Kamis, 19 Desember 2013

Rumple Leed Test

                                                             

                                    Rumple Leed Test

Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda ini tidak selalu di dapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini muncul setelah dilakukan test tourniquet.
Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (peteki), perdarahan agak besar (ekimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan bahkan dapat terjadi perdarahan masif yang berakhir dengan kematian.
Pada hari-hari pertama demam biasanya dapat dilakukan test Rumpel Leed untuk mengetahui adanya peteki sebagai tes adanya infeksi dengue pada pasien demam. 

Rumpel  Leede Test
(Uji Rumpel Leede)
Uji Tourniquet (S.tourniquet test)
S. Hess Test
Test Pembendungan
Pemeriksaan Resistensi Kapiler
Prinsip :
-    Diberikan pembebanan pada kapiler selama waktu tertentu sehingga terhadap kapiler diciptakan suasana anoksia dengan adanya bendungan aliran darah vena. Terhadap anoksia dan penambahan tekanan internal akan terlihat sejauh mana kemampuan kapiler dapat bertahan . Jika ketahanan kapiler turun akan timbul "' Petechiae "' di kulit.
-    Jika ketahanan kapiler luntur (dinding kapiler kurang kuat), pembendungan vena menyebabkan darah menekan dinding kapiler. Dinding kapiler yang oleh suatu sebab kurang kuat atau adanya trombositopenia, akan rusak oleh pembendungan tersebut. Darah dari dalam kapiler akan keluar dan merembes ke dalam jaringan sekitarnya sehingga tampak sebagai bercak /titik merah kecil pada permukaan kulit yang dikenal sebagai peteki.
Fungsi bendungan :
-    Untuk menimbulkan hambatan terhadap aliran darah balik di lengan  dan juga sehingga vena mengembang di permukaan kulit dan menjadi lebih jelah terlihat.
-    Hal yang perlu diperhatikan ialah :
Bahwa bendungan tidak boleh terlalu ketat dan tidak boleh berlangsung lama.
Pembendungan yang ketat dan berlangsung lama dapat menimbulkan hemokonsentrasi.
Alat :
-    Tensimeter
-    Stetoskop
-    Timer/Stop Watch
-    Spidol

Cara Kerja : Terangkan pada pasien tentang tujuan tes RL dan prosedurnya.
1.    Buatlah lingkaran (pakai spidol), pada lengan volar lengan bawah.
Radius 3 cm
Titik pusat terletak 2 cm di bawah garis  lipatan siku
2.     Pasang manset tensimeter pada lengan atas.
Carilah Tekanan Sistole (TS) dan Tekanan Diastole (TD) padan lengan volar lengan bawah. Pompa sfigmomanometer sampai tekanan antara sistolik dan diastolik (100 mmHg) yaitu di atas tekanan vena tapi kurang dari tekanan arteri sehingga darah dari jantung ke perifer tetap jalan. Pertahankan selama 10 menit (jika test ini dilakukan sebagai lanjutan dari test IVY, 5 menit sudah mencukupi).Jika tekanan Sistolik < 100 mmHg, buatlah tekanan sebesar ½ (TS+TD) pertahankan tekanan ini selama 5 menit.(3-5-10 menit).
3.    Lepaskan ikatan sfigmomanometer dan tunggu sampai tanda stasis darah lenyap. Stasis darah telah berhenti jika warna kulit pada lengan yang dibendung sama dengan warna kulit lengan yang disebelahnya. Perhatikan timbulnya peteki(bintik-bintik merah) pada lengan bawah di daerah kulit lipatan siku di bawah bebatan.(pada lengan bawah sepertiga bagian proksimal medial)
4. Setelah tes, buka-tutup tangan beberapa saat sampai sirkulasi lengan kembali normal.
Peteki: ialah manifestasi perdarahan yang sering ditemukan, biasanya muncul pada hari pertama demam dan berlangsung selama 3-6 hari.
Nilai Rujuk :
•    < 10 peteki dinyatakan negative atau normal
•    20 dinyatakan abnormal
•    10-20 dinyatakan dubia
 Atau :
Scale for reporting number of petechiae:
 0 to 10 = 1+
 10 to 20 = 2+
20 to 50 = 3+
50 or more = 4+

Untuk uji infeksi dengue, ada juga pihak yang mengatakan tetap positif infeksi dengue kendati jumlahnya kurang dari 20, dan tidak perlu hanya di daerah lipatan siku, boleh di bagian lengan bawah mana saja.

Tes ini cara awal paling sederhana bila suatu demam dicurigai sebagai infeksi dengue. Dikenal sebagai cara Tes Rumpel Leed.
Meskipun uji tourniquet positif dapat juga ditemukan pada berbagai macam penyakit, namun uji itu sebagai manifestasi perdarahan teringan dan dapat dinilai sebagai “presumptive test”(test skrining) karena pada dijumpai pada sebagian besar penderita DBD hari-hari pertama demam. Dengan melakukan tes RL maka dengan demikian kasus cepat diketahui dan masyarakat dalam keadaan siap siaga menghadapi ancaman DBD


Uji Tourniquet dapat negative selama masa renjatan, juga kadang-kadang pada DBD tanpa renjatan.  
RL positif  a.l :
•    Infeksi dengue
•    Defisiensi Vitamin C
•    ITP
•    Schonlein Henoch

Tes RL tidak perlu dilakukan:
1. Jika sudah terdapat purpura
2. Diketahui mempunyai riwayat perdarahan.

Tanpa tensimeter, kita dapat melakukannya sendiri dengan membebat lengan atas dengan sapu tangan/karet elastis  dengan tekanan secukupnya. Setelah  5 menit, perhatikan apakah keluar bintik-bintik merah pada kulit lengan bawah. Jika ada, langsung ke dokter.

Membedakan Peteki dengan bintik gigitan nyamuk jika mencurigai infeksi dengue.
Jika pasien demam memperlihatkan bintik merah mirip bekas gigitan nyamuk, lakukan peregangan kulit di area sekitarnya dengan jari. Jika kemudian bintik merah yang dicurigai bintik perdarahan tampak menjadi lebih pudar merahnya kemungkinan bukan bintik perdarahan. Sebaliknya , jika pada saat kulit ditekan bintiknya tidak pudar, kemungkinan benar peteki tanda perdarahan DBD. Namun, tanda perdarahan kulit dapat juga berupa lebam. Peteki spontan juga dapat ditemui.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.