Sabtu, 30 April 2011

Nyamuk Nakal


-         Cara Bijak Menggunakan Obat Nyamuk


Semua obat nyamuk mengandung racun yang berfungsi membunuh. Selain kandungan bahan aktifnya itu, lazimnya produk obat nyamuk juga memiliki zat tambahan tertentu, seperti pewarna, pengawet serta pewangi. Bahan - tambahan ini juga dapat merugikan kesehatan.
Racun nyamuk yang bersifat membunuh nyamuk ditemukan pada semua jenis obat nyamuk baik pada obat nyamuk bakar, semprot dan elektrik. Sedangkan obat nyamuk oles lebih bersifat pencegahan yaitu mengusir nyamuk.

Sejauh ini obat anti nyamuk masih diperlukan, terutama untuk mencegah penyakit DBD.


Konsentrasi Sangat Rendah

Semua anti nyamuk diproduksi dalam batas aman, dan tidak menimbulkan efek keracunan. Zat  kimia mempunyai ambang batas keracunan serta lethal death (mematikan), namun umumnya ambang batas itu dibuat sangat rendah, jauh dari ambang batas keracunan atau kematian. Artinya antinyamuk dibuat dengan konsentrasi bahan aktif yang sangat rendah. Efek toksik kronis (jangka panjang) juga sudah diperhitungkan.  Namun penggunaan antinyamuk yang tidak benar dan tidak hati-hati  dapat merugikan kesehatan.
Adalah lebih baik, menghindari memakai obat nyamuk karena resiko yang ditimbulkan. Meski begitu, pemakaian obat anti nyamuk sangat dianjurkan jika bahaya yang ada lebih besar, misanya karena Anda tinggal di daerah yang banyak nyamuk malaria , nyamuk DBD, nyamuk penyebab elephantiasis atau kaki gajah. 

Secara garis besar, bahan anti nyamuk yang beredar di pasaran ada empat jenis.

ANTI NYAMUK:

Bakar (koil)
Spray atau semprot (bentuk mekanik dan aerosol)
Elektrik dan
Lotion (repellent)

             
Cara Pemakaian dan Pemilihan Obat Antinyamuk  :

Seandainya Anda tetap memakai obat antinyamuk , ada beberapa  hal yang perlu Anda lakukan untuk meminimalkan risiko.

Obat antinyamuk Bakar

Jenis ini mengandung zat kimia sintetik aktif (alletrin, transflutrin, pralethrin, bioalletrhrin, esbiothrin, 
            Tidak dianjurkan menggunakan obat nyamuk bakar sepanjang malam. Pemakaian obat nyamuk bakar ini sama sekali tidak direkomendasikan , terutama anak yang berkecenderungan asma. Selain asapnya dapat menyebabkan pedih di mata, juga bisa menyebabkan batuk-batuk dan sesak nafas.
            Cara Penggunaan:
            Asap yang keluar dari antinyamuk bakar berfungsi menghalau nyamuk. Nyamuk yang melintasi asap diharapkan bakal mati. Lihat arah pergerakan udara di ruangan atau kamar saat memasang antinyamuk bakar. Karena menghasilkan asap penggunaanya harus dalam ruangan atau kamar dengan sirkulasi udara yang baik, jadi jangan di ruangan tertutup dan sangat tidak dianjurkan di gunakan di dalam kamar ber AC karena asapnya akan tetap berada di ruang tersebut.
Bila menggunakan obat nyamuk ini, sebaiknya bakarlah kira-kira 6-8 jam sebelumnya agar udara tidak langsung terhirup.  

Obat Nyamuk Semprot ( Spray)
           
Sebenarnya efek yang diharapkan dari jenis semprot adalah membunuh nyamuk dan efek residu, yang ditujukan untuk menghalau nyamuk. Agar bisa efektif, penyemprotan harus dilakukan ke nyamuk yang beterbangan, dinding atau gorden, bukan ke udara. Nyamuk yang menempel pada tempat yang sudah disemprot anti nyamuk itupun akan mati. Sayangnya kebanyakan yang terjadi justru menyemprot ke udara.
Lakukan penyemprotan sekitar dua jam sebelum anak masuk ruangan atau kamar tidur. Bila bau sudah tidak tercium lagi, maka anak aman untuk masuk ruangan.
Hindari  pula terkena bahan makanan atau yang bisa menyebabkan kontak langsung dnegan kulit. Tutup makanan atau minuman, alasi tempat tidur. Harap diingat, jangan menyemprotkan obat nyamuk dikala anak sedang tidur.
Saat menyemprot, sebaiknya pendingin ruangan (AC) dimatikan terlebih dahulu. Dan biarkan selama 2 jam tidak digunakan, karena ketika suhu kamar menjadi dingin, akibatnya obat nyamuk semprot tidak menguap dan tersebar sempurna. Tentunya akan melekat di permukaan kasur atau bantal, di meja atau dinding ruangan. Ini dapat membahayakan kesehatan ketika dihirup.   Orang yang menyemprot pun ada baiknya menggunakan masker, supaya cairan yang disemprotkan tidak langsung terisap. Lalu antinyamuk disemprotkan ke dinding dan gorden secara merata setelah itu gorden ditutup.
Dengan cara penyemprotan yang benar, antinyamuk masih efektif selama 3-7 hari. Jadi tidak perlu menyemprot antinyamuk setiap hari.      


Antinyamuk Eletrik (matt)

Seperti halnya obat nyamuk bakar, jenis elektrik juga tidak dianjurkan digunakan sepanjang malam. Lebih baik dipasang beberapa jam menjelang anak tidur. Matikan segera setelah anak tidur. Kendati dalam dosis kecil, obat nyamuk jenis ini mengandung bahan aktif. Jadi, tetap saja berbahaya, terutama pada anak yang sensitive dan peka.Antinyamuk elektrik tetap mengeluarkan asap, meski tak terlihat. Pada jenis ini juga diperlukan sirkulasi udara yang baik.

Lotion Antinyamuk (Obat nyamuk oles)
           
Bersifat mencegah, yaitu mengusir nyamuk. Daya tahannya tergantung dari masing-masing produk (mulai dari 4 hingga 8 jam). Biasanya batas waktu tersebut dicantumkan dalam kemasan .
            Sebaiknya olesi bila anak mau tidur. Jika setelah dipakaikan dan nyamuk tetap menempel , berarti bahan aktifnya sudah tidak berfungsi lagi. Karena obat nyamuk jenis ini berisiko menyerap bahan aktif berlebihan melalui kulit, produk ini tidak dianjurkan dugunakan pada anak di bawah usia 4 tahun.
            Untuk lotion antinyamuk pun sebaiknya si kecil tidak sering-sering menggunakannya. Kendati kandungan pyrethroid dan diethytoluamide (DEET) yang ada pada obat losion sebenarnya lebih aman ketimbang kandungan yang ada pada obat antinyamuk semprot atau bakar, namun bukan berarti aman sama sekali. Ia tetap bisa menimbulkan iritasi pada kulit. Terutama bagi kulit sensitive dan bila dikenakan pada lipatan kulit.
            Jadi, gunakan losion antinyamuk seperlunya. Misalnya, jika si kecil tengah pergi ke suatu tempat yang banyak nyamuknya. Atau anak-anak yang cenderung aktif lebih baik menggunakan jenis oles..Produk ini  tidak dianjurkan digunakan pada anak di bawah 4 tahun.
            Obat antinyamuk losion yang menggunakan bahan kimia sintetik dan bahan aktif DEET sebaiknya tidak digunakan oleh anak, ibu hamil dan ibu menyusui karena kandungannya yang bersifat korosif dapat diserap kulit. Anak balita yang sensitive dapat mengalami alergi. Namun diantara semua produk yang ada, antinyamuk oles relative mempunyai risiko yang lebih sedikit.
Cara menggunakanya :
Gunakan losion anti nyamuk secukupnya dan oleskan tipis-tipis saja. Tidak diperkenankan terlalu sering atau secara berulang-ulang dalam tenggang waktu cukup lama. Jika muncul keluhan, segera hentikan penggunaan. Lekas basuh kulit si kecil dengan sabun di bawah air mengalir. Selain itu, hindari pemberian losion antinyamuk di daerah kulit sekitar mata, hidung dan mulut karena di masing-masing organ tubuh yang penting ini terdapat banyak kelenjar dan pembuluh darah halus. Segera mencuci tangan setelah mengoleskan losion tersebut.
Anak tidak dianjurkan menggunakan losion sendiri kalau anak melakukan sendiri sebaiknya diminta segera mencuci tangan dengan sabun. Hal ini mengindari terjadinya keracunan akibat losion anti nyamuk yang tertelan. .
Bijak menggunakan Obat Anti-Nyamuk buat Ibu hamil
Bahan kimia yang aman untuk ibu hamil adalah DEET (N, N-etil-m-toluaminde atau m-DET). Agar aman untuk pemakaian sehari-hari, Mama dianjurkan menggunakan anti-nyamuk dengan kadar DEET terendah. Lebih baik lagi bila Mama seminim mungkin bersentuhan langsung dengan produk-produk yang mengandung DEET. Bila perlu, gunakan anti-nyamuk dengan DEET di baju tidur bagian luar, sehingga tak bersentuhan langsung dengan kulit. 

Solusi Lain
            AC dapat menyebabkan nyamuk menjadi tidak aktif. Pengaturan suhu 24 derajat Celcius menyebabkan nyamuk menjadi susah melakukan aktivitas. Apalagi pada suhu 20 derajat C ke bawah, nyamuk akan diam saja dan tidak mau bergerak dan akhirnya kemudian mati. Nyamuk akan bergerak aktif pada suhu 26-27 derajat Celcius

Kamis, 28 April 2011

Donor Darah

  

DONOR DARAH
Dr Lusia
Syarat Donor  Darah:


1. Calon donor diwawancarai : pencatatan jati diri, pernah menderita penyakit apa, sudah berapa kali mendonor, kapan donasi terakhir, riwayat menerima transfusi, riwayat tato, ditindik, ditusuk jarum.
2. Usia 17 - 60 tahun ( 17 tahun harus ada izin tertulis dari orang tua dan sampai umur 65 tahun dapat dipertimbangkan )
3. Berat badan minimal 45 kg.
4. Berbadan sehat yang ditunjukkan dengan pemeriksaan :
a. TD sistolik 110 - 180 mmHg
     TD diastolik 70 - 100 mmHg
b. Hb wanita minimal 12 g%
    Hb pria minimal 12,5 g%
c. Suhu badan antara 36,5 -37,5%.
5. Bukan seorang yang termasuk kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi untuk mendapatkan HIV/ AIDS (homoseks,morfinis,berganti-ganti pasangan seks, pemakai jarum suntik tidak steril ).
6. Tidak menderita penyakit jantung, paru,hati,ginjal,kencing manis,penyakit darah,gangguan pembekuan darah,epilepsi,kanker,penyakit kulit kronis,gejala alergi.(Tidak sedang menderita penyakit)
7.Laboratorium: penanda Sifilis, GO,penanda hepatitis, anti HIV (AIDS/HIV),malaria,tifus negatif.
8. Golongan darah donor sesuai golongan darah penerima transfusi ( resipient ).
 9. Riwayat imunisasi,operasi dan pasca pencabutan gigi terpenuhi.
10. Keadaan haid, hamil,melahirkan, menyusui sesuai syarat yang ditentukan.( Wanita tidak sedang haid, hamil dan menyusui )
12. Kulit lengan donor tepat penyadapan sehat tidak ada kelainan.
13. Riwayat minum obat aspirin terakhir 3 hari yang lalu.
14. Tidur malam sebelum donor harus cukup minimal 5 jam.
15. Sudah sarapan/makan. 
16. Jarak waktu donor sekurang-kurangnya 2,5 bulan.(PMI)(2,5-3 bulan maksimal 5 kali /tahun)

Seseorang tidak boleh menjadi donor darah pada keadaan:(PMI)
  • Pernah menderita hepatitis B
  • Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis
  • Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah transfusi
  • Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah tattoo/tindik telinga
  • Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi
  • Dalam jangka wktu 6 bulan sesudah operasi kecil
  • Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar
  • Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, cholera, tetanus dipteria atau profilaksis
  • Dalam jangka waktu 2 minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis epidemica, measles, tetanus toxin.
  • Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies therapeutic
  • Dalam jangka waktu 1 minggu sesudah gejala alergi menghilang.
  • Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah transpalantasi kulit.
  • Sedang hamil dan dalam jangka waktu 6 bulan sesudah persalinan.
  • Sedang menyusui
  • Ketergantungan obat.
  • Alkoholisme akut dan kronik.
  • Sifilis
  • Menderita tuberkulosa secara klinis.
  • Menderita epilepsi dan sering kejang.
  • Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh darah balik) yang akan ditusuk.
  • Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya, defisiensi G6PD, thalasemia, polibetemiavera.
  • Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi untuk mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks, pemakai jarum suntik tidak steril)
  • Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan pada saat donor darah.

Semoga catatan kecil ini  dapat berguna. Kalo ada yang perlu dikoreksi di edit aja sendiri he he he.

SELAMAT BEKERJA

One donation may gave up to 3 lives
Happy World Blood Donor Day (Hari Donor Darah Dunia) 14 Juni 
DORAS = Donor Darah Siswa
DORAM = Donor Darah Mahasiswa


JAKARTA, KOMPAS.com - Palang Merah Indonesia Cabang DKI Jakarta mengajak warga Jakarta untuk menjadikan donor darah sebagai gaya hidup. Mendonorkan darah bukan sekadar tindakan tanggap darurat atau aktivitas sosial, tapi juga wujud kebiasaan hidup sehat.
"Sebagaimana sering dikatakan Pak JK (Ketua PMI Pusat Jusuf Kalla, red), donor darah seharusnya menjadi lifestyle masyarakat karena punya banyak manfaat bagi kesehatan," kata Kepala Unit Transfusi Darah Daerah PMI DKI Jakarta Salimar Salim dalam acara donor darah Asosiasi Big Generation Silverians 86 di Kantor PMI, Senen, Jakarta Pusat, Minggu (9/10/2011).
Ia menjelaskan, bagi banyak orang, donor darah hanya dilakukan saat ada sanak keluarga atau kerabat membutuhkan darah. Ada juga orang yang menyumbangkan darahnya pada saat diadakan kegiatan kelompok atau lembaga tertentu. "Inisiatif pribadi untuk menjadi pendonor rutin masih terbatas jumlahnya," kata Salimar.
Mantan Kepala RS Haji Jakarta itu mengatakan, ada banyak manfaat bagi kesehatan pribadi di balik aksi donor darah. Saat kita mengeluarkan darah, tubuh akan langsung memproduksi darah baru yang lebih bersih dan stabil kadar zat besinya. Manfaat lain adalah mengurangi gangguan penyakit jantung dan mengurangi beban ginjal. Pendonor rutin juga secara tidak langsung sudah memeriksakan kesehatannya secara teratur karena kondisi kesehatan dan darah pendonor akan ikut diperiksa oleh petugas.
Salimar berharap para pendonor yang mendapatkan pengetahuan kesehatan dari petugas itu dapat berbagi informasi dengan warga lain untuk memotivasi mereka dalam kegiatan donor darah.
Saat ini jumlah permintaan darah ke PMI DKI Jakarta mencapai 1.100 kantong per hari. Dalam kondisi normal di luar bulan Ramadhan, PMI Jakarta mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui donor langsung sekitar 200-300 kantong per hari. "Kita juga dapat dari kendaraan transfusi yang bergerak ke sana-kemari, bisa sampai 800 kantong," ujarnya.
Meski demikian, ia berharap jumlah pendonor rutin akan terus bertambah demi memenuhi kebutuhan darurat yang sulit diprediksi jumlahnya

.

Mengenal Suhu Tubuh





Mengenal Suhu Tubuh

dr Lusia

                              I.      Pendahuluan

   Hampir semua orang pernah mengalami demam, ada yang demam ringan adakalanya sampai demam panas sekali atau hampir semua orang pernah merasa kedinginan. Semua itu berhubungan dengan suhu tubuh, dapat merupakan keadaan yang masih normal  dan abnormal. Keadaan demikian merupakan keadaan yang lazim ditemui dalam kehidupan.  Sehingga kita harus membekali pengetahuan untuk menghadapinya. Untuk mengatasi ketidaknyamanan yang diakibatkannya dilakukan berbagai cara mulai cara sederhana sampai harus ke dokter.
    Mengenali suhu tubuh sangat perlu karena merupakan salah satu tanda fungsi vital tubuh kita yang dapat mendeteksi fungsi sistem tubuh kita apakah bekerja normal atau dalam keadaan sedang sakit. Kita perlu mengetahui suhu tubuh normal, suhu tubuh abnormal , pengaturan suhu agar tetap konstan, dan hal-hal lain yang menyangkut suhu sehingga kita dapat mengatasi bila terjadi keadaan yang tidak normal dan mempertahankan suhu yang normal agar tetap sehat.  

 II. Panas Tubuh, Pembentukan dan pengeluaran Panas
 Setiap sel di dalam tubuh memerlukan energi untuk memelihara struktur dan fungsinya. Seluruh energi yang diperlukan oleh sel-sel tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi setiap harinya (sumber energi). Misalnya dari berasal dari karbohidrat, protein dan lemak. Energi tubuh yang dihasilkan yang berasal dari pembakaran 1 gram lemak adalah 9 Kalori dan karbohidrat 4 Kalori serta protein  4 Kalori. Energi dalam makanan ini terdapat sebagai energi kimia yang dapat diubah menjadi energi bentuk lain. Bentuk energi yang berkaitan dengan proses-proses biologi adalah energi kimia, energi mekanis, energi panas dan energi listrik.Dalam kegiatan tubuh sehari-hari, pemakaian energi dapat melalui kegiatan kerja eksternal dan internal. Kerja eksternal berhubungan dengan pemakaian energi akibat kontraksi otot rangka sewaktu tubuh menggerakkan badan atau anggota badan seperti mengangkat atau memindahkan suatu benda, menghindar, memukul, mengelak, dan sebagainya. Kerja internal berhubungan dengan pemakaian energi oleh seluruh proses biologis di dalam tubuh yang tidak termasuk dalam kegiatan kerja eksternal.
Tidak semua energi yang didapat dari nutrien dapat dipergunakan untuk kegiatan kerja. Energi yang tidak dapat dipakai ini akan diubah menjadi energi panas. Selama proses biokimiawi di dalam tubuh, hanya 50% energi dari nutrien yang diubah menjadi ATP selebihnya akan hilang dalam bentuk panas. Selama pemakaian ATP oleh sel-sel tubuh, 25% lainnya energi yang berasal dari makanan inipun akan diubah menjadi panas. Selanjutnya panas yang terbentuk inilah (produksi panas internal) dan ditambah dengan perolehan panas yang didapat dari lingkungan eksternal tubuh (keduanya disebut Sumber panas) yang membentuk kandungan seluruh panas tubuh.

Panas tubuh diperlukan untuk kelancaran aliran darah dan menjaga agar reaksi kimia tubuh dapat berjalan baik (enzim hanya bekerja pada suhu tertentu yang relatif tetap (pada suhu normal)..Sumber utama panas badan adalah pembakaran makanan terutama di dalam hati,otak, jantung dan otot-otot bergaris.
Kemudian panas ini dihantarkan dari organ dan jaringan yang lebih dalam ke kulit, dimana panas tubuh hilang ke udara dan sekitarnya. Oleh karena itu, laju hilangnya panas tubuh ditentukan oleh seberapa cepat panas tubuh dapat dikonduksikan dari tempat panas tubuh dihasilkan dalam inti tubuh ke kulit dan seberapa cepat panas tubuh kemudian dapat dihantarkan dari kulit ke sekitarnya.
Bila kandungan  seluruh panas tubuh ini sudah melebihi batas toleransi, maka tubuh akan berupaya untuk mengeluarkan panas (panas tubuh hilang) melalui kulit (permukaan tubuh) dengan cara  (mekanisme) konveksi, konduksi, radiasi, evaporasi. 

   Panas panas badan yang diperoleh dari lingkungan dipengaruhi oleh :
a) Pengaruh temperatur udara
Bilamana suhu tubuh lebih rendah dari suhu lingkungan maka tubuh akan mendapat panas dengan cara konveksi. Sebaliknya bila suhu tubuh lebih tinggi daripada suhu lingkungan maka panas tubuh akan mengalir ke udara sekitar. Kemudian bila suhu permukaan benda lebih tinggi dari suhu tubuh maka tubuh akan mendapatkan tambahan panas dari benda tersebut dengan cara radiasi atau pancaran.
b) Kelembaban
Mempunyai pengaruh terhadap penguapan keringat , apabila udara lingkungan mempunyai kelembaban yang tinggi, maka penguapan keringat akan terganggu yang berakibat suhu badan menjadi naik.
c) Kecepatan angin
Mempunyai pengaruh terhadap pembuangan atau penambahan panas tubuh melalui penguapan dan konveksi.

 
Cara perpindahan panas 
Proses radiasi
Kehilangan /perolehan panas melalui radiasi adalah kehilangan/perolehan dalam bentuk gelombang panas. 
Proses radiasi tergantung dari perbedaan suhu antara kulit dan obyek sekitarnya. Tubuh manusia menyebarkan gelombang panas ke segala penjuru. Gelombang panas juga dipancarkan dari benda-benda di sekitar ke tubuh . Tetapi bila suhu tubuh lebih besar dari suhu lingkungan, panas tubuh ini akan dipancarkan keluar dari tubuh lebih besar daripada yang dipancarkan ke tubuh.
Kehilangan panas karena radiasi ini dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Makin rendah suhu lingkungan makin besar panas tubuh yang hilang dan bila suhu tubuh makin mendekati suhu lingkungan, kehilangan panas yang terjadi makin kecil. Selain dipengaruhi oleh hal tersebut, radiasi juga dipengaruhi oleh kelembaban udara, makin tinggi kelembaban, kehilangan panas makin berkurang. 

Contohnya:
* Lampu inframerah dan  untuk bayi hipotermi.
* Bayi diletakkan dekat tembok yang dingin dapat menyebabkan hipotermi.

*Radiasi merupakan penyebab kehilangan panas terbesar pada penderita yang menjalani operasi.
Konduksi. Kehilangan/perolehan panas melalui permukaan tubuh ke benda-benda lain yang bersinggungan dengan tubuh, di mana terjadi pemindahan panas secara langsung antara tubuh dengan objek pada suhu yang berbeda(dengan jalan kontak langsung). Dibandingkan dengan posisi berdiri, orang dengan posisi tidur dengan permukaan kontak akan melepas panas lebih banyak melalui konduksi.

 Proses ini pun tergantung dari perbedaan suhu badan dan sekitarnya. Kecepatan pelepasan panas melalui proses konduksi berlangsung amat cepat, yang terjadi melalui mekanisme suplai darah yang alamiah. Bila arteriole membuka lebar maka suhu kulit  kurang lebih sama dengan suhu tubuh, sebaliknya pengurangan aliran darah sampai jumlah yang minimal, yang masih dibutuhkan untuk suplai kebutuhan nutritif, akan menghasilkan suhu kulit yang mendekati suhu sekitar tubuh. Ini adalah kenyataan daripada variasi suplai darah alamiah dalam pengaturan suhu tubuh. Bila dibutuhkan pelepasan panas yang lebih banyak maka darah akan dialirkan ke kulit. Dan sebaliknya bila pelepasan panas ingin ditekan maka aliran darah ke kulit akan dikurangi. 
Perolehan panas melalui metoda konduksi dapat berupa :
* Kantong air panas/botol berisi air panas
* Handuk panas
*Electric pads (Caranya melingkari kawat elemen panas yang dibungkus asbes atau                plastik. Untuk amannya dilengkapi dengan termostat.)
Konveksi

*perpindahan kalor/panas melalui suatu zat yang disertai perpindahan partikel-partikel zat itu*
Pemindahan panas melalui pergerakan udara atau cairan yang meliputi permukaan kulit.
Sejumlah kecil konveksi hampir selalu terjadi sekitar tubuh karena kecenderungan udara yang dekat kulit bergerak ke atas waktu udara tersebut dipanaskan. Oleh karena itu, orang telanjang dada yang duduk dalam ruangan yang sejuk tanpa pergerakan udara yang nyata tetp kehilangan 12% panasnya dengan konduksi ke udara dan kemudian dibawa menjauhi tubuh oleh arus konveksi.

Evaporasi
Evaporasi adalah kehilangan panas tubuh sebagai akibat penguapan air melalui kulit dan paru-paru, dalam bentuk berubahnya cairan menjadi gas.  Bila air menguap dari permukaan tubuh , 0,58 Kalori panas hilang untuk setiap gram(cc) air yang menguap.
Sejumlah kecil air berdifusi melalui kulit sepanjang waktu dan kemudian diuapkan dari permukaan. Evorasi juga secara terus menerus berlangsung melalui sistem respirasi karena udara respirasi dijenuhkan dengan uap air. Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa pelepasan dengan cara ini juga tetap berlangsung pada cuaca dingin. Kehilangan panas yang hebat sekali juga dapat terjadi hanya dengan pengeluaran keringat. Evaporasi yang terjadi melalui kulit , cairan yang hilang sekitar 800 ml (30-50 ml/jam). Sedangkan evaporasi melalui sistem pernapasan terjadi melalui udara yang diekspirasikan, cairan yang hilang sekitar 400 ml/hari.
Penguapan sebagai mekanisme pendingin yang penting pada suhu Tinggi.

Selama suhu tubuh lebih besar daripada suhu lingkungan, panas hilang dengan cara radiasi dan konduksi, tetapi bila suhu lingkungan lebih besar daripada suhu kulit, sebagai ganti dari kehilangan panas, tubuh memperoleh panas dengan cara dan radiasi dan konduksi dari lingkungan. Dalam keadaan ini, cara satu-satunya dimana tubuh dapat membuang panas dengan cara penguapan (evaporasi). Oleh karena itu, setiap faktor yang mencegah penguapan dengan adekuat bila suhu lingkungan lebih tinggi daripada suhu tubuh mengakibatkan suhu tubuh meningkat.  
Berkeringat
Bila tubuh mendapat pemanasan berlebihan, sejumlah besar keringat disekresi ke permukaan kulit oleh kelenjar keringat ekrin untuk memberikan pendinginan evaporatif yang cepat pada tubuh.
Pengeluaran keringat sendiri menyebabkan hilangnya panas dari tubuh. Mekanisme itu hanya efektif untuk menurunkan suhu tubuh bila keringat yang terbentuk diuapkan oleh tubuh, tidak jatuh atau meleleh dari tubuh. Setiap ml keringat yang diuapkan membutuhkan 580 kal yang akan diserap dari tubuh.
III. Suhu Tubuh

* Suhu:
Dalam keadaan sehari-hari kita mengenal panas dan dingin. Misalnya api panas, es dingin, air untuk mandi mungkin sejuk atau hangat. Nah, benda yang terasa panas itu kita katakan mempunyai suhu tinggi dan benda yang dingin mempunyai suhu yang rendah. Dalam hal ini taraf panas-dingin suatu benda kita sebut temperatur atau suhu. Jadi suhu adalah istilah yang dipakai untuk membedakan panas-dinginnya suatu benda dalam suatu ukuran tingkat derajat panas yang dinyatakan dalam satuan derajat suhu. Panas-dingin dapat dirasakan lewat indera peraba, tetapi indera peraba tidak dapat mengukur   derajat panas-dingin suatu benda. Untuk mengetahui derajat panas-dingin suatu benda , maka benda dapat diukur dengan alat yang disebut termometer. 
       Suhu tubuh merupakan ukuran yang menggambarkan keseimbangan antara panas yang diproduksi oleh tubuh dengan panas yang dikeluarkan.
 Suhu tubuh diatur dengan mengimbangi produksi panas terhadap kehilangan panas yang terjadi. Bila laju pembentukan panas dalam tubuh lebih besar daripada laju hilangnya panas, timbul panas dalam tubuh dan suhu tubuh meningkat. Sebaliknya, bila kehilangan panas lebih besar, panas tubuh dan suhu tubuh menurun.
* Suhu Inti Versus Suhu Permukaan
Bila membicarakan suhu tubuh, biasanya yang dimaksud adalah suhu di bagian dalam, yang dinamakan suhu inti (core temperature) dan bukan suhu kulit atau jaringan tepat di bawah kulit. Suhu permukaan dapat meningkat dan turun sesuai dengan suhu sekitarnya.

Suhu tubuh manusia secara kasar dibagi menjadi 2 yaitu : suhu inti (core temperature) dan suhu perifer/suhu kulit.
•    Suhu inti adalah suhu pada jaringan / organ vital yang baik perfusinya (otak dan organ bagian dalam tubuh). Suhu ini relatif sama. Dengan kata lain, distribusi panas pada bagian-bagian tubuh ini cepat, sehingga suhu pada beberapa tempat yang berbeda hampir sama. .
•  Bagian tubuh di mana suhunya tidak homogen dan bervariasi sepanjang waktu merupakan bagian dari suhu perifer. Suhu kulit/ perifer berbeda dengan suhu inti, naik dan turun sesuai dengan suhu lingkungan.Pada gambar di bawah terlihat topografi temperatur kulit pada manusia. daerah tubuh maupun kepala mempunyai temperatur kulit lebih tinggi daripada anggota badan. Untuk mengetahui rata-rata temperatur kulit banyak metoda yang digunakan untuk menghitungnya. Tetapi metoda yang lazim dipakai untuk menghitung temperatur kulit rata-rata ialah :

0,07 T kepala + 0,14 T lengan+ 0,05 T tangan+ 0,07 T kaki + 0,13 T betis + 0,09 T paha + 0,35 T batang tubuh
Dengan mengetahui temperatur kulit rata-rata tersebut temperatur tubuh rata-rata dapat dihitung.
Zona suhu kulit rata-rata yang nyaman adalah 33°C to 34°C. Jika temperatur kulit turun sampai 32°C, orang akan merasa dingin. Seseorang kehilangan seluruh sensasi pada kulitnya bila suhu kulitnya pada suhu 15°C atau kurang. Ketika suhu kulit mencapai batas  35°C sampai 39°C, seseorang akan merasa hangat atau panas. Pada suhu 39°C sampai 41°C, seseorang akan merasa nyeri. Ketika suhu kulit lebih besar dari 41° C,mulai terasa nyeri terbakar. Kematian jaringan kulit segera terjadi apabila suhu kulit  45°C atau lebih.
Temperatur kulit yang rendah dengan bagian dalam tubuh yang normal menunjukkkan banyak panas yang hilang. Pada keadaan demikian diperlukan pemasangan alat pemanas/selimut.
Penderita dengan suhu kulit dan bagian dalam yang rendah menunjukkan terganggunya   mekanisme pengaturan suhu badan.
Penderita dengan temperatur kulit dan bagian dalam yang tinggi menunjukkan tubuh tidak sanggup   melepaskan panas ke sekelilingnya atau adanya produksi panas yang terlampau tinggi, misalnya bila terdapat infeksi.

Rabu, 27 April 2011

Diare


DIARE PADA BAYI DAN ANAK


Oleh : dr : Lusia


Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan bahkan kematian pada anak di negara berkembang seperti Indonesia.  Ini diakibatkan oleh karena diare dapat menyebabkan kehilangan banyak cairan (dehidrasi) yang keluar bersama tinja atau muntah yang menyertai diare. Karena itu jangan anggap sepele saat anak terkena diare. Segera ke dokter agar ditangani dengan tepat dan cepat.

I.                   Batasan


-         Diare(Mencret-mencret)

-         Adalah buang air besar encer  yang lebih sering daripada biasanya (>3 kali sehari) dengan/tanpa darah/ dan atau lendir pada tinja .
-     Frekuensi buang air  besar lebih dari empat kali (pada bayi baru lahir) atau lebih dari tiga kali (bayi usia 1 bulan ke atas dan anak) 



* Buang air besar dan buang air kecil 
- pada hari-hari pertama pada bayi baru lahir
* Sekitar 95 % bayi kencing dalam 24 jam pertama dan mengeluarkan mekonium (feses yang pertama keluar berwarna hijau kehitaman) dalam 24 jam pertama 
* Sebagian besar bayi akan kencing segera setelah lahir dan kemudian tidak kencing atau hanya 2-3 kali buang air kecil dalam 24 jam selama 3 hari pertama.
* Pada akhir minggu pertama bayi akan buang air kecil 5-6 kali per hari dan 3-4 kali buang air besar dengan konsistensi tinja mulai seperti pasta gigi dan warna mulai kekuningan. Namun buang air pada bayi ASI eksklusif sesungguhnya sangat bervariasi dalam hal frekuensi dan warna . 
- Pada bayi yang hanya menyusu ASI bisa saja terjadi mencret berulang kali tapi itu bukan diare. Umumnya bayi yang minum ASI, buang air 4-6 kali sehari berupa cairan lembek. Keadaan ini masih wajar bahkan jika kenaikan berat badannya baik, buang air besar  sampai 10-12 kalipun masih dianggap normal. Kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan sama sekali sepanjang bayi tetap aktif, menangis kuat dan menyusu dengan baik. Keadaan cair disebabkan oleh kekhasan ASI yang membuat kotoran bayi menjadi lembek sampai cair dan berubah-ubah warna.
ASI tidak menyebabkan diare karena higienis. Itulah sebabnya jangan berhenti memberi ASI kendati Si kecil berulang kali mengeluarkan kotoran yang cair atau berlendir.

- Tapi pada umumnya b.ab.
* Neonatus : umumnya b.a.b 5-6 x (minum ASI bisa 5-10 kali dalam sehari : susu formula : 2-3 kali sehari atau bahkan satu kali )
* 1-2 bulan 2-3 x sehari

Karakteristik tinja
Bayi yang mendapatkan ASI akan menghasilkan kotoran berwarna kuning muda, berair, dan sedikit mengandung bahan padat.
Saat mengeluarkan kotoran itu Anda mungkin akan terkejut mendengar suaranya yang keras dan ribut, tapi hal itu adalah normal.
Kotorannya akan berwarna lebih hijau jika ibunya mengonsumsi banyak sayuran atau makanan kaya zat besi
Pada bayi yang mendapatkan susu formula kotorannya cenderung semipadat, lunak, dan berwarna kuning kehijauan. Ini terjadi akibat pemecahan zat gizi kompleks(terutama zat besi dan lemak)     dari susu yang diminumnya.  .
Diare: Buang besar cair dan bersifat menyembur pada bayi.
II.                Penyebab Diare

Beberapa hal yang menyebabkan diare adalah :

§         Infeksi bakteri (Shigella, Salmonella, E-coli, Vibrio).
§         Infeksi virus (Enterovirus, Rotavirus, Adenovirus, Norwalk).
§         Infeksi parasit (protozoa: E.Histolytica, G.Lamblia, Balantidium coli ; Cacing perut : Askaris, Trikuris, Strongiloideus dan Jamur : kandida )
§         Malabsorbsi : Karbohidrat ( intoleransi laktosa), lemak atau  protein.
§         Makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
§         Reaksi obat.
§         Gangguan fungsi usus.
§         Psikologis (rasa takut dan cemas)
§         ISPA.
§         Imunodefisiensi.

III.             Gejala dan Tanda-tanda Diare

  • Buang air besar
  • Tinja berdarah
  • Nyeri perut
  • Kembung
  • Mual
  • Muntah ( dapat terjadi sebelum dan/ atau sesudah diare).
  • Demam
  • Kejang
  • Tanda-tanda dehidrasi.

Tanda-tanda dehidrasi pada anak :

§         Lesu atau mudah marah
§         Rasa haus
§         Jika menangis tidak mengeluarkan air mata.
§         Ubun-ubun besar cekung pada bayi.
§         Mata/pipi dan perut cekung.
§         Lidah, selaput lendir mulut kering sampai membiru.
§         Demam tinggi.
§         Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat.
§         Tekanan darah < 80 mmHg, sering tidak terukur.
§         Kulit tidak kembali rata jika ditarik dan kemudian dilepas.
§         Frekuensi buang air kecil menurun (popok yang digunakan tidak basah selama 3 jam atau lebih).
§         Kesadaran menurun.
IV.              Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan tinja.
  2. Pemeriksaan darah.
  3. Intubasi duodenum
V.                 Penularan dan Pencegahan

Penularan diare umumnya ditularkan melalui 4 F yaitu :
-         Food (makanan)
-         Faeces (tinja)
-         Fly (lalat)
-         Finger (jari tangan)

         Karena itu, pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutuskan rantai penularan tersebut.

Beberapa upaya yang dapat diterapkan adalah :

-         Penyiapan makanan yang higienis.
-         Penyediaan air minum yang bersih.
-         Kebersihan perorangan (cuci tangan sebelum makan).
-         Pemberian ASI eksklusif.
-         Lingkaran hidup yang sehat.

VI.              Penatalaksanaan

Ketika anak datang ke petugas kesehatan atau ke pusat kesehatan karena menderita diare, langkah pertama adalah menilai anak untuk mencari tanda-tanda dehidrasi.

Menilai Dehidrasi
Semua dengan anak diare harus diperiksa apakah menderita dehidrasi dan klasifikasikan status dehidrasi sebagai dehidrasi berat, dehidrasi ringan/sedang, atau tanpa dehidrasi dan beri pengobatan yang sesuai.

Ø      Rujuk ke Rumah Sakit Umum bila:

- Umurnya di bawah 6 bulan.
- Ada tanda dehidrasi. (dirujuk sesudah dehidrasi di tolong).

Ø      Penggantian cairan

Diare cair membutuhkan penggatian cairan atau elektrolit tanpa melihat penyebabnya.


Tujuan pengobatan adalah pengembalian cairan untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat (terapi rehidrasi) kemudian mengganti cairan yang hilang sampai diarenya berhenti (terapi rumatan)

Pengobatan rehidrasi.

  1. Diare tanpa dehidrasi : (mulai mencret).
Kriteria : Tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagai diare dehidrasi berat atau ringan/sedang.
Rencana terapi : mencegah dehidrasi dan mengobati diare(Rencana Terapi A)

Saat anak menderita diare dan belum terjadi dehidrasi, anak diberi minum sebanyak 5-10 ml per kg berat badan setiap kali mencret atau diberi minum sebanyak anak mau. Diare cukup diganti dengan makanan dan minuman yang ada di rumah tangga seperti cairan oralit, makanan cair (sup, kuah sayur, air tajin,   bubur tepung beras, minuman  yoghurt) atau air kelapa, air matang, teh manis.Cairan isotonik pocari sweat  dapat juga diberikan apabila oralit belum tersedia. Namun khusus bayi dan balita tidak disarankan pemberian cairan isotonik karena dikhawatirkan mengandung bahan-bahan tambahan (seperti pengawet), lebih baik berikan oralit atau sup atau air tajin . Air teh pahit kental ditambah garam seujung pisau (biasa 6-12 jam).
Teruskan pemberian larutan ini hingga diare berhenti.
Pada bayi muda :
ASI tetap diberikan.
Pemberian ASI merupakan pemberian cairan tambahan yang utama. Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.
Jika anak memperoleh ASI eksklusif, beri oralit atau air matang sebagai tambahan.
Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri 1 atau lebih cairan berikut ini : oralit, cairan makanan (kuah sayur, air tajin) atau air matang.
  1. Diare dengan dehidrasi ringan.
Cairan untuk pengganti yang diperlukan untuk keadaan ini adalah elektrolit oral ( melalui mulut) dengan formula lengkap (oralit). Kasus ini dapat ditangani oleh kader pembangunan desa baik di rumah tangga maupun di Posyandu.

  1. Diare dengan Dehidrasi Sedang
Pemberian larutan oralit kepada penderita hendaknya dilakukan oleh petugas kesehatan dari sarana kesehatan dan penderita perlu diawasi untuk beberapa jam lamanya (4-6 jam), kalau penderita sudah lebih baik keadaannya boleh pulang dengan dibekali beberapa bungkus oralit, sedangkan kalau jatuh ke dalam dehidrasi berat harus diupayakan pemberian cairan secara parenteral.
Sekarang pengelompokan yang ada : Diare dengan Dehidrasi Ringan/Sedang
Rencana terapi : mengobati dehidrasi dengan oralit (Rencana Terapi B)

Pada umumnya, anak-anak dengan dehidrasi sedang/ringan harus diberi larutan oralit, dalam waktu 3 jam pertama di klinik saat anak berada dalam pemantauan dan ibunya diajari   cara menyiapkan dan memberi larutan oralit.
Meskipun belum terjadi dehidrasi berat tetapi bila anak sama sekali tidak bisa minum oralit misalnya karena anak muntah profus, dapat diberikan infus IV secepatnya.

  1. Diare dengan dehidrasi berat.
Rencana terapi : mengobati segera dehidrasi berat (Rencana Terapi C)

Indikasi mendapat cairan  melalui infus:

  • Kasus berat.
  • Terapi peroral 6 jam gagal.
  • Muntah-muntah.
  • Tidak kooperatif.
   Ø Pemberian tablet Zinc untuk semua penderita diare

Zinc merupakan salah satu mikronutrien (mineral) yang penting dalam tubuh. 
Kemampuan zinc untuk mencegah diare terkait dengan kemampuannya meningkatkan sistim kekebalan tubuh. Semua yang berperan dalam fungsi imun, membutuhkan
zinc. Jika zinc diberikan pada anak yang sistim kekebalannya belum berkembang baik, dapat meningkatkan sistim kekebalan dan melindungi anak dari penyakit infeksi. Itulah sebabnya mengapa anak yang diberi zinc (diberikan sesuai dosis) selama 10 hari berturut - turut berisiko lebih kecil untuk terkena penyakit infeksi, diare dan pneumonia. Lebih 300 enzim dalam tubuh yang bergantung pada zinc. Zinc juga dibutuhkan oleh berbagai organ tubuh, seperti kulit dan mukosa saluran cerna. Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare. 


Pastikan semua anak yang menderita Diare mendapat tablet Zinc sesuai dosis dan waktu yang telah ditentukan kecuali Bayi Muda.

Dosis tablet zinc (1 tablet=20 mg)

Berikan dosis tunggal selama 10 hari :
- Umur 2-6 bulan : 1/2 tablet
- Umur ≥ 6 bulan : 1 tablet

Cara pemberian tablet Zinc :
- Larutkan tablet dengan sedikit air atau ASI dalam sendok teh (tablet akan larut ± 30 detik), segera berikan kepada anak.
Pada bayi : larutkan tablet zinc pada sendok dengan sedikit air matang, ASI perah atau larutan oralit.
Pada anak-anak lebih besar : tablet dapat dikunyah atau dilarutkan.
- Apabila anak muntah sekitar setengah jam setelah pemberian Zinc, ulangi pemberian dengan cara memberikan potongan lebih kecil dilarutkan beberapa kali hingga satu dosis penuh.
- Ingatkan ibu untuk memberikan tablet zinc setiap hari selama 10 hari penuh, meskipun diare sudah berhenti.
- Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus, tetap berikan tablet Zinc segera setelah anak bisa minum atau makan.
Jika Zinc dikonsumsi bersamaan dengan oralit.
Zinc aman dikonsumsi bersamaan dengan oralit. Zinc diberikan satu kali sehari sampai semua tablet habis (selama 10 hari) sedangkan oralit diberikan setiap kali anak buang air besar sampai diare berhenti. Jadi bisa, namun tidak dianjurkan, karena jika dilarutkan dalam oralit dikhawatirkan ibu akan menghentikan pemberian zinc jika diarenya berhenti.

Manfaat Zinc :
  
Berdasarkan studi WHO selama lebih dari 18 tahun, manfaat zinc sebagai pengobatan diare adalah mengurangi :
1) Prevalensi diare sebesar 34%; 
2) Durasi diare akut sebesar 20-25 %
3) Tingkat keparahan episiode diare.
4) Durasi diare persisten sebesar 24%, 
5) Angka kegagalan terapi dan kematian sebesar 40-42 % pada diare persisten
6) Memiliki efek profilaksis selama 2-3 bulan setelah pengobatan selama 10 hari.
7)    Insidens pneumonia sebesar 26%;
Pengobatan dengan zink pada pasien diare anak telah mendapat rekomendasi dari WHO dan UNICEF mulai bulan Mei 2004. Sejak tahun 2004, WHO dan UNICEF menandatangani kebijakan bersama dalam hal pengobatan diare yaitu pemberian oralit dan Zinc selama 10-14 hari. Hal ini didasarkan pada penelitian selama 20 tahun (1980-2003) yang menunjukkan bahwa pengobatan diare dengan pemberian oralit disertai zinc lebih efektif dan terbukti menurunkan angka kematian akibat diare pada anak-anak sampai 40%.

Efek samping: 

Muntah dan rasa kecap logam, namun keduanya sangat jarang dilaporkan.
Pemberian zinc dalam dosis sebanyak 10-20 mg sesuai usia seperti dosis yang dianjurkan seharusnya tidak akan menyebabkan muntah. Zinc yang dilarutkan dengan baik akan menyamarkan rasa metalik dari zinc. Sementara, efek peningkatan risiko infeksi saluran pernafasan bawah dapat ditekan apabila penggunaannya dilakukan bersamaan dengan suplementasi vitamin A. Namun tidak ada efek samping apabila dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan.


Jika anak minum lebih dari satu tablet zinc.
 

Kelebihan satu atau dua tablet karena tidak sengaja tidak akan membahayakan anak. Jika anak mengkonsumsi terlalu banyak tablet, dia mungkin akan memuntahkannya. Dan dengan memuntahkannya maka kelebihan zinc dalam tubuh sudah dinetralisir. Zinc dianjurkan hanya dikonsumsi satu tablet saja dalam sehari. Maka anjurkan ibu untuk menyimpan zinc jauh dari jangkauan anak-anak di rumah untuk mencegah hal ini. Bila dikonsumsi secara berlebihan, Zinc dapat menggangu metabolisme tubuh dan bahkan dapat mengurangi ketahanan tubuh.

Zinc boleh diberikan dengan obat lain, termasuk antibiotik, zinc dapat diberikan dengan obat-obatan lain yang sesuai dengan resep dokter di klinik atau pekerja kesehatan. Jika digunakan bersama dengan Fe, disarankan menggunakan zinc beberapa jam sebelum atau sesudahnya.



Obat Zink ini bisa dalam bentuk tablet dispersibel, sirup ataupun dry sirup.

Ø      Diet
Diberikan setelah muntah reda dan pemberian oralit telah dilakukan agar tidak muntah.
Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi

Untuk anak lebih dan sama 6 bulan atau telah mendapat makanan tambahan:
Makanan diberikan 6 kali sehari atau lebih sering untuk anak yang lebih kecil.(porsi kecil : makanan  yang banyak mengandung energi; jenis padi-padian tambahkan minyak 1 atau 2 sendok teh per  porsi dicampur dengan sayuran, kacang-kacang, daging atau ikan.
Makanan tersebut diberikan sampai diare berhenti dan diberikan makanan tambahan ( 1 1/2 kebutuhan )setiap hari selama 2-4 minggu (tergantung status gizi anak: tergantung umur dan berat badan ) .

Untuk bayi yang disusui dengan :
ASI: Pemberian ASI sekurang-kurangnya tiap 3 jam selama masa diare.
Susu Formula : Pemberian susu formula (a/rendah laktosa) dapat terus diberikan tetapi diselang seling dengan air putih / oralit diberikan paling sedikit setiap 3 jam.Atau susu formula yang diencerkan separuhnya (Bayi < 6 bulan)
 Intoleransi Laktosa : Susu bebas laktosa / rendah laktosa.
   Pada intoleransi laktosa sementara, sebaiknya diberikan susu rendah laktosa selama 1 bulan sedangkan pada penderita intoleransi laktosa primer (jarang di Indonesia) diberikan susu bebas laktosa.

Selama diare sebaiknya hindari buah-buahan tinggi serat dan bergas serta merangsang lambung,  pisang dapat diberikan selain mengandung kalium, kandungan zat pektin dalam pisang dipercaya mampu mengeraskan tinja. Jus apel/bubur apel, sari jeruk manis dapat pula diberikan untuk memberikan tambahan kalium.
 Contoh Pemberian Makanan  Untuk Anak di atas 1 tahun dengan BB > 7 kg :
Hari I : setelah rehidrasi segera diberi buah (pisang), biskuit, Breda (bubur realimentasi daging ayam), ASI ,oralit
Hari II : Breda, buah, biskuit, ASI.
Hari III.: Nasi tim, buah biskuit dan ASI.
Hari IV: Makanan biasa dengan ekstra kalori ( 1 1/2 kebutuhan )
Hari V : Dipulangkan dengan nasehat makanan seperti hari 4.

 Diit Pada Balita Diare
Agar pemberian diit pada anak dengan diare akut dapat memenuhi tujuannya, maka diperlukan persyaratan diit sebagai berikut:
a. Pasien segera diberikan makanan oral setelah rehidrasi atau keadaan telah memungkingkan, sedapat-dapatnya dilakukan dalam 24 jam pertama. Pemberian makanan secara dini penting untuk mengurangi sekecil mungkin perubahan keseimbangan protein-kalori.
b. Makanan cukup energi dan protein. Bila terjadi gizi kurang dapat diberikan diit energi lebih tinggi 25% dari kebutuhan normalnya dan tinggi protein.
c. Pemberian ASI diutamakan pada bayi. Pada anak yang mendapat susu formula dapat diberikan selang-seling dengan oralit sehingga terjadi pengenceran laktosa di dalam perut
d. Pemberian cairan dan elektrolit sesuai dengan kebutuhan menurut berat badan dan umur
e. Pemberian vitamin dan mineral dalam jumlah cukup
f. Makanan yang tidak merangsang (bumbu tajam dan tidak menimbulkan gas dan rendah serat)
g. Makanan diberikan bertahap mulai dengan yang mudah dicerna ke bentuk yang sesuai umur dan keadaan penyakit
h. Makanan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering
i. Khusus untuk penderita diare karena malabsorpsi diberikan makanan sesuai dengan penyebabnya.
j. Parenteral nutrisi dapat dimulai apabila ternyata dalam 5 hari atau 7 hari masukan nutrisi tidak optimal

Makanan yang dianjurkan:

•    Mudah ditelan, dicerna, dan diserap oleh sistem pencernaan, seperti bubur dan tim.
•    Makanan yang mengandung Lactobacillus, misalnya yoghurt.
•    Makanan yang mengandung pectin, seperti pisang dan apel (mentah maupun diolah), wortel, apricot, kacang polong, kentang. Pectin membantu penyerapan air.
•    Aneka jus dari jenis buah-buahan yang bersifat netral, seperti melon. Untuk mengganti cairan yang hilang, dapat juga diberikan air kelapa hijau.

Makanan yang dihindari:

•    Merangsang lambung, misalnya berbumbu merica, pedas, asam.
•    Berserat tinggi, seperti sayuran, dan jenis buah-buahan tinggi serat, seperti mangga, karena “memaksa” sistem pencernaan yang sedang terganggu. Juga, sayuran yang merangsang produksi gas, seperti kubis.
•    Makanan berlemak tinggi, seperti coklat, es krim, serta makanan bersantan, seperti kolak.


Ø      Antibiotika.

Hanya pada kasus tertentu secara klinik atau pemeriksan klinik atau pemeriksaan laboratorium yang jelas disebabkan oleh mikroba. (Pada neonatus/neonatus Berat Badan Lahir Rendah diare dengan demam  pemberian antibiotika harus agresif)

Ø      Obat simptomatis lainnya.

Pengganti Cairan Dengan ”Obat” Buatan Sendiri

Saat anak menderita diare, sebaiknya diberikan cairan oralit yang telah tersedia di pasaran. Bila tidak tersedia dapat dibuat larutan garam gula atau larutan garam tajin.

Cara membuat:

LARUTAN GARAM GULA :

1 sendok teh gula pasir + ¼ sendok teh garam dapur dan 1 gelas (200 ml) air matang
Lalu diaduk rata.

LARUTAN GARAM TAJIN

Tepung beras 6 sendok makan munjung (100 g), 1 sendok teh (5g) garam dapur, 2 liter air, lalu dimasak hingga mendidih.

ORALIT ANEKA RASA

1 l air panas
1 sdm gula putih
1 sdm garam dapur
¼ gelas air jeruk manis
2 sdm madu atau 2 sdm sirup
Campur dan aduk rata

Menu Diare 

Air KLAMADU
Bahan :
2 liter air  kelapa muda
2 ruas jahe panggang, memarkan
500 g  gula aren
5 butir kelapa muda, keruk dagingnya
10 sdm madu
Cara Membuat
- Rebus air kelapa, jahe dan gula hingga mendidih dan gula larut. Angkat, saring dan biarkan dingin. Tambahkan madu ,aduk rata.
- Masukkan kerukan daging kelapa muda ke dalam gelas saji, tuang campuran air kelapa muda yang telah direbus.
- Sajikan hangat sebagai pengganti oralit.

NB :*   Oralit : Formula lengkap mengandung NaCl, NaHCO3, KCL dan Glukosa.
       *   Formula Sederhana (tidak lengkap) hanya mengandung NaCl dan sukrosa atau karbohidrat lain, misalnya larutan gula garam, larutan air tajin garam, larutan tepung beras garam dan sebagainya untuk pengobatan pertama di rumah pada semua anak dengan diare akut baik sebelum ada dehidrasi (kekurangan cairan) maupun setelah ada dehidrasi ringan.  
         * Oralit Formula Baru : dapat mengurangi rasa mual dan muntah.



No    Oralit lama (WHO/ UNICEF 1978)    Oralit formula baru (WHO/ UNICEF 2004)
1.      NaCl : 3,5 g                                                NaCl : 2,6 g                 

2.      NaHCO3 : 2,5 g                                         NaHCO3 : 2,9 g
3.      KCl : 1,5 g                                                  KCl : 1,5 g
4.     Glukose: 20 g                                             Glukose: 13,5 g
5.      Na : 90 mEq/l                                             Na : 75 mEq/l
6.      K : 20 mEq/l                                               K : 20 mEq/l
7.     HCO3 : 30 mEq/l                                       Citrate : 10 mEq/l
8.     Cl : 80 mEq/l                                              Cl : 65 mEq/l
9.     Glukose : 111 mmol/l                                  Glukose : 75 mmol/l
Osmolar: 331 mmol/l                                      Osmolar : 245 mmol/l

 
  Terlihat bahwa oralit formula baru memiliki kadar natrium dan glukosa lebih  rendah (osmolaritas rendah).  
  * Jangan dulu berikan madu di bawah umur 2 tahun
Madu yang dibolehkan untuk bayi dan balita hanya yang refined dan purifed with no additive (sudah dibersihkan dan dimurnikan). Terlebih buat bayi, selain harus madu yang steril, juga jangan madu palsu karena bisa menimbulkan berbagai reaksi.
Madu asli yang masih ada lilin-lilin atau sarang tawonnya ditakutkan ada bahaya mikrobiologisnya, yaitu spora dari clostridium botulinum.


Cara Pembuatan dan Pemberian Oralit:
       - Cuci tangan hingga bersih.
-         Gunakan gelas, cangkir , teko , panci ,botol, sendok atau peralatan lain ( yang bersih.
-         Gunakan air minum, baik air putih atau air teh atau air susu yang telah masak, jangan memakai air sedang mendidih atau sedang direbus.
-         Masukkan 1 bungkus oralit (kemasan untuk 200 cc) ke dalam 1 gelas (200 cc) yang telah berisi air minum ( air hangat kuku) tadi dan aduk hingga larut betul.
-         Larutan setelah  lebih dari 24 jam jangan diminum lagi, buatlah larutan yang baru . 
-         Pada prinsipnya berikan oralit sebanyak anak mau minum (ad libitum) dan dapat dihentikan bila penderita telah segar kembali dan tidak diare/mencret atau sampai penderita tidak merasa haus lagi.Jangan takut kelebihan, sebab akan terbuang lewat air seni.Sebaliknya, jangan sampai kurang..
-         Mula-mula berikan sedikit-demi sedikit agar anak jangan muntah. Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak di bawah umur 2 tahun dan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua. Jangan menggunakan dot atau botol karena merangsang lagit-langit tenggorokan sehingga akan menimbulkan muntah.
-         Bila anak muntah, tunggulah selama 5-10 menit untuk kemudian diberikan lagi sedikit demi sedikit (misalnya sesendok tiap 2-3 menit).
-         Bila kelopak mata bengkak, hentikan pemberian oralit dan berikan air masak atau ASI. Beri oralit kembali sesuai jumlah yang ditentukan untuk tiap tingkat derajat dehidrasi bila bengkak telah hilang.
-         Sebaiknya penderita secepatnya di bawa ke pos /sarana kesehatan terdekat untuk dinilai   derajat dehidrasi menurut skor derajat dehidrasi misalnya menurut skor King, skor dehidrasi WHO , gejala klinik atau tonisitas darah. Setelah penentuan skor dehidrasi akan diberikan petunjuk penggunaan oralit untuk derajat ringan dan sedang. Dan di infus bila dehidrasi derajat berat.
- Pemberian oralit harus selalu dilakukan di mana saja, baik ketika di rumah maupun di RS.


Pemberian Oralit

Diare Tanpa Dehidrasi
* Penanganan diare di rumah

Kebutuhan oralit per kelompok Umur

Umur
Jumlah oralit yang diberikan tiap b.a.b
Jumlah oralit yang disediakan di rumah
<12 bulan
50-100 ml
400 ml/hari (2 bungkus)
1-4 tahun
100-200 ml
600-800 ml/hari, 3-4 bugkus
> 5 tahun
200-300 ml
800-1000 ml/hari,4-5 bungkus
Dewasa
300-400 ml
1200-2800 ml/hari

Oralit yang di bawa pulang diberikan cukup untuk 2 hari.
Ibu diajari cara mencampur dan memberikan oralit. Ibu diberikan 6 bungkus oralit (200 ml) untuk digunakan di rumah.
Pemberian cairan tambahan diteruskan sampai diare berhenti.
Untuk Diare Ringan/sedang

Jika Berat Badan tidak diketahui Untuk mempermudah pemberian oralit di lapangan, berikan oralit paling sedikit sesuai tabel
DR 25-50 ml/kg BB
DS 100 ml/kg BB
Jumlah oralit yang diberikan pada 3 jam pertama(75 ml/kgBB)

Umur
<1 tahun
1-5 tahun
>5 tahun
Dewasa
Jumlah oralit
300 ml
600 ml
1200 ml
2400 ml


SISTEM PENILAIAN (SKOR) DEHIDRASI
MENURUT WHO



BAGIAN TUBUH YANG DIPERIKSA


NIlAI UNTUK GEJALA YANG DITEMUKAN


1


2

3

a. Keadaan Umum


Baik

Gelisah ,haus,lemah,ngantuk


Mengigau,presyok,syok,koma


b. Mata


Normal

Cekung

Cekung sekali,


c. Mulut


Normal



Kering


Kering sekali

d. Pernapasan


20-29 kali/menit


30-40 kali/menit

41-60 kali/menit


e. Kekenyalan kulit


Baik


Menurun/kurang

Jelek

f. Denyut nadi


<120 kali/menit

120-140 kali/menit


>140 kali/menit



KETERANGAN :
derajat dehidrasi : skor dehidrasi WHO modifikasi FKUH


Tanpa  Dehidrasi  : skor ≤ 6
Dehidrasi ringan-sedang  : skor 7-12
Dehidrasi berat     : skor ≥ 13 

Deteksi dehidrasi via Urine 
Kurang tidaknya cairan yang dikonsumsi dapat dilihat dari warna urine.
Untuk mengetahui hal tersebut dapat digunakan kartu PURI (Periksa Urine Sendiri)
Bila warna urinenya putih jernih sampai sedikit kuning muda, itu pertanda tubuh cukup air(terhidrasi baik).
Bila warna urinenya kuningnya semakin pekat dan jumlahnya sedikit dari biasanya, pertanda tubuh sudah kekurangan air, segeralah minum.





Cara Menentukan Kekenyalan Kulit Perut (Turgor kulit) 


Kulit perut dijepit antara ibu jari dan telunjuk selama 30-60 detik, kemudian dilepas.

Jika kulit kembali normal dalam waktu :

1 detik    : turgor agak kurang (dehidrasi ringan)
1-2 detik : turgor kurang (dehidrasi sedang)
2 detik     : turgor sangat kurang (dehidrasi berat) 


Turgor Kulit
Cara memeriksa dengan cubitan kulit


- Turgor kulit biasanya diperiksa pada kulit abdomen (perut), dengan mencubit kulit secara ringan dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk dan tidak menggunakan ujung jari, karena dapat menimbulkan rasa sakit. Tangan diletakkan sedemikian rupa sehingga lipatan cubitan kulit sejajar tubuh bayi(memanjang dari atas ke bawah-tidak melintang tubuh bayi). Angkat semua lapisan kulit dan jaringan di bawahnya dan membiarkannya kembali.
- Bila turgor kulit buruk, maka cubitan akan lama kembali , misalnya pada dehidrasi berat atau malnutrisi.
- Pada bayi yang tampaknya masih normal, dalam keadaan ini maka harus dicari tanda dehidrasi yang lain.