Selasa, 13 Januari 2015

Obat Herbal




Obat Herba sebagai Obat Alternatif
Racikan obat herba asli Indonesia lebih dikenal dengan nama jamu. Ramuan tradisional tersebut diakui oleh kebanyakan masyarakat Indonesia bermanfaat bagi kesehatan. Namun, meski dipercaya secara turun temurun, tingkat keamanan jamu belum terbukti secara ilmiah. Jamu diharapkan bisa tersaintifikasi. Saintifikasi jamu adalah upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Tujuannya untuk memberikan landasan ilmiah (evidence based) terkait penggunaan jamu secara empiris.
Ikatan Dokter Indonesia semula menolak jamu sebagai obat untuk menyembuhkan pasien, namun kini IDI sudah bisa menerima pemanfaatan jamu sebatas untuk menunjang kesehatan, sejauh sudah tersaintifikasi.
Mengapa pengobatan herba tradisional kini menjadi perhatian pemerintah? Indonesia memiliki lebih dari 9000 tanaman obat dan 30 ribu jenis tanaman di dunia yang diketahui memiliki manfaat kesehatan. Meski belum semua telah diteliti lebih lanjut, banyak diantaranya sudah dipercaya turun temurun memiliki khasiat menyembuhkan penyakit. Hal ini seharusnya menjadi modal bangsa kita untuk melestarikannya, sehingga tidak hanya bergantung pada pengobatan modern.
Obat tradisional terdiri dari jamu, obat herba terstandar dan fitofarmaka. Perbedaan obat herba terstandar dengan fitofarmaka terletak pada pengujian terhadap manusia. Obat herba terstandar baru dalam tahap diujikan kepada hewan percobaan, sedangkan fitofarmaka telah diujikan kepada manusia. Tidak heran bila jumlahnya masih sedikit karena biaya sangat mahal.
Untuk memilih obat tradisional impor, disarankan untuk memerhatikan kemasan produk. Produk herba impor yang sudah terdaftar di BPOM pasti sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia karena itu syarat wajib dari BPOM.
Tidak semua penyakit
Meski berkhasiat menyembuhkan, nyatanya obat herba tidak bisa digunakan untuk semua penyakit.  Penyakit-penyakit yang membutuhkan operasi terutama yang emergency seperti  hernia yang  tidak bisa menggunakan obat herba. Untuk penyakit atau kondisi gawat darurat seperti syok, dehidrasi berat atau hipoglikemia berat, tentu lebih aman menggunakan obat medis yang telah diketahui detail khasiatnya. Hal ini terkait dengan cara kerja herba yang bekerja lebih lambat daripada obat kimia (karena bukan senyawa aktif). Obat herba lebih tepat digunakan untuk penyakit metabolisme seperti diabetes melitus dan kolesterol.
Obat herba untuk anak
Kurangnya penelitian ilmiah pada obat tradisional artinya bahwa beberapa masalah-masalah potensial yang berkaitan dengan terapi alternatif sulit untuk diidentifikasi. Dan lagi, penelitianyang telah dilakukan menggunakan orang dewasa sebagai subyek tes. Hanya sedikit hal yang diketahui tentang efek dari pengobatan alternatif bagi anak-anak. Meskipun pendekatan yang dilakukan seperti doa, pemijatan dan perubahan gaya hidup umumnya merupakan cara pengganti yang relatif aman untuk perawatan medis; beberapa terapi- terutama penyembuhan dengan tumbuh-tumbuhan- dapat menyebabkan risiko kesehatan serius.
Alami tidak berarti sama dengan “bagus” atau “aman”, dan banyak orang tua tidak mempertimbangkan kemungkinan kalau pengobatan herba sebenarnya bisa menyebabkan masalah kesehatan anak-anak mereka. Mengobati anak tanpa konsultasi dengan dokternya akan sangat membahayakan.
Para orang tua mungkin juga memberikan tumbuhan obat kepada anak-anak mereka lebih dari jumlah yang direkomendasikan, karena menurut pemikirannya obat tersebut bersifat “alami”, besarnya jumlah yang diberikan tidak akan memengaruhi kesehatannya. Padahal banyak tanaman yang mengandung bahan kimia kuat, ternyata kira-kira 25% dari resep obat berasal  dari tanaman.
Risiko yang paling besar bisa terjadi jika perawatan medis umum ditunda atau ditolak karena lebih memilih diterapi alternatif. Penyakit seperti diabetes dan kanker membutuhkan perawatan dokter. Mempercayakan pengobatan pada terapi alternatif untuk masalah kronis dan kondisi yang akut akan memperparah kondisi kesehatan anak Anda.
Jika Anda ingin mencoba obat alternatif untuk anak Anda, Anda seharusnya mendiskusikan dulu pengobatan yang diajukan dengan dokter atau membicarakan dengan apoteker untuk memastikan itu aman dan tidak berlawanan dengan pengobatan umum yang diterima anak Anda. Dokter anak Anda juga bisa memberikan informasi mengenai pilihan pengobatan dan mungkin merekomendasikan ke spesialis yang bereputasi. Dengan mengkoordinasikan antara pengobatan alternatif dan umum Anda tidak perlu memilih salah satu darinya. Yang penting Anda bisa menerima yang terbaik dari kedua pengobatan tersebut.
Intinya mengenai jamu, demi keamanan anak, hindari pemanfaatan jamu atau pengobatan yang belum mendapat pengakuan dari lembaga-lembaga pengawasan obat dan tidak diperintahkan oleh dokter.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.