagai pengganti oralit.

NB :*   Oralit : Formula lengkap mengandung NaCl, NaHCO3, KCL dan Glukosa.
       *   Formula Sederhana (tidak lengkap) hanya mengandung NaCl dan sukrosa atau karbohidrat lain, misalnya larutan gula garam, larutan air tajin garam, larutan tepung beras garam dan sebagainya untuk pengobatan pertama di rumah pada semua anak dengan diare akut baik sebelum ada dehidrasi (kekurangan cairan) maupun setelah ada dehidrasi ringan.  
         * Oralit Formula Baru : dapat mengurangi rasa mual dan muntah.



No    Oralit lama (WHO/ UNICEF 1978)    Oralit formula baru (WHO/ UNICEF 2004)
1.      NaCl : 3,5 g                                                NaCl : 2,6 g                 

2.      NaHCO3 : 2,5 g                                         NaHCO3 : 2,9 g
3.      KCl : 1,5 g                                                  KCl : 1,5 g
4.     Glukose: 20 g                                             Glukose: 13,5 g
5.      Na : 90 mEq/l                                             Na : 75 mEq/l
6.      K : 20 mEq/l                                               K : 20 mEq/l
7.     HCO3 : 30 mEq/l                                       Citrate : 10 mEq/l
8.     Cl : 80 mEq/l                                              Cl : 65 mEq/l
9.     Glukose : 111 mmol/l                                  Glukose : 75 mmol/l
Osmolar: 331 mmol/l                                      Osmolar : 245 mmol/l

 
  Terlihat bahwa oralit formula baru memiliki kadar natrium dan glukosa lebih  rendah (osmolaritas rendah).  
  * Jangan dulu berikan madu di bawah umur 2 tahun
Madu yang dibolehkan untuk bayi dan balita hanya yang refined dan purifed with no additive (sudah dibersihkan dan dimurnikan). Terlebih buat bayi, selain harus madu yang steril, juga jangan madu palsu karena bisa menimbulkan berbagai reaksi.
Madu asli yang masih ada lilin-lilin atau sarang tawonnya ditakutkan ada bahaya mikrobiologisnya, yaitu spora dari clostridium botulinum.


Cara Pembuatan dan Pemberian Oralit:
       - Cuci tangan hingga bersih.
-         Gunakan gelas, cangkir , teko , panci ,botol, sendok atau peralatan lain ( yang bersih.
-         Gunakan air minum, baik air putih atau air teh atau air susu yang telah masak, jangan memakai air sedang mendidih atau sedang direbus.
-         Masukkan 1 bungkus oralit (kemasan untuk 200 cc) ke dalam 1 gelas (200 cc) yang telah berisi air minum ( air hangat kuku) tadi dan aduk hingga larut betul.
-         Larutan setelah  lebih dari 24 jam jangan diminum lagi, buatlah larutan yang baru . 
-         Pada prinsipnya berikan oralit sebanyak anak mau minum (ad libitum) dan dapat dihentikan bila penderita telah segar kembali dan tidak diare/mencret atau sampai penderita tidak merasa haus lagi.Jangan takut kelebihan, sebab akan terbuang lewat air seni.Sebaliknya, jangan sampai kurang..
-         Mula-mula berikan sedikit-demi sedikit agar anak jangan muntah. Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak di bawah umur 2 tahun dan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua. Jangan menggunakan dot atau botol karena merangsang lagit-langit tenggorokan sehingga akan menimbulkan muntah.
-         Bila anak muntah, tunggulah selama 5-10 menit untuk kemudian diberikan lagi sedikit demi sedikit (misalnya sesendok tiap 2-3 menit).
-         Bila kelopak mata bengkak, hentikan pemberian oralit dan berikan air masak atau ASI. Beri oralit kembali sesuai jumlah yang ditentukan untuk tiap tingkat derajat dehidrasi bila bengkak telah hilang.
-         Sebaiknya penderita secepatnya di bawa ke pos /sarana kesehatan terdekat untuk dinilai   derajat dehidrasi menurut skor derajat dehidrasi misalnya menurut skor King, skor dehidrasi WHO , gejala klinik atau tonisitas darah. Setelah penentuan skor dehidrasi akan diberikan petunjuk penggunaan oralit untuk derajat ringan dan sedang. Dan di infus bila dehidrasi derajat berat.
- Pemberian oralit harus selalu dilakukan di mana saja, baik ketika di rumah maupun di RS.


Pemberian Oralit

Diare Tanpa Dehidrasi
* Penanganan diare di rumah

Kebutuhan oralit per kelompok Umur

Umur
Jumlah oralit yang diberikan tiap b.a.b
Jumlah oralit yang disediakan di rumah
<12 bulan
50-100 ml
400 ml/hari (2 bungkus)
1-4 tahun
100-200 ml
600-800 ml/hari, 3-4 bugkus
> 5 tahun
200-300 ml
800-1000 ml/hari,4-5 bungkus
Dewasa
300-400 ml
1200-2800 ml/hari

Oralit yang di bawa pulang diberikan cukup untuk 2 hari.
Ibu diajari cara mencampur dan memberikan oralit. Ibu diberikan 6 bungkus oralit (200 ml) untuk digunakan di rumah.
Pemberian cairan tambahan diteruskan sampai diare berhenti.
Untuk Diare Ringan/sedang

Jika Berat Badan tidak diketahui Untuk mempermudah pemberian oralit di lapangan, berikan oralit paling sedikit sesuai tabel
DR 25-50 ml/kg BB
DS 100 ml/kg BB
Jumlah oralit yang diberikan pada 3 jam pertama(75 ml/kgBB)

Umur
<1 tahun
1-5 tahun
>5 tahun
Dewasa
Jumlah oralit
300 ml
600 ml
1200 ml
2400 ml


SISTEM PENILAIAN (SKOR) DEHIDRASI
MENURUT WHO



BAGIAN TUBUH YANG DIPERIKSA


NIlAI UNTUK GEJALA YANG DITEMUKAN


1


2

3

a. Keadaan Umum


Baik

Gelisah ,haus,lemah,ngantuk


Mengigau,presyok,syok,koma


b. Mata


Normal

Cekung

Cekung sekali,


c. Mulut


Normal



Kering


Kering sekali

d. Pernapasan


20-29 kali/menit


30-40 kali/menit

41-60 kali/menit


e. Kekenyalan kulit


Baik


Menurun/kurang

Jelek

f. Denyut nadi


<120 kali/menit

120-140 kali/menit


>140 kali/menit



KETERANGAN :
derajat dehidrasi : skor dehidrasi WHO modifikasi FKUH


Tanpa  Dehidrasi  : skor ≤ 6
Dehidrasi ringan-sedang  : skor 7-12
Dehidrasi berat     : skor ≥ 13 

Deteksi dehidrasi via Urine 
Kurang tidaknya cairan yang dikonsumsi dapat dilihat dari warna urine.
Untuk mengetahui hal tersebut dapat digunakan kartu PURI (Periksa Urine Sendiri)
Bila warna urinenya putih jernih sampai sedikit kuning muda, itu pertanda tubuh cukup air(terhidrasi baik).
Bila warna urinenya kuningnya semakin pekat dan jumlahnya sedikit dari biasanya, pertanda tubuh sudah kekurangan air, segeralah minum.





Cara Menentukan Kekenyalan Kulit Perut (Turgor kulit) 


Kulit perut dijepit antara ibu jari dan telunjuk selama 30-60 detik, kemudian dilepas.

Jika kulit kembali normal dalam waktu :

1 detik    : turgor agak kurang (dehidrasi ringan)
1-2 detik : turgor kurang (dehidrasi sedang)
2 detik     : turgor sangat kurang (dehidrasi berat) 


Turgor Kulit
Cara memeriksa dengan cubitan kulit


- Turgor kulit biasanya diperiksa pada kulit abdomen (perut), dengan mencubit kulit secara ringan dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk dan tidak menggunakan ujung jari, karena dapat menimbulkan rasa sakit. Tangan diletakkan sedemikian rupa sehingga lipatan cubitan kulit sejajar tubuh bayi(memanjang dari atas ke bawah-tidak melintang tubuh bayi). Angkat semua lapisan kulit dan jaringan di bawahnya dan membiarkannya kembali.
- Bila turgor kulit buruk, maka cubitan akan lama kembali , misalnya pada dehidrasi berat atau malnutrisi.
- Pada bayi yang tampaknya masih normal, dalam keadaan ini maka harus dicari tanda dehidrasi yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.