Rabu, 17 Agustus 2016

imunisasi



Imunisasi

Bayi dan anak-anak sangat rentan terhadap serangan penyakit karena daya tahan tubuhnya belum kuat. Diperlukan imunisasi untuk memberikan perlindungan, pencegahan, sekaligus membangun kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit menular maupun penyakit berbahaya yang dapat menimbulkan kecacatan tubuh bahkan kematian.

Istilah- istilah
Istilah imunisasi dan vaksinasi oleh kebanyakan masyarakat dipakai secara bersamaan/dipertukarkan/diartikan sama, walaupun sebenarnya artinya tidak sama.
Imunisasi adalah upaya membuat individu menjadi kebal terhadap suatu penyakit infeksi atau proses induksi imunitas secara buatan,dapat melalui vaksinasi atau pemberian antibodi.
Vaksinasi adalah upaya memberikan vaksin ke dalam tubuh untuk menimbulkan imunitas terhadap penyakit tertentu,  pemberian vaksin dengan cara ditetes maupun disuntik.
Vaksinasi merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja/imunisasi aktif  dengan pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) oleh sistem imun di dalam tubuh.
 Vaksin adalah suatu produk yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membuat kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Tujuan imunisasi
Tujuan imunisasi adalah untuk melindungi individu terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, mengurangi prevalensi penyakit pada masyarakat dan akhirnya mengeradikasi penyakit tersebut.
Pemberian vaksin pertama kali dilakukan oleh Edward Jenner pada tahun 1796, untuk mencegah penyakit cacar atau variola. Hal tersebut merupakan cikal bakal imunisasi. Dengan imunisasi, penyakit cacar yang sebelumnya merupakan penyakit infeksi yang amat ditakuti, telah berhasil dieradikasi tahun 1980. Saat ini pula dunia hampir bebas penyakit polio. Sehingga tidak berlebihan jika imunisasi disebut sebagai sumbangan terbaik dari para ilmuwan bagi dunia. Imunisasi telah menorehkan catatan manis bagi sejarah kesehatan.

Keuntungan/manfaat imunisasi
Imunitas yang terbentuk oleh beberapa vaksin akan berlangsung seumur hidup, cost effective karena relative murah dan efektif dibanding upaya pencegahan lainnya.
Imunisasi juga aman. Efek samping atau kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang serius sangat jarang terjadi, jauh lebih jarang daripada komplikasi yang timbul akibat penyakit bila anak tidak diimunisasi.
Menciptakan kekebalan komunitas. Vaksin akan melindungi anak dari penyakit tertentu. Jika suatu saat kuman menyerang, si kecil tidak akan jatuh sakit. Otomatis dia tidak akan menularkan penyakit kepada orang-orang di sekitarnya. Semakin banyak anak yang diimunisasi, kemungkinan kejadian penyakit semakin kecil. Sehingga bisa dikatakan bahwa selain bermanfaat untuk melindungi diri sendiri, imunisasi juga bermanfaat untuk menciptakan kekebalan komunitas atau biasa disebut herd immunity.
Mampu melenyapkan suatu penyakit dari muka bumi.

Jenis imunisasi
1.      Imunisasi pasif
Imunisasi pasif diperoleh dengan pemberian, pemindahan atau transfer antibodi spesifik, proteksi segera terjadi setelah pemberian antibody namun imunitas akan menghilang dengan berjalannya waktu.
Imunisasi pasif yang diperoleh secara alami adalah transfer antibodi (imunologi G) dari ibu kepada janin pada kehamilan trimester ketiga melalui plasenta, atau transfer antibody (immunoglobulin A), melalui kolostrum.
Imunisasi pasif yang diperoleh secara buatan adalah pemberian immunoglobulin pada infeksi akut seperti tetanus, difteri, rabies, pemberian HBIg (hepatitis B immune globuline) pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif.
2.      Imunisasi aktif
Imunisasi aktif diperoleh dari  masuknya kuman patogen ke dalam tubuh.
Imunisasi aktif dapat diperoleh secara alamiah melalui pajanan kuman patogen yang mengakibatkan infeksi subklinis atau klinis, selanjutnya menimbulkan respons imun protektif terhadap kuman pathogen bila terpajan kembali di kemudian hari.
Imunitas aktif dapat diperoleh secara buatan melalui pemberian vaksin yang mengandung kuman hidup yang dilemahkan atau inaktif atau komponen kuman tersebut.

Program imunisasi
Imunisasi yang dimasukkan ke dalam program nasional suatu Negara selalu disesuaikan dengan kondisi penyebaran penyakit di Negara tersebut. Program imunisasi di Negara satu dengan yang lain berbeda.
Program imunisasi di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1977.

Program Inunisasi Nasional
Dikenal sebagai Pengembangan Program Imunisasi(PPI) atau expanded program on immunization (EPI)
Sebelum tahun 2013, vaksin yang diberikan dalam program imunisasi nasional adalah:
Hepatitis B
BCG
DTP
Polio
Campak
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI no 42 tahun 2013, imunisasi Haemophilus influenza tipe b dimasukkan dalam program imunisasi nasional.
Menurut peraturan tersebut, imunisasi rutin merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan secara terus menerus sesuai jadwal. Imunisasi rutin terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan.
Imunisasi dasar meliputi:
Hepatitis B
BCG
DTP
Hib (vaksin Hib yang digunakan adalah DTP-HB-Hib yang dikenal sebagai Pentabio)
Polio
Campak
Imunisasi lanjutan
Imunisasi lanjutan merupakan imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat kekebalan atau untuk memperpanjang masa perlindungan.
Imunisasi lanjutan diberikan pada usia bawah tiga tahun (batita), anak usia sekolah dasar, wanita usia subur.
Imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak balita adalah imunisasi DTP-HB-Hib dan campak.
Imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar diberikan dalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah  (BIAS) yaitu pada murid sekolah dasar kelas 1,2 dan 3.

Imunisasi Rekomendasi IDAI
Ada dua program imunisasi berdasarkan Rekomendasi IDAI.
Program Pengembangan  Imunisasi (PPI) yang diwajibkan (imunisasi program nasional) dan Program imunisasi non-PPI yang dianjurkan.
Imunisasi tambahan/pilihan/yang dianjurkan oleh PP IDAI, yaitu imunisasi:
Pneumokokus
Rotavirus
MMR
Hepatitis A
Influenza
Demam tifoid
Cacar air
Human Papilloma Virus
Imunisasi tambahan tersebut di atas (+ imunisasi Japanese Encephalitis) menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI no 42 tahun 2013 disebut sebagai imunisasi pilihan yang merupakan imunisasi yang dapat diberikan kepada seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dari penyakit menular tertentu. 
Jadwal Imunisasi
Imunisasi harus diberikan sesuai jadwal imunisasi yang dianjurkan untuk mendapatkan respons imun yang optimal.selain itu jadwal imunisasi diperlukan untuk keseragaman dalam pelaksanaan imunisasi.
Sebagai acuan akurat,Anda bisa berpegang pada jadwal imunisasi yang resmi dibentuk oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal tersebut secara berkala akan dievaluasi untuk kemudian disempurnakan. Penyempurnaan ini didasarkan pada hasil penelitian tentang perubahan pola penyakit, kebijakan Departemen Kesehatan, WHO, kebijakan global, dan penyediaan vaksin di Indonesia.
Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI terbaru adalah jadwal imunisasi sesuai rekomendasi IDAI tahun 2016.

Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI 2016

File gambar belum diperoleh (menunggu he he he)
 
Dalam pelaksanaannya jadwal imunisasi ini sebetulnya tidak kaku. Jika kondisi kesehatan anak tidak memungkinkan (tidak fit) pelaksanaan imunisasi bisa saja diundur. Tapi, setelah si kecil kembali pulih, imunisasi susulan (catch up immunization) harus sesegera mungkin dilakukan.

Tips sebelum vaksinasi
1.      Jika ada hal yang ingin Anda tanyakan, dapatkan jawabannya dari dokter anak sebelum waktu imunisasi. Dengan demikian Anda akan merasa lebih siap.
2.      Persiapan:
·         Bawa buku kesehatan anak.
·         Bawa benda kesayangan anak, seperti mainan, boneka atau selimutnya.
·         Pakaikan anak baju yang mudah dilepas seperti kaus dan celana longgar.
·         Bersiaplah, mungkin anak akan mendapatkan tiga suntikan atau lebih.
·         Persiapkan camilan atau hadiah jika proses imunisasi berlangsung lancar.
3.      Tenangkan diri Anda. Beritahu dokter atau perawat bahwa Anda cemas atau khawatir, mungkin mereka bisa menolong. Jika Anda terlihat cemas, anak akan bisa merasakannya dan jadi ikut cemas.
4.      Pegang anak saat disuntik. Dokter atau perawat akan membantu Anda memegang anak dengan aman. Jika anak Anda  terlalu banyak bergerak, jarum suntik mungkin akan keluar terlalu cepat sehingga anak perlu disuntik lagi.
5.      Jika anak Anda masih bayi, bicaralah dengan nada lembut, sentuh tangannya atau peluk dia. Lihat mata anak dan tersernyumlah. Jika Anda membawa batita untuk diimunisasi, ajak dia bicara, menyanyi, atau bercerita. Biarkan ia memeluk boneka kesanyangannya. Bantu anak bernapas perlahan sebelum disuntik, tunjuk benda dalam ruangan, katakana bahwa suntikan akan sedikit terasa sakit namun sakitnya akan segera hilang.
6.      Peluk dan sentuh bayi Anda seusai disuntik. Menyusui juga bisa menenangkan bayi. Berikan anak hadiah khusus, tidak perlu yang mahal.
7.      Jangan langsung pulang. Anda biasanya disuruh tetap di klinik selama 15 menit setelah suntikan.
8.      Sebelum meninggalkan klinik, tanyalah:
Apa efek samping imunisasi yang didapatkan anak?
Apa yang harus Anda lakukan terhadap efek samping itu?
Apa gejala lain yang Anda harus khawatirkan?
Siapa yang bisa Anda hubungi jika Anda butuh bantuan?
Kapan jadwal imunisasi berikutnya?
Catat jadwal kunjungan berikutnya di buku kesehatan anak.

Di Indonesia vaksin-vaksin yang ada dapat melindungi penyakit-penyakit:
Penyakit viral: rabies, campak, rubella, Yellow fever, mumps, hepatitis A, hepatitis B, influenza, Japanese encephalitis, poliomielitis. kanker leher rahim (oleh HPV) dan dengue. Diare (oleh virus rotavirus).
Penyakit bakterial: demam tifoid, difteri, HiB, infeksi pneumokokal, pertusis, dan tetanus.






 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.